Pagi yang sejuk disambut riuh anak-anak, sapaan hangat orang tua, dan senyum guru yang tak biasa. Sejak matahari belum tinggi, halaman sekolah dipenuhi keluarga besar Insantama yang bersiap menuju Taman Safari Indonesia, Kamis, 4 September 2025. Sebanyak 19 bus eksekutif berbaris rapi, membentuk pemandangan yang mengesankan—simbol bahwa kebersamaan ini bukan sekadar acara rekreasi, tetapi perjalanan hati.
Keberangkatan dimulai dengan keceriaan. Anak-anak berlarian membawa tas kecil, para ayah memastikan bekal keluarga, sementara ibu-ibu saling menyapa sebelum naik bus. Dari dalam kendaraan, tawa bersahutan, obrolan ringan mengalir, dan wajah-wajah penuh harap menandai bahwa hari ini bukan hari biasa.
Sesampainya di lokasi, rombongan menyambut pagi dengan yel-yel penuh semangat.
“Siapa kita?”
“Keluarga Ansharullah!”
“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
Takbir yang menggema menegaskan bahwa ikatan mereka bukan sekadar kolega, tetapi keluarga dalam perjuangan.
Famgath (family gathering/rekreasi yang melibatkan keluarga) kali ini terasa istimewa karena bertepatan dengan Milad Insantama ke-24. Tidak seperti perayaan pada umumnya, milad sekolah ini hanya digelar setiap 12 tahun sekali. Saat ada yang bertanya alasannya, Ketua Yayasan Insantama Cendekia (YIC) Ustadz Muhammad Ismail Yusanto, menjawab ringan, “Biar tidak sering-sering miladnya.” Jawaban singkat itu mengundang tawa. Namun menyimpan filosofi bahwa perayaan langka justru membuat makna semakin dalam.
Sejak awal berdiri, Insantama tumbuh dari keterbatasan menjadi sekolah bermutu yang dikenal luas. Famgath 2025 adalah wujud rasa syukur atas perjalanan itu, sekaligus momentum memperkuat langkah menuju masa depan.
Safari Journey menjadi agenda pertama. Anak-anak bersorak melihat zebra merumput, jerapah menjulurkan leher anggun, dan unta berjalan pelan dengan ekspresi lucu. Ketika memasuki area singa dan harimau, mata mereka berbinar menempel di kaca. Orang tua pun tak kalah antusias, seolah kembali ke masa kecil.
Perjalanan itu bukan hanya hiburan, tetapi pelajaran langsung tentang keanekaragaman ciptaan Allah. Dari gajah jinak, kudanil yang tenang, hingga burung eksotis, semua memberi pesan tentang peran dan keindahan makhluk.
Setelah itu, rombongan menuju Istana Panda. Dari jauh, bangunan bergaya Tiongkok tampak megah. Begitu masuk, suasana sejuk dan dekorasi bambu menenangkan hati. Anak-anak melompat kecil ketika panda muncul dan duduk santai sambil memakan bambu. Tawa pecah, senyum dewasa pun tak terbendung. Seorang anak berucap polos, “Kasihan ya, Mi, pandanya tinggal satu, tidak ada temannya.” Kalimat sederhana itu mengundang haru dan membuat suasana semakin hangat.
Di tengah keceriaan, ada momen penuh khidmat. Seluruh peserta berkumpul dan membacakan Ikrar Keluarga Besar Insantama dengan lantang. Isi ikrar menegaskan komitmen untuk bersyukur, berpegang pada syariat Allah, menjadi keluarga pejuang Islam, serta menjaga amanah dan disiplin. Momen itu mengukuhkan tekad bersama.
Usai ikrar, peserta menikmati berbagai wahana. Ada yang mencoba roller coaster dengan teriakan lepas, ada yang memasuki rumah hantu, ada yang memilih berjalan santai menikmati udara pegunungan. Seorang guru berkata sambil tersenyum, “Perasaan jadi lebih segar setelah ini, seperti dapat energi baru untuk bekerja lagi.”
Menjelang sore, rombongan kembali menaiki bus. Tubuh lelah, tetapi wajah bahagia. Udara kebersamaan terasa menguatkan, tawa dan cerita memenuhi perjalanan pulang.
Famgath 2025 di Taman Safari Indonesia meninggalkan kesan mendalam. Ia menjadi bukti bahwa ukhuwah menjaga semangat, sinergi menumbuhkan energi, dan syukur menjadi sumber kebahagiaan sejati.
Kami, keluarga besar Insantama, bersama adalah keluarga Ansharullah.[] Siti Sobiah







