Berburu Kutu di Asrama Baghdad

103

Ada hal yang tidak biasa pada pagi hari ini (21/09) di lapangan depan asrama Baghdad. Di hari libur ini, ratusan kasur santri digelar sedemikian rupa sehingga hampir menutupi seluruh area lapangan asrama. Terlihat para santri begitu menikmati suasana ini. Ada yang sekedar tidur-tiduran, sementara sebagian besarnya saling bercengkrama di atas kasur yang mereka gelar, sembari menikmati panasnya matahari di pagi hari.

Mereka melakukan hal itu tentu saja bukan dalam rangka rekreasi, apalagi sekedar jemur badan, akan tetapi untuk menjemur kasur-kasur yang diduga kuat telah menjadi sarang kutu busuk. Serangga parasit kecil yang juga dikenal dengan bedbug (sunda : tumbila) ini sudah mulai kembali menyerang santri khususnya di asrama Baghdad. Dengan penjemuran kasur tersebut, diharapkan kutu-kutu yang masih ada didalamnya bisa keluar semua.

Pada malam sebelumnya, para santri ini sudah mendapatkan penjelasan terkait hal ihwal biologis kutu busuk dari Pak Heriza Budiman dari IPB. Bersama tim di almamaternya, saat ini beliau cukup concern melakukan survey terkait penyebaran serta pengendalian kutu busuk di Indonesia. Setelah mengetahui masalah berupa mewabahnya kutu busuk di asrama IBS Insantama, beliau kemudian terdorong menawarkan dirinya untuk memberikan penjelasan terkait kutu busuk ini kepada para santri. Gayung bersambut, pihak boarding pun menyambut baik tawaran beliau itu, untuk kemudian ditentukan waktunya.

Melalui Pak Heriza ini, para santri mendapatkan penjelasan mulai dari siklus hidup, kebiasaan, serta akibat dari gigitan kutu busuk itu pada manusia. “Kita harus tau biologinya, sebab jika tidak tau biologinya, maka akan sulit mengendalikannya (kutu busuk)”, beliau menjelaskan.

Pak Heriza menjelaskan pula bahwa kutu busuk itu termasuk ektoparasit, yakni sejenis parasit yang hidupnya secara parasit dipermukaan bagian luar tubuh atau bagian-bagian lain yang mudah di jangkau dari luar tubuh. “Teknik pengendaliannya (kutu busuk), bisa secara kimiawi (menggunakan obat-obatan pembasmi serangga) dan secara non kimiawi dengan menggunakan vacuum cleaner, pemanas atau dengan cara yang paling mudah yakni dijemur” beliau menambahkan.

Melalui pengarahan dari beliaulah, pihak boarding kemudian meminta seluruh santri, khususnya yang ada di asrama Baghdad, untuk menjemur kasur-kasurnya di hari ini.

Para santri ini ternyata tidak hanya menjemur kasur-kasurnya, namun juga akan melakukan pemberantasan kutu secara bersama-sama. Dengan dipimpin langsung oleh Pak. Makmun dan Pak. Oca, serta didampingi oleh para muaddib, para santri ini diarahkan untuk berburu kutu busuk berikut telor-telornya khususnya yang ada di kasur dan di ranjang mereka.

“Kita cukup prihatin dengan serangan kutu yang terjadi di asrama, pembasmian kutu busuk ini harus dilakukan secara serempak, tidak bisa dilakukan secara parsial” kata Pak Makmun, saat memberikan pengarahan sebelum aksi.

Pak Makmun, sebagai dir. Bagian umum SIT Insantama itu, menyampaiakan hal tersebut, karena selama ini pihak boarding bukan tanpa upaya memberantas serangan kutu. Berbagai cara pemberantasan, melalui masukan dari beberapa kalangan, pernah dicoba. Bahkan beberapa bulan sebelumnya, boarding pun sudah pula melibatkan salah satu perusahan swasta pengendali hama dengan biaya hingga belasan juta rupiah guna memberantas serangan kutu. Namun, beberapa minggu kemudian kutu-kutu busuk itu pun kembali mewabah. Bisa jadi, hal itu karena peran santri dalam hal ini belum optimal.

Sehingga sengaja pemberantasan kutu kali ini melibatkan para santri, agar dari sana diharapkan akan muncul kesadaran serta budaya akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, supaya kutu-kutu busuk itu tidak kembali mewabah. Kalaupun nantinya muncul kembali, para santri ini sudah tau bagaimana cara pemberantasannya.

“Pemberantasan kutu busuk ini harus melibatkan para santri, baik dari sisi pengetahuan seputar kutu busuk, juga dari sisi “action”nya, dalam bentuk pemberantasan serta penjagaan agar lingkungan para santri terbebas dari serangannya” terang salah seorang muaddib.

“Anak-anak, kutu-kutu ini senengnya tinggal di tempat-tempat lembab, mereka bisa berkembang biak sangat cepat. Bayangkan saja satu ekor kutu mampu bertelor hingga 10 butir, dan akan menetas dalam jangka waktu 3 hari” jelas Pak Makmun. Tak pelak penjelasan Pak Makmun itu membuat bulu kuduk para santri berdiri. “Maka dalam periode tertentu kita harus menjemur kasur, entah seminggu sekali atau dua minggu sekali…” beliau melanjutkan.

Setelah mendapatkan pengarahan umum dari Pak Makmun, giliran Pak Ocha, salah seorang OB, kemudian memperagakan metode pemberantasan kutu busuk. Untuk memudahkan, para muaddib menamainya dengan metode “CMO” (Cara Mang Ocha). Metode ini terdiri dari dua tahap, yakni berupa penyemprotan dan pemanasan. Penyemprotan dilakukan untuk kasur-kasur dengan menggunakan obat kimiawi pemberantas hama. Gunanya, agar kutu-kutu yang bersembunyi di dalam kasur bisa keluar bahkan mati.

Sementara pemanasan dilakukan untuk ranjang-ranjang yang tentunya hanya terbuat dari besi. Pemanasan ini dilakukan untuk memusnahkan telur-telur kutu yang tersembunyi di rongga-rongga ranjang. Alatnya berupa gas kaleng yang dilekatkan gas torch. Para santri tinggal memantiknya lalu mengarahkannya secara hati-hati pada setiap ranjang.

Setelah melihat peragaan ini, seluruh gurfah kemudian mendapatkan masing-masing dua jenis alat; penyemprot dan pemanas. Mereka mencoba terlebih dahulu alatnya, untuk memastikan alat-alat tersebut berfungsi dengan baik. Selanjutnya, masing-masing gurfah dibagi lagi menjadi dua kelompok; satu kelompok bertugas menyemprot seluruh kasur anggota gurfahnya, sementara kelompok lain bertugas untuk memusnahkan telur-telur yang tersembunyi di ranjang dengan alat pemanas.

Tak lupa, sebelum beraksi, para santri ini betul-betul diingatkan agar jangan sampai alat-alat pemberantasan kutu itu dijadikan alat permaian. Sebab akibatnya bisa fatal.

Selanjutnya para santri langsung bergerak melaksanakan tugasnya masing-masing. Mereka antusias berburu kutu-kutu busuk itu, baik yang ada di dalam kasur maupun yang di ranjang.
Di hampir setiap gurfah, terlihat kutu-kutu bergelimpangan tak bernyawa. Mungkin saking keselnya, beberapa santri malah ada yang sampai membakarnya. “antum ga boleh membunuh makhluk hidup dengan cara dibakar, itu haram” nasihat salah seorang muaddib ketika mengontrol berlangsungnya proses pemberantasan kutu.

Semua proses perburuan ini berlangsung sekitar dua jam-an. Para santri kemudian memasukan kembali kasur-kasur mereka yang sudah disemprot dan sudah kering. Mereka menata kembali masing-masing kamarnya yang sempat agak berantakan karena perburuan kutu. Setelah itu mereka diperbolehkan izin keluar untuk menikmati sisa liburan di hari ini.

Semoga melalui kegiatan berburu kutu bersama ini, para santri kemudian semakin sadar, bahwa upaya pemberantasan kutu ini sangat penting. Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana menciptakan sebuah kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan mereka supaya tidak terserang kutu. Yang dengan kesadaran itu akan melahirkan budaya hidup bersih, bukan sekedar agar tidak terserang kutu, akan tetapi karena kebersihan itu adalah sebuah kebutuhan.