Guruku: Sahabatku, Orangtuaku dan Sumber Ilmuku

-

“Ibu, tahu ngga bedanya ibu sama jam dua belas?” ucap seorang siswi mungil kelas dua kepada gurunya.  Siswi ini tidak sendirian, ia datang bersama 8 orang temannya.  Sepertinya dia dipilih oleh teman-temannya untuk menjadi juru bicara.

“Apa ya?” sang guru nampak berfikir.

“Ayo Bu” beberapa anak menyemangati.

“Kalau ibu itu orang, kalau jam itu benda” sang guru mencoba menjawab.

“Salah” semua siswi serempak menjawab.

“Kalau jam dua belas itu kesiangan, kalau ibu itu kesayangan”

Lantas guru dan murid itupun spontan berpelukan.

Pemandangan yang menyejukkan mata seperti itu adalah hal yang biasa di SDIT Insantama.  Kedekatan antara siswa siswi dengan gurunya.  Ini karena guru selain mengemban tugas sebagai pendidik yang menjadi sumber ilmu bagi siswa-siswinya, guru juga berperan sebagai sahabat sekaligus orang tua bagi semua siswa siswinya.  Bahkan tidak hanya bagi siswa siswi dalam perwaliannya, tapi meliputi semua siswa siswa seluruh angkatan dari kelas 1 sampai kelas 6.

Namun kedekatan yang terjalin setiap harinya dari mulai pukul 07.00 – 16.00 atau bahkan lebih, tidak membuat siswa “melunjak” dan melupakan adab.  Guru tetap menekankan pentingnya menjaga adab siswa terhadap guru demi keberkahan ilmu yang didapat siswa siswinya.

Tema Guruku: Sahabatku, Orang Tuaku dan Sumber Ilmuku diangkat menjadi salah satu rangkaian pekan Ta’aruf pada awal Januari 2024.  Sebelum mengerjakan tugas untuk mempraktekan adab terhadap guru, siswa diminta untuk mengucapkan rangkaian tema tersebut. Selain bertujuan untuk mempraktekan adab, hal ini juga bertujuan untuk menanamkan pada benak siswa bahwa siswa dan guru mempunyai hubungan unik.  Hubungan bagai sahabat dan teman bermain dan berdiskusi. Hubungan seperti orangtua dan anak dimana guru akan melindungi, menyayangi dan membantu menyelesaikan masalah siswa.  Tentunya hubungan sebagai guru dan siswa dimana guru akan membimbing agar siswa menjadi pribadi utuh yang berkarakter mulia. (Rani)