Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Tingkat Menengah (LKMM) tahun 2019 telah berhasil dilaksanakan, dengan tema besar Babaktos Ka Selaawi, para peserta yakni murid kelas 11 SMAIT Insantama berhasil melakukan beberapa pencapaian, yang luar biasa para peserta dapat memetakan kondisi desa seratus persen akurat, hal tersebut diungkap oleh Muhammad Karebet Widjajakusuma atau biasa dipanggil pak Kar sebagai supervisor.

“Di sinilah menariknya, siswa terjun langsung melakukan analisis kondisi lingkungan sesuai dengan metode ilmiah yang sudah dimilikinya. Hasilnya, siswa berhasil memetakan kondisi desa ini dengan tepat. Ketepatan ini, akurat 100 persen, disebutkan oleh bapak Suparman Kepala Desa di dalam forum warga saat presentasi siswa di hari ketiga,” ungkap Pak Kar.

Tak hanya analisis, pak Kar menjelaskan siswa juga berhasil memberikan sejumlah rekomendasi dari yang taktis jangka pendek 1 tahun ke depan hingga yang strategis jangka panjang hingga 5 tahun ke depan dalam bahasa yang sederhana dan praktis.

“Menariknya lagi, ini semua disampaikan dalam bahasa Sunda, meski sesekali kembali ke bahasa Indonesia jika bertemu dengan istilah yang sulit disundakan,” jelasnya.

Ada juga pencapaian lain dan baru di LKMM tahun ini, menurut Pak Kar, LKMM juga lebih bagus lagi dalam tugas pembelajaran tematik yang disematkan dari sejumlah mata pelajaran.

“Praktek Tsaqofah Islam, khususnya fiqih safar juga berhasil diterapkan dengan baik,” jelasnya.

Pak Kar juga menjelaskan antusiasme warga yang luar biasa pada saat pelatihan, seperti kepala desa yang berulang kali menyampaikan rasa terimakasinya, Kades juga sangat mengamati presentasi peserta, menurut Kepala Desa hasil presentasi tersebut sangat berguna bagi warga desa.

“Warga sekitar lokasi base camp juga di jalur jalan yang dilalui saat berjalan kaki menuju jalan besar, menyalami siswa dan menyayangkan kenapa hanya sebentar saja disini. Tampaknya meski sebentar, siswa sudah berhasil membuat warga desa jatuh hati,” kata Pak Kar.

Pak Kar juga menjelaskan apa itu sebenarnya LKMM, menurutnya ini adalah bagian dari tahapan pembinaan kesiswaan di Insantama yang dibuat secara sistematis, khas dan berjenjang. Ini tahapan besar kedua yg diberikan di kelas 11. Tujuannya memberikan kemampuan problem solving terhadap persoalan real yang ada di masyarakat.
Caranya, siswa kita bawa ke desa yang memiliki persoalan, tinggal di sana, berbaur dengan masyarakat selama 3 hari 3 malam, melakukan observasi, indepth interview dan menuangkannya dalam analisis kondisi lingkungan sesuai metodologi analisis SWOT dalam kerangka manajemen strategis.

“Siswa melakukannya secara training by doing,” ungkap pak Kar.

Dengan adanya pelatihan ini siswa diharapkan dapat memahami secara utuh apa yang mereka pelajari dan lakukan di masa pelatihan.

“Semua yang diberikan ini moga dapat dipahami dengan utuh sehingga siswa benar-benar bisa tumbuh menjadi pemimpin umat seperti yang diharapkan, faqih fiddin, faqih ilmu, setia pada syariat dan tetap tawadlu. Komitmen makin kuat, konsisten makin mantap. Insya Allah,” pungkas Pak Kar. (Fatih Solahuddin)