Visi, Misi dan Roadmap Manusia di Dunia dan Akhirat

-

Yuk Sekolah Di Rumah  !
14 Hari Bersama Ummi dan Abi
Suplemen Pendamping

Membersamai Anandas Para Juara dan Calon Pemimpin

Hari Ketiga,

  1. Memahamkan Kembali Hakikat Hidup Manusia
  2. Memahamkan kembali Visi, Misi dan Roadmap Manusia di Dunia dan Akhirat
  3. Memahamkan Kembali Mengapa Kita Harus Beribadah Kepada Allah Swt

 

HAKIKAT HIDUP MANUSIA :
VISI, MISI DAN ROADMAP MANUSIA DI DUNIA DAN AKHIRAT

Ustadz Muhammad Arif Yunus dkk. (2003)

Pendidikan dalam perspektif Islam ditujukan untuk membentuk manusia yg memiliki fungsi khusus sebagai Hamba Allah (Abdullah) dan Khalifah Allah (khalifatullah) di muka bumi ini. Karenanya dapatlah dimengerti bila paradigma pendidikan Islam serta arah pendidikan Islam itu sendiri haruslah berkesesuaian pula dengan hakikat hidup manusia.

Seorang muslim sudah seharusnya memahami hakikat hidupnya di dunia: Dari mana ia berasal, untuk apa hidup dan bagaimana dia harus menjalani  hidupnya, serta kemana setelah mati?  Pemahaman ini sangatlah penting, karena ia akan menentukan corak/gaya hidup seseorang. Saking pentingnya, sampai mungkin bisa dikatakan, janganlah kita hidup sebelum memahami apa sebenarnya hakikat hidup kita itu!

Memahami hakikat hidup bukan hal yg sukar bagi seorang muslim. Allah SWT telah memberikan bekal dan potensi pada diri manusia, berupa daya pikir (akal) dan fitrah yg melekat pada manusia sejak dia diciptakan oleh Allah SWT. Allah SWT telah memberikan panca-indera, sebagai salah satu unsur penting untuk proses berpikir.

“Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi  kalian pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kalian bersyukur.” (QS An Nahl : 78)

Kegagalan manusia  dalam memahami hakikat hidupnya,  tiada lain karena kelalaian dan keengganannya menggunakan bekal tsb, sehingga arah dan orientasi hidupnya menjadi tidak jelas,  menyimpang dari jalan yg semestinya. Akhirnya, hawa nafsu atau setanlah yg dijadikan “tuhan”, yakni menjadi sumber penentu sikap dan tujuan hidupnya. Orang sesat seperti ini dicap oleh Allah SWT bagaikan binatang ternak,  bahkan lebih rendah lagi daripada itu.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan  untuk (isi) neraka Jahannam banyak dari jin dan manusia. Mereka mempunyai akal, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata,  (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) , dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yg lalai.” (QS Al A’raaf : 179)

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yg menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS Al Furqaan : 43-44)

Jelaslah, memahami hakikat hidup merupakan suatu hal yg sangat fundamental. Kegagalan memahami hakikat hidup, akan membuat seorang muslim mudah sekalil tersesat, atau bahkan tak mustahil  menjadi murtad tanpa dia sadari, sehingga amalnya di dunia  menjadi sia-sia  bagai debu beterbangan.

“Dan Kami hadapi segala amal yg mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yg beterbangan.” (QS Al Furqaan : 24)

Mengingat sifatnya sangat  mendasar dan sekaligus sangat substantif, pertanyan tsb disebut juga sebagai al-‘Uqdatu al-Kubra atau simpul yg sangat besar. Disebut demikian, karena mengandung penjelasan bahwa  bila  pertanyaan ini telah terjawab maka dengan sendirinya akan terurailah berbagai pertanyaan/permasalahan cabang berikutnya yg dihadapi manusia dalam kehidupannya di dunia.  Persoalan  mendasar tsb adalah berupa tiga pertanyaan:

Pertanyaan pertama, “Darimanakah manusia, hidup, dan alam semesta ini berasal?”

Apakah ketiganya  ini ada dengan sendirinya ataukah ada yg mengadakannya? Pertanyaan ini, berkaitan erat dengan fakta bahwa manusia itu  hidup di alam semesta (li anna al-insaana yahya fi al-kaun). Maka wajar bila manusia menanyakan tentang dirinya, tentang hidup (dalam arti biologis) yg ada pada dirinya dan makhluk lainnya, dan tentang alam semesta yg merupakan tempat hidupnya. Pertanyaan pertama ini, menanyakan tentang hakikat apa yg ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya).

Pertanyaan kedua, “Untuk apa manusia dan kehidupan ini ada?”

Pertanyaan ini berkaitan dengan fakta bahwa manusia telah lahir dan eksis di dalam kehidupan dunia ini (al-hayatu al-dunya). Sehingga wajar bila dalam benaknya muncul pertanyaan mengenai  untuk apa dia hidup dan bagaimana dia harus menjalani hidup (dalam arti sosiologis). Dalam bahasa Hafizh Shalih dalam kitabnya An Nahdhah (1988), pertanyaan ini berhubungan dengan makna keberadaan manusia dalam kehidupan (ma’na wujudi al- insaan fi al-hayah).

Pertanyaaan ketiga, “Kemana manusia dan kehidupan ini setelah di dunia ini?”

Pertanyaan ini juga sangat wajar, karena setiap manusia pasti akan berjumpa dengan kematian. Dalam benaknya pasti  terbit pertanyaan apakah setelah kematian berarti segala sesuatunya juga akan berakhir, ataukah justru kematian  itu merupakan suatu pintu untuk memasuki fase kehidupan yg baru selanjutnya. Pertanyaan ini berkaitan dengan hakikat apa yg ada setelah kehidupan dunia (ba’da al-hayati al-dunya).

Di samping ketiga pertanyaan utama tsb, hal penting lain yg juga menjadi pertanyaan adalah adakah hubungan (‘alaaqah/shilah) antara apa yg ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya) dengan kehidupan dunia kini (al-hayatu al-dunya), serta hubungan antara kehidupan dunia kini (ba’da al-hayati al-dunya) dengan apa yg ada sesudah kehidupan dunia (ba’da al-hayati al-dunya). Jika ada, hubungan apakah itu?

Inilah pertanyaan-pertanyaan utama yg tercakup dalam apa yg disebut dengan Al-Uqdatu al-Kubro. Tak ayal lagi, semua pertanyaan dalam simpul besar (al-uqdatu al- Kubro) itu memang merupakan pertanyaan-pertanyaan fundamental yg memerlukan jawaban tuntas  sebagaimana halnya simpul-simpul besar pada tali yg harus diuraikan terlebih dahulu agar tali itu dapat digunakan. Bila simpul besar ini berhasil diurai, niscaya simpul-simpul cabang berikutnya akan  dengan mudah diuraikan.

Simpul-simpul ini merupakan pertanyaan-pertanyaan praktis yg berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari, semisal mengapa dan  bagaimana kita harus bekerja mencari nafkah, bagaimana kita harus membina sebuah keluarga yg bahagia, bagaimana kita harus bermasyarakat dan  bernegara, dsb.

Menghadapi pertanyaan mendasar dalam Al-Uqdatu al-Kubro, sikap manusia bermacam-macam.  Ada yg lari atau  tak acuh terhadap pertanyaan-pertanyaan tsb, sehingga akhirnya mereka menjalani hidup sekedarnya saja. Tanpa makna, tanpa visi, tanpa misi. Namun ada pula yg berhasil menjawabnya setelah berusaha mencari jawabannya dengan serius, terlepas dari benar tidaknya jawaban tsb.

Jawaban terhadap al-Uqdatu al-Kubro ini menurut Muhammad Husain Abdullah dalam kitabnya Dirasat fi al-Fikri al-Islami disebut dengan fikrah kulliyah (pemikiran menyeluruh) karena jawabannya mencakup segala sesuatu yg maujud (alam semesta, manusia, dan kehidupan) di samping mencakup ketiga fase kehidupan yg dilalui manusia, beserta hubungan-hubungan di antara ketiganya.  Disebut aqidah, karena memang jawaban terhadap al-Uqdatu al-Kubro merupakan  pemikiran yg mendasar. Dan disebut qa’idah fikriyah (landasan pemikiran), karena jawaban itu merupakan basis pemikiran yg di atasnya dapat dibangun pemikiran-pemikiran cabang tentang kehidupan.

Maka, jawaban terhadap al-Uqdatu al-Kubro bisa beraneka macam, bergantung kepada aqidah (keyakinan) yg dianut seseorang. Karena faktor keterbatasan ruang, di sini hanya akan diuraikan jawaban dari sudut pandang keyakinan Islam saja. Jawaban sekulerisme, paham yg kini merajalela di dunia, termasuk di dunia Islam, setelah  sosialisme runtuh di penghujung tahun 80-an tidak disampaikan di sini.

Jawaban  Islamlah  yg memuaskan akal, menentramkan jiwa dan sesuai dengan fitrah penciptaan manusia atas ketiga pertanyaan di atas. Jawaban ini  akan menjadi  landasan dan pemahaman  manusia terhadap berbagai persoalan kehidupan berikutnya.

 

Jawaban Islam Terhadap Al-Uqdatu al-Kubro

Jawaban Islam terhadap al-Uqdatu al-Kubro   bersumber Al Qur`an dan As Sunnah. Keduanya  merupakan wahyu yg diturunkan Allah melalui Rasulullah Muhammad SAW sebagai petunjuk hidup.

Jawaban atas pertanyaan “Dari Mana Manusia,  Hidup dan Alam Semesta Berasal?”

Terhadap pertanyaan “Dari manakah manusia, hidup, dan alam semesta berasal?”, maka Islam  memberikan jawaban bahwa ketiga hal tsb diciptakan oleh Allah SWT, tidak maujud dengan sendirinya. Dengan kata lain, apa yg ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya), adalah Allah SWT.  Jawaban ini diterangkan dalam banyak nash, di antaranya,

“Hai manusia sembahlah Tuhanmu yg telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS Al Baqarah : 21)

“Hai manusia, apakah yg telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka)  terhadap Tuhanmu Yg Maha Pemurah. Yg telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (QS. Al Infithaar : 6-7)

“Mengapa kalian kafir kepada Allah, padahal kalian tadinya mati lalu Allah menghidupkan kalian; kemudian Allah mematikan kalian dan menghidupkan kembali kalian, kemudian kepada-Nya-lah kalian dikembalikan?” (QS Al Baqarah : 28)

Ayat-ayat di atas  menegaskan dengan jelas bahwa  muasal manusia  adalah karena diciptakan oleh Allah, bukan ada dengan sendirinya,  tercipta semata-mata karena proses-proses alam, atau tercipta melalui evolusi dari organisme lain yg lebih sederhana. Allah-lah yg telah menciptakan manusia dan membuatnya hidup di dunia sampai batas waktu tertentu untuk kemudian nanti dikembalikan lagi kepada-Nya.

 

Jawaban atas pertanyaan “Untuk Apa Manusia dan Kehidupan ini Ada?”

Terhadap pertanyaan “Untuk apa manusia hidup?” Islam menjawab, bahwa  manusia hidup di dunia adalah untuk beribadah kepada-Nya.

Makna ibadah secara bahasa (lughah) disebutkan Imam Al Fairuz Abadi dalam kamus Al Muhith sebagai taat, dalam arti menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Sedangkan menurut istilah ada dua  pengertian, yakni khusus (khaas) dan umum (‘aam).  Muhammad Husein Abdullah  dalam kitab  Dirasaat Fil Fikri al Islamy memberikan pengertian khusus ibadah sebagai mentaati perintah dan larangan Allah SWT  yg mengatur hubungan antara Allah SWT dengan hamba-Nya, misalnya shalat, shaum, doa dll.  Dalam pengertian umum ibadah bermakna mengikatkan diri dengan seluruh hukum-hukum Allah SWT.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (beribadah) kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyaat : 56)

“Padahal  mereka tidak diperintah kecuali supaya mereka beribadah (menyembah) Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama…” (QS Al Bayyinah : 5)

Mengaktualisasikan  ibadah dalam arti umum inilah yg secara konkret merupakan misi hidup manusia di dunia menurut Islam. Inilah hakekat  hidup manusia di dunia, dan ini pula yg wajib menjadi landasan segala kiprahnya.  Aktualisasi ibadah  terwujud ketika seorang muslim mengikatkan dirinya dengan hukum-hukum syara’ dalam segala aktivitasnya, baik ketika berhubungan  dengan Rabb-nya dalam bidang aqidah dan ibadah, berhubungan   dengan dirinya sendiri dalam bidang akhlak, makanan, minuman, dan pakaian, maupun berinteraksi  dengan sesamanya dalam bidang mu’amalah dan uqubat (hukuman dan sanksi).

Ketika seorang muslim menjalankan shalat lima waktu, mengeluarkan zakat setiap tahun, berpuasa di bulan Ramadhan, beribadah haji, bertaubat, atau membaca Al Qur`an disebut  sedang  melaksanakan   ibadah (dalam arti khusus). Begitu pula tatkala dia bekerja secara profesional  dengan etos kerja tinggi didukung keahlian dan sikap amanah, mendidik anak dengan cara  Islam, menepati janji,  mengkaji ajaran Islam, mempedulikan keadaan kaum muslimin yg lain, aktif berdakwah atau dalam kegiatan keIslaman,  bersabar tatkala mendapat musibah, memerintahkan  isteri atau anak perempuannya berjilbab, menengok teman yg sakit, bermusyawarah, menjaga kesehatan dan kebersihan dan sebagainya dia pun juga tengah menjalankan misi ibadah.

Sebaliknya, tatkala seseorang melalaikan tugas, melakukan korupsi dan manipulasi, memberi atau menerima suap, berbohong, berzina, menenggak minuman keras, mengkonsumsi narkoba, mengunjungi pub/diskotik, membantu terjadinya perzinaan, suka mendzalimi orang lain dan sebagainya, dikatakan ia telah telah melakukan maksiat kepada Allah. Berarti   ia telah lupa terhadap hakikat keberadaannya di dunia. Demikian pula halnya bila dia menentang dakwah Islam, berjudi, menyatakan bahwa  hukum Islam tidak layak karena dinilai kejam, merayakan Natal bersama, melakukan pelecehan seksual, berhutang tak mau bayar, meninggalkan shalat lima waktu atau shalat Jum’at, tidak memakai jilbab; berarti dia telah lalai dari arti hakikat hidupnya  di dunia, yaitu beribadah kepada Allah.

 

Jawaban atas pertanyaan “Kemana Manusia  dan Kehidupan Setelah Dunia?”

Terhadap pertanyaan, “Kemana manusia dan kehidupan  setelah dunia?”, Islam  menjawab, bahwa setelah kematian akan ada Hari Kiamat (Yaumu al-Qiyamah). Islam  menegaskan bahwa kehidupan  tidaklah hanya ada di dunia saja, tapi juga di akhirat, yg mau tidak mau pasti akan dilalui manusia. Manusia adalah mahluk Allah, berasal dari Dia dan akan dikembalikan kepada-Nya. Pada hari Kiamat, manusia akan dibangkitkan lagi dari kuburnya untuk dihisab amal perbuatannya oleh Allah SWT, lalu ditentukan tempat selanjutnya: di sorga atau neraka.

“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan dari kuburmu di Hari Kiamat.” (QS Al Mukminun : 15-16)

Ketika dibangkitkan dari kuburnya, manusia  dalam keadaan telanjang bulat.

“Sesungguhnya kalian akan dibangkitkan pada Hari Kiamat tanpa alas kaki, telanjang bulat, dan tidak berkhitan. ‘Aisyah bertanya,’Ya Rasulullah, laki-laki dan perempuan saling melihat (aurat) yg lain?’ Rasulullah  menjawab, ‘Hai ‘Aisyah, pada saat itu perkara (Hari Kiamat) sangat dahsyat sehingga orang tidak akan memperhatikan hal itu.”  (Muttafaqun ‘alaihi)

Pada Hari Kiamat itu keadaan manusia yg dibangkitkan beraneka ragam sesuai dengan iman dan amal perbuatannya di dunia.

“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yg bermacam-macam supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.” (QS Al Zalzalah : 6-8).

Orang-orang kafir yg tak mempercayai Hari Kiamat akan benar-benar kaget dibuatnya.

“Dan ditiupkan sangkakala, maka  tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata: ‘Aduh celakalah kami! Siapakah yg membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?’ Inilah yg dijanjikan Dzat yg Maha Pemurah dan benarlah para rasul-Nya” (QS Yasin : 51-52)

Karena penyesalan yg teramat sangat, sampai-sampai orang-orang kafir saat itu berharap alangkah baiknya seandainya dulu di dunia menjadi tanah saja!

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepada kalian (hai orang kafir) siksa yg dekat, pada hari manusia melihat apa yg telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang orang kafir berkata,”Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (QS An Naba` : 40)

Adapun orang muslim yg banyak berbuat dosa juga akan menyesal mengapa semasa hidup di dunia  tidak menjalankan ajaran Islam sebagaimana mestinya dan telah mengambil teman (panutan) yg sesat dan menyesatkan.

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yg zalim menggigit dua tangannya seraya berkata, ’Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya  dia telah menyesatkan aku dari Al Qur`an ketika Al Qur`an itu telah datang kepadaku…” (QS Al Furqaan : 27-29)

Sedangkan orang-orang muslim yg taat menjalankan ketentuan-ketentuan ajaran Islam ketika di dunia tidak mengalami kegoncangan atau kekerasan pada Hari Kiamat.

“Orang-orang ahli Laa ilaaha illallah (yg mengucapkan kalimat tsb dan menunaikan konsekuensinya) tidak akan mengalami kegoncangan tatkala wafat, di alam kubur, dan tatkala dia dibangkitkan. Seolah-olah aku melihat mereka -–ketika ditiup sangkakala yg kedua (saat dibangkitkan dari kubur)— sedang menyingkirkan tanah (pasir) dari kepala mereka seraya berkata,’Segala puji bagi Allah, yg telah menghilangkan duka cita dari kami.”  (HR. Abu Ya’la)

Setelah dibangkitkan, manusia kemudian dihisab oleh Allah SWT. Pada saat itu  Allah SWT akan menanyakan segala amal baik dan amal buruk yg pernah dilakukan manusia di dunia, baik amal yg kecil dan remeh, maupun amal yg besar dan agung. Pada saat itu, tiap manusia bahkan dapat membaca sendiri catatan amal perbuatannya dalam sebuah kitab yg diberikan kepada mereka.

“Maka demi Rabbmu,  Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yg telah mereka kerjakan dahulu.” (QS Al Hijr : 92-93)

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Kedua telapak kaki seorang anak Adam di Hari Kiamat masih belum beranjak sebelum ditanya kepadanya mengenai 5 (lima perkara): tentang umurnya, untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya, apa yg dilakukannya, tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa dia belanjakan, dan tentang ilmunya, apa yg dia kerjakan dengan ilmunya itu.” (HR Ahmad).

Allah SWT  berfirman bahwa manusia akan membaca catatan amalnya sendiri selama hidup  di dunia :

“Adapun orang yg diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yg mudah, dan dia akan kembali pada kaumnya (yg sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yg diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak ‘Celakalah aku’. Dan dia akan masuk ke dalam api yg menyala-nyala (neraka).“ (QS Al Insyiqaq : 7-12)

Setelah itu manusia akan digiring ke tempat dimana timbangan amal perbuatannya diletakkan.

“Kami akan memasang timbangan yg tepat pada Hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan) itu hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.”  (QS Al Anbiyaa` : 47).

“Dan adapun orang-orang yg berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yg memuaskan. Dan adapun orang-orang yg ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS Al Qari’ah : 6-9).

Setelah tahapan ini selesai,  manusia akan dimasukkan ke dalam neraka atau surga. Orang kafir, baik dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) atau orang musyrik, akan dijebloskan ke neraka dengan diseret atas muka mereka selamanya.

“Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya.  Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” (QS Al Bayyinah : 6)

Orang muslim yg lebih banyak dosanya daripada amal baiknya, akan masuk neraka untuk sementara waktu sesuai yg dikehendaki Allah. Selanjutnya masuk surga.

“… Allah memerintahkan para malaikat mengentas dari neraka itu orang-orang yg tidak pernah sekalipun melakukan perbuatan syirik. Yaitu mereka yg berucap Laa ilaaha illallah. Orang-orang ini dapat diketahui melalui ciri khasnya, yakni di wajahnya ada bekas sujud. Api yg membakar tubuh manusia itu tidak sampai melalap bagian-bagian tubuh yg pernah bersujud. Dan itu memang dilarang Allah. Maka keluarlah mereka dalam keadaan terbakar. Untuk memadamkannya, disiramkanlah ke tubuh-tubuh yg hangus itu air kehidupan. Dari air itu bekas-bekas yg terbakar menjadi musnah dan membuat mereka tumbuh seperti biji-biji yg terbawa air bah.” (HR. Muslim)

Siksa neraka begitu dahsyat. Amat berat penderitaan para penghuni neraka menanggung semua siksa. Rasul menggambarkan, siksa yg paling ringan saja cukup membuat otak mendidih.

“Sesungguhnya orang-orang yg kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yg lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”  (QS An Nisaa` : 56).

“Disiramkan air yg mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancurluluhkan segala apa yg ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka.”  (QS Al Hajj : 19-20).

“Azab yg paling ringan di neraka pada Hari Kiamat adalah seseorang yg pada dua telapak kakinya ada dua bongkah bara api, lalu bara api ini akan merebus otak orang tsb.” (HR. At Tirmidzi)

Adapun orang-orang mukmin, mereka  akan masuk surga yg penuh kenikmatan, seraya mendapatkan ridlo dari Allah Azza Wa Jalla. Para Nabi, syuhada, ulama, shiddiqin,  akan masuk ke dalam surga-Nya dengan mendapat limpahan rahmat dan ridla-Nya.

“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yg tetap muda dengan membawa gelas, cerek dan minuman yg diambil dari air yg mengalir. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Dan buah-buahan dari apa yg mereka pilih, dan daging burung dari apa yg mereka inginkan. Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yg bermata jeli, laksana mutiara yg tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yg telah mereka kerjakan.” (QS Al Waqi’ah : 17-24).

“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yg sia-sia dan tidak pula perkataan yg menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengarkan ucapan salam. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yg tidak berduri dan pohon pisang yg tersusun (buahnya), dan naungan yg terbentang luas, dan air yg tercurah, dan buah-buahan yg banyak, yg tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yg tebal dan empuk. Sesungguhnya Kami ciptakan mereka (bidadari-bidadari) lagi sebaya umurnya, (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (yaitu segolongan besar dari orang yg terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang yg kemudian.” (QS Al Waqi’ah : 25-40).

 

Hubungan  Antar  Fase-fase Kehidupan

Islam  menjelaskan pula, antara sebelum kehidupan dunia  dengan  kehidupan dunia  terdapat 2 (dua) hubungan. Pertama, hubungan penciptaan (shilatu al-khalqi). Yakni bahwa Allah SWT sajalah yg  menciptakan manusia, kehidupan, dan alam semesta ini. Kedua, hubungan perintah dan larangan (shilatu al-awamir wa al-nawahi). Artinya Allah SWT tidak sekedar menciptakan, namun juga memberikan perintah dan larangan kepada manusia, yg termaktub dalam wahyu (Al Qur`an dan As Sunnah) yg dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Kedua bentuk hubungan itu dijelaskan  dalam satu ayat suci Al Qur’an:

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah,Tuhan semesta alam.” (QS Al A’raaf : 74)

Dalam ayat di atas, ditegaskan bahwa menciptakan (al-khalq) dan memerintah (al-amr) adalah hak Allah semata. Hak memerintah dari Allah ini terwujud dalam dua bentuk. Pertama, perintah untuk alam semesta (al-amru al-kauni) berupa hukum-hukum alam (sunnatullah) yg berlaku untuk alam semesta; Kedua, perintah hukum syara’ (al-amru al-tasyri’i) berupa hukum-hukum syara’ yg mengatur peri kehidupan manusia.

Hubungan antara kehidupan dunia  (al-hayatu al-dunya) dengan apa yg ada setelah kehidupan dunia (ba’da al-hayati al-dunya) dijelaskan oleh Islam dalam 2 (dua) hubungan. Pertama, hubungan pembangkitan dan pengumpulan (shilatu al-ba’tsi wa al-nusyur). Yakni bahwa Allah SWT akan membangkitkan manusia dari kuburnya, kemudian mengumpulkan mereka  di Padang Mahsyar.  Kedua, hubungan perhitungan amal (shilatu al-muhasabah). Yakni Allah SWT tidak sekedar membangkitkan  dan mengumpulkan manusia, namun juga melakukan hisab (perhitungan) terhadap amal perbuatan manusia tatkala hidup dunia, apakah ia beriman kepada Allah atau tidak; bila beriman, apakah ia menjalankan perintah-Nya atau tidak serta  menjauhi larangan-Nya atau malah mengerjakannya.

“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan dari kuburmu di hari kiamat.” (QS Al Mukminun : 15-16).

Tentang hisab atau perhitungan amal baik dan buruk manusia, Allah menjelaskan:

“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yg telah mereka kerjakan dahulu.” (QS Al Hijr : 92-93).

Demikianlah jawaban Islam terhadap al-uqdatu al-kubra. Wajib bagi tiap muslim untuk meyakini jawaban  yg diberikan oleh Islam karena jawaban ini didasarkan pada al-wahyu yg pasti benar.  Allah menjelaskan bahwa tiap muslim  wajib mengikuti apa yg telah diturunkan-Nya dan haram  mengambil petunjuk  selain keduanya.

“Ikutilah apa yg diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (QS Al A’raaf : 3)

Jawaban Islam tentang al-uqdatu al-kubra yg bersumber dari wahyu Allah adalah jawaban yg sahih, memuaskan akal, dan sesuai dengan fitrah manusia.

“Alif laam miim. Kitab (Al Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yg bertaqwa.” (QS Al Baqarah : 1-2)

Dengan jawaban tuntas yg diberikan Islam tentang tiga pertanyaan mendasar “dari mana manusia berasal?”, “untuk apa manusia hidup?” dan “kemana setelah mati?”, tersingkaplah  simpul besar hakikat hidup seorang  muslim dengan gamblang, yakni bahwa manusia diciptakan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Setelah mati akan kembali kepada Allah untuk mempertanggung jawabkan apa yg telah dilakukan di dunia pada hari perhitungan (yaumu al-hisab). Dari itu akan ditentukan apakah manusia akan menjadi  penghuni surga atau neraka.

Manusia juga disebut sebagai khalifah. Allah berfirman,

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi …” (QS. Al Baqarah: 12)

Syekh Muhammad Ali Ash-Shobuni dalam kitab Shofatut Tafasir Juz I, menyatakan bahwa yg dimaksud dengan khalifah pada ayat di atas adalah manusia yg bertugas mengelola dan memakmurkan bumi  dengan hukum-hukum Allah SWT.  Maka dari itu bila manusia tidak memahami  hukum-hukum Allah SWT, pasti akan sulit untuk melakukan tugas-tugasnya sebagai khalifah sebagaimana telah ditetapkan Allah.

Ketika menciptakan  manusia, Allah SWT melengkapinya dengan  potensi-potensi kehidupan (thaqatun hayawiyatun) yg secara fitri akan mendorongnya untuk beraktifitas mewujudkan misi penciptaannya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya.

Potensi kehidupan yg dimaksud,  menurut Syekh Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab Al Fikru Al Islamy, berupa hajatu al ‘udhawiyah (kebutuhan jasmani) dan gharizah (naluri). Hajatu al ‘udhawiyah dapat berupa rasa lapar, haus dan kebutuhan  untuk buang hajat besar dan kecil, sementara gharizah berupa naluri beragama (gharizatu al-tadayun) yg berwujudannya berupa kecenderungan manusia untuk melakukan ibadah atau aktivitas mensucikan segala sesuatu yg dianggapnya besar; naluri  melangsungkan keturunan (gharizatu al nau’) dimana perwujudannya diantaranya berupa ketertarikan manusia kepada lawan jenisnya; dan naluri untuk mempertahankan diri (gharizatu al baqa’), yg salah satu ujudnya adalah keinginan manusia untuk menjadi pemimpin. Kebutuhan jasmani dan naluri itu menghendaki pemenuhan.

Persoalannya adalah disamping terkait dengan kemampuan menyediakan sarana/alat (material) pemuas, juga adalah bagaimana caranya manusia memuaskan semua kebutuhan jasmani dan naluri-naluri itu. Di sinilah, sesuai dengan misi penciptaan manusia  sebagai abdullah dan khalifah Allah SWT,  upaya memenuhi dan menyalurkan segenap potensi kehidupan itu   juga senantiasa harus berlandaskan pada aturan-aturan syariat Allah.

Maka, upaya memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri dengan cara yg tidak sesuai dengan aturan Allah berarti dengan sendirinya bertentangan dengan hakikat misi penciptaan manusia itu sendiri.

Maka, hidup seorang muslim adalah hidup dengan misi yg agung, hidup yg terarah dan mantap, serta hidup yg bermutu tinggi dengan keyakinan akan kegemilangan  hidup hakiki yg abadi di akherat kelak.

Sumber lengkap : MI Yusanto dkk. Menggagas Pendidikan Islam, Bogor : Al Azhar Press, 2014 (Terbit pertama 2003).

 

Pesan Cinta dari Allah Swt :

  1. Rendah dirilah selalu di hadapan Allah Swt
  2. Jadikan semua aktivitas hidup kita sebagai ibadah kepada Allah Swt
  3. Hiduplah dengan visi dan misi yg agung sebagaimana yg Allah kehendaki