Rajab Momentum Terus Menguatkan Keyakinan terhadap Al Quran di Tengah Gelombang Perapuhan Terhadapnya

0
554
Khutbah Jum'at Masjid Pendidikan Insantam

Ringkasan Khutbah Jum’at

Ustadz Muhammad Ismail Yusanto

Jum’at, 14 Rajab 1445 H/26 Januari 2024

 

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Kita berada di tengah bulan Rajab. Dan kita selalu diingatkan dengan satu peristiwa yang sangat amat dahsyat. Jangankan untuk ukuran orang di masa waktu itu, untuk yang hidup pada masa sekarangpun tak mudah untuk bisa memahaminya bila hanya menggunakan akal pikiran kita yang terbatas.  Peristiwa itu adalah Isra’ dan Mi’raj.

Peristiwa yang telah memperjalankan Nabi Muhammad SAW dari Mekkah Al Mukaramah hingga ke Baitul Maqdis di Palestina dan selanjutnya naik ke Sidratul Muntaha dalam waktu satu malam.

Jarak dari Masjidil Haram di Mekah hingga Masjidil Aqsha, Palestina kurang lebih 1.230 Km. Dan jika ditempuh dengan menggunakan kendaraan  pada waktu itu (onta atau kuda) perlu waktu berminggu-minggu.  Apalagi kemudian naik ke Sidratul Muntaha dan kembali ke Mekah. Dimana Sidratul Muntaha itu? Allahu bi shawab.

Berdasarkan kemampuan teknologi yang dimiliki oleh manusia zaman sekarang ujung semesta yang bisa diamati itu jaraknya 27 milyar tahun cahaya.   Kecepatan cahaya 300.000 Km/detik. Dengan kecepatan itu, cahaya bisa mengelilingi bumi lebih dari tujuh kali.  Artinya dalam satu detik bisa sampai ke bulan dan delapan detik bisa sampai ke matahari.

Andai Sidratul Muntaha itu sama dengan ujung dunia itu, maka berapa kecepatan perjalanan Nabi SAW?

Adalah Dr Sasmitra, seorang astronom muslim berdasarkan perhitungannya dan berdasar keterangan dalam surat As Sajadah, ia mendapatkan kecepatan Nabi kurang lebih dalam Isra’ da Mi’raj itu adalah 5,4 triliun km per detik.

Sesuatu yang tidak mudah dipahami. Dan ini yang ingin diangkat oleh orang-orang musyrik kepada Sayidina Abu Bakar.  Bagaimana tanggapan Abu Bakar?

Sepanjang yang mengatakan itu adalah Muhammad SAW maka pasti itu benar”, jawab beliau.

Apa yang bisa kita petik dari peristiwa luar biasa itu sehingga diabadikan pula dalam Al Quran?  Sayidina Abu Bakar telah memberikan contoh kepada kita tentang bagaimana kita ini mempercayai perkara-perkara akidah. Bukan peristiwanya yang menjadi fokus namun siapa yang menceritakan perihal itu.

Nabi adalah orang yang tak pernah berkata bohong, karenanya beliau dijuluki Al Amin. Kini beliau telah tiada, dan yang tetap ada adalah tinggalan beliau, yaitu Al Quran dan Hadits.  Maka sangat penting bagi kita untuk terus meningkatkan keyakinan terhadap apa yang menjadi tinggalan Nabi.  Dan dengan itulah kita akan memiliki keyakinan yang pokok.

Kita harus terus mencari jalan agar dapat selalu meningkatkan keyakinan kita terhadap tinggalan Nabi.  Begitu banyak peristiwa dan contoh yang dapat semakin menguatkan keyakinan kita terhadap tinggalan Nabi SAW.

Salah satu contoh adalah kisah yang dialami oleh Dr. Maurice Bucaille, ahli bedah asal Prancis yang diberi tanggung jawab meneliti jasad Firaun pada 1973. Jasad manusia yang hidup 3.500 tahun lalu. Pertanyaan besarnya, bagaimana jasad itu bisa utuh hingga ribuan tahun?

Dr Maurice kemudian membedah jasad itu dan ia dapati banyak kandungan garam. Awalnya dia sulit menemukan jawaban terhadap fakta jasad ini.  Hingga akhirnya ia menghadiri seminar tentang mumi Fir’aun di Kairo, Mesir dan ia melemparkan pertanyaan kepada panelis.  Dan dijawablah oleh panelis dengan mengutip Yunus ayat 92.  Dan ternyata jawabannya ada di sana.

فَٱلْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ ءَايَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنْ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.

Dokter itu akhirnya mempelajari Al Quran dan masuk Islam pada usia 50 tahun. Dr Maurice menghabiskan waktunya selama 2 tahun mempelajari Al Quran dan bahasa Arab sebelum akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam.

Jika orang kafir saja percaya kepada Al Quran maka bagaimana seharusnya dengan kita yang sudah lebih lama memeluk Islam?

Jika ini hari kita menyaksikan banyak sekali kaum muslim yang tidak bisa membaca Al Quran, data menunjukkan 50% umat Islam Indonesia tidak bisa membaca Al Quran.  Dan jika ini hari kita mendapati kaum  muslim yang telah bisa membaca Al Quran tetapi banyak yang tidak bersemangat membaca Al Quran.

Di suatu acara pernah ditanyakan apakah hadirin telah mengkhatamkan bacaan Quran satu kali dalam setahun, dan ternyata tidak ada satupun yang menjawabnya.  Ini menunjukkan Al Quran yang sebagai bacaan saja tidak juga dibaca oleh kaum muslimin.

Mengapa begitu banyak orang yang tidak bisa membaca Quran, dan begitu banyak juga orang yang bisa membaca Al Quran tetapi tidak bersemangat membacanya, apalagi kemudian memperjuangkannya?  Bahkan mungkin dia bisa membaca dan memahami Al Quran, namun bahkan menghalangi perjuangan untuk menegakkan isi  dan ajaran Al Quran maka tentu kita boleh menduga keras bahwa pangkal dari itu adalah kerapuhan terhadap  Al Quran bahwa ia adalah Kalam Tuhan.

Andai setiap msulim itu memiliki keyakinan yang kokoh terhadap Al Quran mustinya itu semua tidak terjadi di negeri yang mayoritas Islam ini.  Seharusnya semua hal yang berkaitan dengan Islam itu mudah. Namun faktanya tidak.

Ayat tentang jilbab, perlu waktu 11 tahun untuk bisa diterima.  Ayat yang berkenan dengan riba sehingga munculnya Bank Syari’ah ternyata membutuhkan waktu 19 tahun untuk akhirnya diwujudkan sebagai sebuah institusi.

Bahkan ini hari orang yang menampakkan berpikir sesuai dengan Al Quran maka distempel sebagai orang yang terpapar radikalisme.  Dan mereka itu dikesankan tidak layak untuk hidup di negeri ini.  Ini pasti berpangkal dari rapuhnya keyakinan terhadap Al Quran.

Sekali lagi teruslah perkuat keyakinan kita terhadap Al Quran. Dengan membaca, mempelajari, melihat realita dan memperjuangkannya.

Jika Nabi menyampaikan bacalah Quran fi syahrin (khatam dalam satu bulan), itu artinya dalam satu ahri kita harus mengkhatamkan minimal satu juz Al Quran.

Itulah kenapa sekolah ini menahbiskan sebagai Sekolah Sahabat Al Quran?  Karena Rasul berpesan :

Bacalah al-Quran karena al-Quran akan datang pada hari kiamat nanti sebagai pemberi syafaat bagi sahabatnya (orang yang sering membacanya)!

Dan itulah kenapa setiap tanggal 30 kita laksanakan khataman Al Quran. Untuk menunjukkan bahwa kita punya tradisi dekat dengan Al Quran, membaca Al Quran setiap hari minimal satu juz.

Dengan semangat itu terdorong pula agar kita memahami isinya lalu mengamalkannya dan berujung pada perjuangan.  Itulah Mengapa sekolah kita menyematkan sebagai sekolah Calon Pemimpin Ansharullah.  Pemimpin-pemimpin yang ia dedikasikan jabatannya, bahkan hidup dan matinya untuk agama Allah. [eac]