Apa yang ingin dicari?
Yuk, Daftarkan Ananda di SIT Insantama
Daftarkan putra-putri Ayah Bunda di SDIT-SMPIT-SMAIT Insantama, Sekolah Para Juara dan Calon Pemimpin. Hadir di 24 kota di Indonesia.
Daftar SPMB

Terima Kasih Bu Euis untuk 21 Tahun Bersama Insantama

Hari ini, Senin 25 Agustus 2025, menjadi hari yang penuh haru bagi keluarga besar Insantama. Di tengah suasana pagi yang biasanya riuh dengan canda para siswa dan kesibukan para guru, udara terasa berbeda. Ada kesedihan yang tak terucap, ada rasa kehilangan yang sulit disembunyikan.

Sebab hari ini, seorang guru yang selama dua puluh satu tahun telah menorehkan jejak emas dalam perjalanan SIT Insantama, akhirnya menutup pengabdiannya secara resmi. Ia adalah Euis Masitoh, guru Qiraati yang sejak tahun 2003 setia mendidik generasi demi generasi untuk mencintai Al-Qur’an.

Dua puluh satu tahun bukanlah waktu yang sebentar. Dalam rentang waktu itu, ribuan anak telah duduk di hadapan Bu Euis, mengeja huruf demi huruf Al-Qur’an, melafalkan ayat demi ayat dengan penuh kesabaran. Tak terhitung berapa banyak siswa yang kini lancar membaca Qur’an, bahkan menjadi penghafal, berkat sentuhan lembut tangannya. Dengan sabar, ia menuntun dari huruf alif hingga mampu menamatkan mushaf. Bukan sekadar mengajar membaca, tapi juga menanamkan rasa cinta yang mendalam terhadap Kalamullah.

Bu Euis selalu berpesan dengan kalimat sederhana namun begitu dalam maknanya. “Nomor satukan Al-Qur’an, maka pelajaran yang lain akan berkah semuanya. Bu Euis memohon maaf jika selama mengajar seolah memaksa siswa untuk tadarus, murajaah hafalan doa, gharib, tajwid. Semua itu Ibu lakukan karena sayang sama antum semua, murid-murid Ibu,” tambahnya dengar suara bergetar menahan tangis.

Kalimat itu telah menjadi napas bagi setiap langkah pengajaran Bu Euis. Pesan yang terus terngiang, bukan hanya di telinga para murid, tetapi juga di hati para rekan guru. Sebab ia bukan hanya mengajar, tetapi memberikan teladan. Ia menunjukkan bagaimana seorang pendidik seharusnya meniti jalan langit lebih dahulu sebelum menapaki jalan bumi. Semua yang dilakukan terasa tulus, jernih, dan penuh keberkahan.

Hari ini, saat acara perpisahan digelar, suasana lapangan upacara dipenuhi oleh isak tangis. Guru-guru, siswa-siswa yang biasanya riang, semuanya larut dalam kesedihan. Satu per satu kenangan terlintas. Betapa Bu Euis selalu hadir awal waktu di kelas menyambut murid dengan senyum, mengajari dengan penuh kelembutan, tanpa keluh kesah. Bahkan ketika menghadapi murid yang lambat memahami, ia tetap bersabar.

“Tidak usah ngegas dalam mendidik anak,” begitu pesannya dalam berbagai kesempatan. Nasihat itu bukan hanya untuk siswa, tapi juga menjadi prinsipnya dalam mendidik putra-putri di rumah.

Bu Euis pernah bercerita, dengan wajah teduh dan mata berbinar, bahwa anak-anaknya tidak ada yang sulit dididik. Putra-putrinya penurut, mau diarahkan, mau mendengar.

“Kuncinya jangan ngegas. Jalani dengan sabar, jalur langit dulu ditempuh,” ujarnya sambil tersenyum.

Betapa indah cara Bu Euis menanamkan nilai-nilai Qur’ani, tidak dengan teriakan atau paksaan, melainkan dengan keteladanan dan kelembutan. Itulah yang menjadikan hasil didikannya begitu membekas, baik di keluarga maupun di sekolah.

Sebagai rekan guru, penulis bersaksi bahwa Bu Euis adalah sosok yang amanah. Ia tidak pernah mengabaikan tanggung jawab. Dalam setiap langkah, selalu ada ketelitian dan doa. Dalam setiap keputusan, selalu ada keikhlasan. Ia tidak hanya mengajarkan Qiraati, tapi juga mendidik untuk menjaga hati. Bagi Bu Euis, keberhasilan seorang murid bukan sekadar bisa membaca Qur’an dengan fasih, tetapi ketika Al-Qur’an menjadi cahaya dalam hidup mereka.

Hari ini, di antara tangis siswa yang enggan berpisah, penulis merenungkan kembali betapa besar jasa Bu Euis. Dua puluh satu tahun, artinya hampir sama dengan perjalanan usia sekolah ini, ia ada di dalamnya. Menjadi saksi jatuh bangun, suka duka, hingga keberhasilan Insantama. Tanpanya, mungkin tak banyak yang menyadari bahwa fondasi utama sekolah ini adalah cinta terhadap Qur’an.

Namun, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Bu Euis telah sampai pada titik purnabakti, tetapi jasa dan nasihatnya akan terus hidup. Murid-muridnya kini bertebaran ke berbagai penjuru, membawa sinar Qur’an ke mana pun mereka pergi. Rekan-rekan guru pun akan terus mengingat pesan Bu Euis untuk selalu menomorsatukan Al-Qur’an di atas segalanya.

Ketika ia pamit dengan suara bergetar, suasana di lapangan upacara kembali pecah. Tangis para siswa semakin deras. Ada yang berlari memeluknya, ada yang menunduk sambil menyeka air mata. Bahkan para guru pun tak kuasa menahan haru. Sebab semua tahu, yang dilepas bukan hanya seorang guru, melainkan seorang ibu, seorang teladan, seorang penjaga cahaya.

Terima kasih, Bu Euis. Dua puluh satu tahun pengabdianmu akan selalu tercatat, tidak hanya di arsip sekolah, tetapi di langit, di sisi Allah. Semoga Allah membalas setiap huruf yang engkau ajarkan dengan pahala yang tidak pernah terputus. Semoga Allah limpahkan kesehatan, keberkahan, dan kebahagiaan dalam setiap langkah baru setelah masa purnabakti ini.

Insantama mungkin akan kehilangan sosokmu dalam keseharian, tetapi warisanmu, Al-Qur’an di hati murid-murid akan terus hidup. Selamat jalan menapaki babak baru kehidupan, Bu Euis. Engkau telah menanam dengan penuh kesabaran, dan kelak insyaallah akan menuai dengan penuh kebahagiaan.

Hari ini bukanlah akhir. Ini hanyalah jeda, untuk kelak bertemu lagi dalam kebersamaan yang lebih indah, di bawah naungan Al-Qur’an, di dunia maupun di akhirat.[] Siti Sobiah

Baca lainnya

Terima Kasih Bu Euis untuk 21 Tahun Bersama Insantama

Hari ini, Senin 25 Agustus 2025, menjadi hari yang penuh haru bagi keluarga besar Insantama. Di tengah suasana pagi yang biasanya riuh dengan canda para…