Catatan LKMA Hari ke-1

77

Keteraturan, Kerapihan, dan Ketaatan Wajib dimiliki Oleh Delegasi LKMA 2016

Ahad, 30 Oktober 2016, Delegasi LKMA 2016 memulai menapaki perjalanannya. Selama di pesawat, tim tetap dalam berkoordinasi. Saling mengingatkan dalam kebaikan tetap menjadi ciri khas perjalanan sekaligus menjadi ciri seorang muslim. Shalat tahajjud di udara menjadi pengalaman tersendiri bagi Tim LKMA.

Akhirnya, tepat pukul 04.00 waktu setempat Tim  mendarat dengan selamat di Attaturk Haveli Airport, Istambul. Kami transit dan bersiap untuk melanjutkan penerbangan selanjutnya Istambul-Amsterdam. Di tengah riuhnya pendatang, bi idznillah, dengan nasrullah, kami diberikan kemudahan oleh petugas darat untuk melewati tempat transit berbeda, menghindari antrian yg mengular panjang. Delegasi sebanyak 71 orang dengan perlengkapan dan tampilan yang seragam, ditambah tampilan hijab yang dikenakan Tim Akhwat menjadi kertarikan tersendiri bagi warga sekitar. Rapih, teratur dan taat pada pemimpin selalu membersamai delegasi. Suatu hal wajib dan menjadi modal dasar perjalanan ini.

Setelah menunggu boarding, kami pun menaiki pesawat dengan maskapai penerbangan yang sama. Airbus 330-300 membawa kami menuju Amsterdam  dalam waktu 3 jam. Akhirnya kami pun mendarat di Schiphol Airport, Amsterdam. Kedatangan Tim LKMA 2016 menjadi hal yang menarik bagi pendatang yang berada di Schiphol Airport. Bahkan, di tengah ketatnya peraturan masuk ke Belanda, terbukti dengan setibanya di Bandara Schiphol,  Tentara Belanda turut  mengecek semua penumpang tepat di pintu keluar  garbarata tak lama setelah semua penumpang keluar dari pesawat. Tak terkecuali kami. Namun, ternyata dibalik keketatan tersebut, kami justru disambut dengan senyum dan sapaan  bahasa ibu, Bahasa Indonesia. Di luar dugaan, kata-kata apa kabar dan terima kasih keluar dari sosok tegap dan keras itu. Mereka juga melihat dan membiarkan kami saat melakukan sujud syukur serentak tak jauh dari mereka. Sungguh, sebuah respect yang tinggi dari mereka terhadap kami.

Setelah sejenak menyempatkan diri berfoto bersama di depan maskot Amsterdam yang ada di luar Bandara, delegasi bergegas menuju destinasi pertama, yakni PPME Al Ikhlas Amsterdam. Dalam perjalanan kembali kemudahan Allah berikan, petugas membantu mencarikan bis sewa dengan harga istimewa. Schipol – PPME Al Ikhlas dengan 2 bis dan pulang PPME Al Ikhlas – Schipol dengan 1 bis double dekker.

Di PPME Al-Ikhlas, kami bertemu dengan warga muslim Indonesia di Amsterdam. Bercengkrama dengan warga asli Indonesia juga peranakan. Bertemu dengan saudara semuslim dan senegara di tempat yang jauh dari kampung halaman, menjadi pengalaman tersendiri. Terlebih lagi, kami pun dijamu dengan makanan asli Indonesia, yaitu nasi yang selama perjalanan menuju Amsterdam, tidak didapatkan. Alhamdulillah. Kami melakukan presentasi dan diskusi interaktif. Sambutan dari PPME Al-Ikhlas begitu baik. Mereka berencana memberikan beasiswa bagi siswa mereka untuk di sekolahkan di Insantama, kelak serta menawarkan bantuan bagi alumni-alumni Insantama yang melanjutkan studi di Belanda. Bahkan, Ust Hansyah Iskandar Putra (Ketua PPME Al-Ikhlas, Amsterdam) bersama putranya, bulan Agustus mendatang berencana berkunjung ke Insatama. MasyaAllah…

Setelah shalat maghrib dan isya, kami melanjutkan perjalanan menuju Den Haag dengan kereta dari stasiun Schipol. Kembali, kami mendapat sambutan hangat diberikan oleh petugas kereta, bahkan dia membantu hingga keberangkatan kereta. Masya Allah. Namun muncul masalah lain, kami harus  dibagi dalam 6 kelompok kecil untuk masuk gerbong yang berbeda sementara kami hanya ditemani 1 pemandu saja. Perjalanan dengan tingkat kepadatan yang lumayan ramai, ditambah dengan barang bawaan yang tak sedikit menjadi tantangan lain bagi kami. Ketaatan dan koordinasi menjadi jawabannya. Alhamdulillah, akhirnya, pukul 19.47 waktu setempat, kami pun sampai di St. Deen Haag HS. Kemudian, kami pun berjalan kaki menyusuri perdestrian Deen Haag menuju Hostel Stay Okay  dan dua homestay sebagai tempat menginap Tim LKMA 2016 selama 3 hari kedepan.

Dalam perjalanan mulai dari Jakarta-Istambul, Istambul-Amsterdam, dan Amsterdam-Deeh Haag, iring-iringan 71 orang beserta perlengkapan koper yang cukup besar menjadi latihan terbaik bagi kami.  Keteraturan, kerapihan, dan ketataan pada pemimpin menjadi hal yang wajib dimiliki. Kebaikan yang ditampilkan, tidak hanya menjadi latihan terbaik bagi seluruh delegasi, namun sekaligus sebagai bentuk Syiar Islam di Benua Eropa. Insya Allah.

Semula kaget, karena saya kira kalian hanya sekedar silaturrahim biasa, ternyata lebih dari itu, kalian presentasi berbagi ilmu tentang dakwah, pendidikan karakter dan kepedulian terhadap negeri kita. Kaget lagi, karena kalian ternyata masih sangat muda, namun sudah bisa melakukan kegiatan seperti. Ini sangat memotivasi kami semua, khususnya remaja2 kami di sini. Tidak banyak sekolah yg membuat program seperti ini, saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Semoga kalian benar2 menjadi pemimpin umat masa depan…
Ustadz Budi Santoso,
Sesepuh dan Kepala Bidang Dakwah Persatuan Pemuda Muslim Eropa – Al Ikhlas Amsterdam

catatan kecil perjalanan bersejarah
bersambung