Menanamkan Rasa Malu untuk Menarik Banyak Kebaikan

-

Mengawali pembelajaran di boarding Insantama semester ini, Senin/08 Januari 2024, IBS (Islamic Boarding Scholl) Insantama menyambut para santri dalam bentuk tausiah yang disampaikan langsung oleh Buya Muhibuddin. Agenda ini diadakan di lantai dua MPI (Masjid Pendidikan Insantama) sebakda shalat subuh.

Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan bahwa ikhtiar kita untuk mentaati Allah akan berujung baik, sebaliknya kemalasan dan rasa tidak semangat kita untuk tidak mentaati Allah pun juga akan berakhir dengan keburukan. Perlu kita tanamkan selalu rasa malu kepada Allah Swt, karena ia akan menarik banyak kebaikan. Bukti keimanan adalah syahadat dan Tauhid, sehingga ucapan yang paling tinggi adalah La ilaha illallah.

َاْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُلاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.

Artinya: “Iman mempunyai enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu merupakan salah satu cabang Iman.” (HR. Imam Al Bukhari No 9).

Tidak ada harga dan nilai seseorang bila tidak beriman kepada Allah Swt. Adapun iman yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan di jalan. Akan tetapi, tanpa keimanan yang paling rendah ini, iman kita menjadi kurang sempurna dan malu bagian dari iman. 

“Jika tidak memiliki rasa malu, maka buatlah semaumu laksana orang yang hilang akal atau anak kecil yang belum baliq dan mumayiz. Malulah kalian kepada Allah dengan malu yang sebenarnya.” Ungkap Buya Muhibuddin menegaskan penjelasannya. 

Beliau juga menerangkan bahwa malu ada dua macam, yaitu malu yang sifatnya naluriyah dan malu yang sifatnya bagian dari iman. “Rajin, semangat dan bersungguh-sungguhlah kamu engkau, karena berapa banyak penyesalan yang disebabkan oleh kemalasan.” Terang beliau.