Interaksi dengan Qur’an; Kunci Surga Meraih Ridho Allah

-

Kajian Malam Jumat

Pemateri: Dr. Rahmat Kurnia

Kamis 10 Agustus 2023

 

عن أبو سعيد الخدري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال

 : ( مَنْ قَالَ : رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا ، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا ، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا ، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ) رواه أبو داود والنسائي

Dari Abu Sa’id al-khudri radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang membaca: ‘Rodhitu billahi robba wabil islami dina wabi muhammadin rosula’ maka wajib baginya surga.” (HR. Abu Dawud dan An Nasa’i.)

 

Ridho artinya ikhlas menerima segala sesuatu yang menjadi keputusan. Saat kita telah ridha Allah sebagai rabb kita maka konsekuensinya adalah kita ridha untuk menataati segala aturan yang Allah berikan. Saat kita ridha islam sebagai agama maka kita harus bangga dan menjadi muslim yang taat, telebih dalam salah satu ayatNya Allah telah menyatakan bahwa islam agama penyempurna yang sempurna. Demikian juga saat kita ridha nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul maka kita siap untuk meneladani dan menerapkan semua hal yang rasul tetapkan. Jika kita bersungguh-sungguh dalam melakukan hal diatas maka Allah akan menjanjikan surga baginya.

Hadits di atas menjadi salah satu booster kita bahwa salah satu kunci surga yakni mendapatkan ridho Allah. Lantas bagaimana cirinya jika Allah sudah ridha terhadap kita?. Berikut tanda tanda Allah ridho terhadap hamba-Nya:

  1. Menyibukkan diri dalam kebaikan.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (Al Jawabul Kaafi hal 156)

  1. Ikhlas dan ridho terhadap segala ketetapan Allah

Saat kita bersemangat dalam melaksanakan berbagai amal shalih, menerima dengan ikhlas atas qadha-Nya maka  رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ “Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya” (QS. Al-Bayyinah)

  1. Mendapatkan ridho orang tua

رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ

Ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, Hakim)

  1. Dicintai oleh sesama manusia

Dengan demikian, menjadi penting untuk memahami dan mengamalkan Al-Qur’an, karena ia akan menjadi sumber pentunjuk yang dapat mengarahkan kita mendapatkan ridho Allah. Maka dalam salah satu firman-Nya Allah memerintahkan untuk berpegang teguh pada tali islam

 

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali ‘Imran Ayat 103)

Dalam tafsir ibn Katsir dijelaskan bahwa maksud dari tali Allah adalah al-Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari al-Harits al-A’war, dari ‘Ali sebagai hadits marfu’, tentang sifat al-Qur’an: “Al-Qur’an itu adalah tali Allah yang paling kuat dan jalan-Nya yang lurus.”

Dalam hidup setiap hal yang penting tentu membutuhkan pegangan sebagaimana alquran yang menjadi pegangan kita dalam mengarungi kehidupan. Jika hidup diibaratkan motor maka al-qur’an adalah stangnya, bayangkan apa yang akan terjadi apabila naik motor tanpa stang? Tentu akan nabrak dan terjadi kecelakaan. Demikian juga hidup apabila tak berinteraksi dan menghidupkan Qur’an maka akan  membuat hidup berantakan dan tak terarah.  Lantas bagaimana cara melazimi interaksi dengan Qur’an? Berikut pengakuan Abdullah bin Umar yang mengisahkan percakapannya dengan Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فِي كَمْ أَخْتِمُ الْقُرْآنَ؟ قَالَ: «اخْتِمْهُ فِي كُلِّ شَهْرٍ» قُلْتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: «اخْتِمْهُ فِي خَمْسٍ وعشرين» قُلْتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: «اخْتِمْهُ فِي خمس عشرة» قُلْتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: «اخْتِمْهُ فِي عَشْرٍ» قُلْتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: «اخْتِمْهُ فِي خَمْسٍ» قَالَ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: «فَمَا رَخَّصَ لِي»

Artinya, “Saya bertanya kepada Rasulullah, ‘Ya Rasulullah, sebaiknya dalam sebulan saya mengkhatamkan Al-Qur’an berapa kali?’ Rasul menjawab, ‘khatamkan satu kali dalam sebulan.’ Aku kembali bertanya, ‘Saya kuat khatam melebihi itu, Ya Rasul.’ Beliau menjawab, ‘Khatamkan dalam 25 hari.’ ‘Saya masih kuat lebih dari itu,’ kataku. ‘Khatamkan dalam 15 hari,’ kata Rasul. ‘Saya masih mampu lebih dari itu,’ kataku. ‘Khatamkan dalam 10 hari,’ jawab Rasul. ‘Saya masih kuat lebih dari itu,’ kataku. ‘Khatamkan dalam 5 hari,’ kata Rasul. ‘Saya masih kuat lebih dari itu, Ya Rasul,’ kataku. Kemudian setelah aku menyatakan mampu mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari lima hari, Rasul tidak memberikan keringanan lebih lanjut,” (Lihat As-Sunanul Kubra, 8011).

Maka dalam rangka memudahkan santri interaksi dengan Qur’an, Insantama menghadirkan sebuah Qur’an TES yang berisi panduan lengkap untuk tahfidz, murajaah dan tilawah qur’an yang progressif dan terecord. Semoga ikhtiar ini dapat menjadikan anandas sebagai sahabat al-qur’an.