Positive Feeling: Ikhlas Penguat Kehidupan

-

Positive feeling dimulai dari sifat ikhlas, bersih-bersih diri yang selalu mengupayakan melepaskan diri dari sifat-sifat negatif.

Membersihkan perasaan, akan berdampak pada pikiran yang bersih. Dengan sengaja melepaskan diri dari segala hal yang negatif, semisal sombong, rakus, apatis, kemarahan, ketakutan, kesedihan, dan sebagainya.

Maka akan timbul ketenangan, semangat, cinta, kedamaian, dan pencerahan. Merupakan energi kebangkitan yang besar, bermanfaat untuk kebaikan sekaligus kekuatan hidup.

Memahami, sesuatu yang terjadi dan yang akan terjadi semuanya mutlak atas kehendak Allah, yang baik ataupun yang dianggap buruk. Hingga mampu mengikhlaskan diri terhadap yang disukai ataupun tidak disukai.

Manusia hanya mengharapkan yang terbaik saja, dengan segala upayanya. Namun, semuanya dikembalikan kepada Allah yang Maha Menentukan.

“Tidak ada daya dan upaya kecuali terjadi atas kehendak Allah.” (HR. Muslim).

Perasaan ikhlas sesuatu yang dapat diusahakan sebagai kekuatan agar mampu menerima segala hal yang baik ataupun buruk. Meyakini, itulah yang diberikan Allah. Merasa segala bentuk kejadian adalah ujian hidup, tanpa berburuk sangka kepada-Nya. Ia selalu menyerahkan sesuatunya kepada Allah.

Sekalipun terkena musibah, Ia meyakini … “Sesungguhnya kami itu milik Allah dan akan kembali kepada Allah SWT.” (Al-Baqarah 2:156).

Memasrahkan diri, ikhlas. Sekalipun diterpa hal berat yang dahsyat menghantam.

Meski sebuah peristiwa dianggap buruk, adalah pesan baik bagi seseorang apabila ikhlas dan mau mengambil pelajarannya. Bagi orang ikhlas semuanya menjadi kebaikan. Tak ada yang buruk.

Pembersihan diri bagi muslim
dengan banyak istighfar, taubat, berzikir, membaca Al Quran dan memperhatikan maknanya, puasa, mendoakan sesama, dan segala bentuk ibadah lainnya karena Allah. Juga selalu mengimajinasikan (menggambarkan) yang baik-baik saja dalam benaknya mengenai kehidupan.

Perasaan positif menghasilkan pikiran cerdas yang mengarah pada perbuatan positif yang bijaksana. Syarat dengan “keikhlasan” yang selalu dikaitkan dengan Sang Pencipta.[]