Ringkasan Khutbah Jum’at
Masjid Pendidikan Insantama

Taqwa adalah satu satunya tolok ukur yang menjadikan muslim itu mulia atau tidak di sisi Allah SWT. Suatu ketika Umar ra bertanya kepada sahabatnya, Ubaidillah ra.
“Wahai Ubaidillah apa yang engkau pahami tentang taqwa?” Lalu Ubaidillah balik bertanya, “Wahai Khalifah Umar, pernahkah engkau berjalan di jalan yang banyak durinya?” Khalifah Umar menjawab, “Ya aku pernah”.
“Lalu apa yang engkau lakukan di lorong yang banyak duri tersebut?” Tanya Ubaidillah. Khalifah Umar menjawab, “Tentu aku akan berhati-hati dan waspada jangan sampai kakiku menginjak duri itu dan jangan sampai duri itu melukai kakiku.”
“Itulah yang dimaksud dengan taqwa Ya Khalifah”, tegas Ubaidillah ra.
Jadi taqwa adalah sebuah sikap waspada dan kehati-hatian jangan sampai kita melanggar aturan Allah SWT. Taqwa seperti inilah yang akan menjadikan derajat kita mulia di sisi Allah SWT.

Beberapa hari ini kita melihat saudara saudara kita yang mengalami kebanjiran. Rumah yang dibangun bertahun-tahun, mobil, dan jembatan rusak. Buku-buku, dokumen berharga, uang habis semua. Ini memunjukkan bahwa gampang bagi Allah utk mengambil sesuatu yang dititipkan kepada kita. Bahkan mudah bagi Allah untuk mengambil segala harta termasuk nyawa kita hanya dalam sekejap.
Tetapi sayang, tidak sedikit dari umat Rasulullah Muhammad ini yang silau dengan gemerlap harta dan dunia sehinga mereka mengejar kecintaan terhadap dunia dan meninggalkan kecintaannya terhadap Allah SWT.
Padahal Al Quran sudah menegaskan di Surat Ali Imran ayat 14:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Banyak orang yang terlena mengejar sesuatu yang fana dan melupakan yang abadi.
Oleh karena itu Rasulullah berwasiat dengan sabdanya:
“Wahai manusia, pastilah seseorang diantara kalian tidak akan mati sampai sempurna rizkinya. Maka jangan meremehkan rizki yang dating dari Allah SWT… Maka bertaqwalah kalian kepada Allah. Wahai segenap manusia perbaikilah cara kamu meminta kepada Allah SWT, ambilah apa yang dihalalkan Allah dan tinggalkanlah apa yang diharamkan Allah Rabbul ‘Alamin.”

Orang boleh kaya, orang boleh berpunya tetapi jangan sampai melanggar aturan Allah SWT. Karena di saat itulah Allah akan mencabut keberkahan dari apa yang mereka kumpulkan.

Cinta harta biasanya bergandeng dengan cinta kekuasaan.. Disinilah awal dari penyelewengan. Korupsi tidaklah dilakukan oleh orang kere dan tak punya, namun korupsi dilakukan oleh orang-orang yang terpandang dan bergaji.

Mengapa mereka korupsi, karena mereka memiliki kecintaan terhadap harta dan kekuasaan. Padahal kita tahu bahwa kekuasaan itu seharusnya digunakan untuk mengurusi agama dan memakmurkan dunia.

Siapapun diantara kita yang memiliki harta dan jabatan maka ingatlah bahwa itu adalah amanah dan buah penyesalan.

Tidaklah satu orangpun yang mengurusi urusan kaum muslimin, kemudian dia mati dan dia menipu rakyatnya, menterlantarkan urusan rakyatnya, kecuali akan diharamkan surga baginya.

3 Januari 2020
Dr. KH. Muhammad Rahmat Kurnia