Labbaik Allahumma Labbaik..Labbaik Kala Syarika Laka Labbaik…innaal Hamda Wa an-ni’mata Laka Waal Mulk…La Syarika Laka…

Bogor – Lantunan kalimat talbiyah dari sekitar 225-an santri IBS, menggema pagi ini (10/02) di SIT Insantama. Dengan berpakaian kain ihram, santri ikhwannya berjalan berbaris menuju beberapa titik replika lokasi pelaksaaan ibadah haji dan umroh. Sementara santri akhwatnya, dengan menggunakan jilbab hitam, mengikuti dari belakang. Terlihat beberapa muaddib/h membantu mengarahkan semua peserta supaya mereka tetap tertib dalam pelaksanaan manasik haji ini.

Bertindak sebagai instruktur manasik haji kali ini, KH. Dr.Muhammad Rahmat Kurnia, Pembina travel haji dan umroh Insantama. “ibadah haji adalah seruan dari Allah, maka siapkan kehendak yang kuat untuk haji dan umrah, in sya Allah akan terlaksana..” kata Ust. Rahmat.

Pelaksanaan manasik haji ini, dilaksanakan di kampus Insantama. Semua lapangan di kampus Insantama hari ini digunakan sebagai lokasi kegiatan, mulai dari lapangan SD, lapangan plaza, hingga lapangan parkir di luar sekolah.

Panitia menetapkan titik-titik lokasi pelaksanaan rangkaian ibadah haji dan umrah. Panitia juga sudah menyediakan miniatur ka’bah, tenda jamaah haji, tugu jamarot (jumrah ula, wustha dan aqabah), mas’a (tempat sa’i), termasuk miniatur lokasi sumur zam-zam, tempat jamaah haji dan umroh, melepas dahaganya. Setiap lokasi diberi papan namanya masing-masing. Ada Masjidil Harom, Arafah, Muzdalifah, Jamarat, Mina dan bukit Shafa dan Marwa.

Para peserta tidak hanya diajak praktek peragaan pelaksanaan ibadah haji sesuai dengan rukun-rukunnya, mereka pun dibekali terlebih dahulu pengetahuan seputar ibadah haji dan umrah. “Jarak kita dengan Makkah dan Madinah itu hanya dua jengkal saja” kelakar ust, Rahmat, sambil menunjukan peta di layar.

“Haji merupakan seruan dari Allah SWT, dan merupakan salah satu rukun Islam”, terang Ust. Rahmat. Lalu beliau mengutip surat Ali Imron ayat 97, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

Selanjutnya, ust. Rahmat menjelaskan berbagai keutaman ibadah haji dan umroh. Di antaranya, akan dihapuskan dosa-dosanya, dihilangkan kefakiran dari dirinya, dihapus 10 keburukan, diberi 10 kebaikan dan diangkat 10 derajat oleh Allah, dilipatgandakan ibadah sholatnya hingga 100 ribu kali lipat, dimasukan kedalam surga-Nya, dikabulkan doa-doanya, serta berbagai keutamaan lainnya. “Oleh itu, Saat Antum diberi kesempatan oleh Allah untuk haji dan umroh, maka hendaknya membawa proposal ke sana, tulis Doa nya, untuk kebaikan diri sendiri, anak, suami/istri, sanak keluarga, untuk guru2, dan untuk Ummat Islam secara keseluruhan” jelas Ust. Rahmat.

Pada sesi prakteknya, para santri diupayakan agar mereka betul-betul merasakan dan mengalami kondisi ketika mereka haji dan umroh. Qadarullah, cuaca saat ini cukup cerah, sehingga para peserta bisa merasakan sengatan matahari langsung, sekalipun tidak sepanas di jazirah Arab.

“Kepala antum jangan ditutup,…antum batal (ihramnya) kalau begitu…” seru Ust. Rahmat, saat melihat salah satu santri menutupkan kain ihrom ke atas kepalanya karena kepanasan.

Lokasi pertama yang dikunjungi peserta adalah replika Arafah. Lokasi ini terletak di lapangan parkir SIT Insantama. Panitia menyediakan tenda putih yang biasa ditemukan di tempat aslinya. Beberapa santri berebut masuk ke dalam tenda. Ust. Rahmat tampak membiarkan polah mereka ini. Sambil tersenyum beliau bilang, “dasar budak (sunda:anak kecil)…”.

Di tempat ini, para peserta akan melaksanakan wukuf, yakni berhenti atau berdiam diri di padang Arafah. Kegiatan ini merupakan kegiatan utama dalam ibadah haji. Bahkan, inti ibadah haji adalah wukuf di Padang Arafah. Bila dalam rangkaian kegiatan haji jamaah tidak dapat melaksanakan wukuf dengan baik, maka tidak sah ibadah hajinya.
Ust. Rahmat menganjurkan kepada para peserta, ketika mereka berada di Arafah, agar mereka memperbanyak introspeksi diri, dzikir, bermunajat dari hati, memohon ampunan serta bertaubat. Di lokasi yang sama, disiapkan juga prosesi khutbah wukuf Arafah. Bertindak sebagai khotib, yakni Ust. Anas, yang menjadi peserta sekaligus pendamping instruktur utama.

Setelah dari Arafah, seluruh peserta diarahkan menuju lokasi berikutnya yang terletak di lapangan SD. Lokasi ini dijadikan replika Muzdalifah. Di lokasi ini mereka akan bermalam atau mabit. Di lokasi ini terlihat hampir sebagain besar peserta ikhwan bergelimpangan di teras dan lapangan SD, setelah Ust. Rahmat membolehkan mereka untuk tidur. Sementara di sisi lain, peserta akhwatnya terlihat duduk bersila dengan rapi.

Ust. Rahmat menjelaskan bahwa amalan yang dilakukan di Muzdalifah adalah shalat maghrib dan isya dengan menjamak serta dzikir. “di muzdalifah kita perbanyak berdoa dan dzikir….” Jelas ust. Rahmat. Di sini, jamaah haji mabit mulai setelah maghrib hingga terbit fajar 10 Dzulhijjah.

Selanjutnya, peserta training diarahkan menuju lokasi berikutnya, yakni replika Mina. Namun sebelum masuk ke lokasi Mina, mereka diminta memungut kerikil yang sudah disediakan panitia. Kegiatan peserta di sini akan melakukan prosesi melontar Jumroh ‘ Aqabah. Di lokasi Mina sudah tersedia 3 buah replika jumrah; ‘aqobah, wustho, dan ula.

Peserta ikhwan kebagian gelombang pertama yang melakukan prosesi lontar jumroh. Karena jumlah kerikil yang terbatas, masing-masing mereka dibekali 1 buah kerikil. Padahal masing-masing mereka harus melontar 7 (tujuh) buah kerikil. “..untuk lontaran pertama hingga keenam, hanya berupa isarat, batu dilontarkan pada hitungan ke tujuh…” jelas Ust. Rahmat. Lempar jumrah selanjutnya dilakukan oleh peserta akhwat.

Di saat yang sama, peserta ikhwannya diarahkan menuju replika komplek Masjid Al-Haram yang terletak di lapangan plaza Insantama. Di sana sudah berdiri tegak replika ka’bah lengkap dengan replika Maqam Ibrahim dan Hijir Ismailnya. Di lokasi ini mereka akan melakukan thawaf (berputar mengelilingi ka’bah), kemudian sa’i untuk haji tamattu.

Sebelum melakukan thawaf, Ust. Rahmat menjelaskan terlebih dahulu tata cara, rukun, syarat serta hal-hal yang membatalkan thawaf. “thawaf dilakukan sebanyak 7 putaran, berlawanan dengan arah jarum jam..” jelas Ust. Rahmat.

Setelah selesai thawaf, peserta ikhwan diarahkan berkumpul di tempat sya’I (mas’a) untuk melakukan prosesi berjalan atau berlari-lari kecil antara bukit Shofa dan Marwah. Sementara di lokasi lain, peserta akhwatnya mendapat giliran thawaf.

Melalui prosesi sya’i, jamaah haji diingatkan kembali keluarga nabi Ibrahim AS, yang senantiasa mentaati perintah Allah dalam setiap keadaannya, sehingga Allah memberkahi kehidupan mereka. Salah satunya adalah berupa air zam-zam, yang Allah kehendaki muncrat dari tumit kaki Ismail yang mengentak gurun pasir saat ibundanya mencari-cari air antara bukit Shofa dan Marwa.

Prosesi selanjutnya adalah tahalul yang berarti keluar dari keadaan ihram karena telah selesai menjalankan amalan haji seluruhnya atau sebagian yang ditandai dengan mencukur atau menggunting beberapa (paling sedikit tiga) helai rambut. Beberapa orang siswa mengajukan diri sebagai model. Sementara yang lainnya menyaksikan proses pengguntingan rambut temannya.

Di sekitar mas’a, panitia sudah menyediakan air minum bagi peserta. Ada tiga galon air minum bertuliskan “air zam-zam”. Para peserta tinggal menuangkannya sendiri ke dalam gelas yang tersedia. Mungkin karena cuacanya cukup cerah serta padatnya kegiatan manasik, mulai dari pembekalan materi hingga praktek yang memakan waktu selama lebih dari 2 jam-an itu, cukup membuat para peserta kehausan. Pada kondisi ini, air yang biasa mereka minum pun terasa begitu menyegarkan.

Beberapa siswa terlihat minum sambil berdiri, “kan pak, katanya minum air zam-zam itu sunnahnya sambil berdiri…” ungkap salah satu peserta. “iya kan, itu untuk air zam-zam, sedangkan yang antum minum itu air biasa yang tulisannya zam-zam..ayo duduk”, terang salah satu muaddib.

Training manasik haji kali ini tidak hanya diikuti para santri IBS Insantama saja, akan tetapi terlihat juga beberapa orang tua siswa. “Alhamdulillah, dengan acara manasik haji ini, banyak informasi yang saya dapatkan, dari yang sebelumnya yang saya gambarkan ibadah haji itu sangat rumit ya..tapi (setelah mengikuti prosesi manasik ini) simple-simpel saja ternyata” Kata Pak Abdu Syukur, yang berencana melaksanakan ibadah haji di tahun 2020.

Panitia menjelaskan, bahwa kegiatan training ini rutin dilaksanakan setiap tahun di IBS Insantama. Agenda ini diperuntukan bagi santri IBS Insantama angkatan pertama, kelas VII dan kelas X. Mulai di tahun ini, orang tua siswa pun bisa mengikuti agenda tahunan tersebut bersama para santri. (Kur)