Rasa lelah seakan menguap saat tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Wajah-wajah antusias para orang tua, tamu undangan, dan pengurus yayasan menjadi hadiah terindah bagi perjuangan panjang guru dan siswa SDIT Insantama dalam menyiapkan Insantama Special Moment (ISM) 2026, Kamis, 25 Juni 2026 di Braja Mustika Convention Center.
“Hilang sudah rasa lelah melihat antusiasnya para tamu undangan, bapak-ibu yayasan, dan orang tua yang berkumpul dengan meriah,” ungkap Diki Arta Damiki, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SDIT Insantama.
Usai menuntaskan rangkaian Asesmen Sumatif Akhir Tahun (ASAT), para guru dan siswa langsung melanjutkan perjuangan. Mereka mempersiapkan berbagai penampilan terbaik untuk Big Assembly dan ISM 2026.
Tahun ini, ISM mengusung tema Tempa Diri Menjadi Muslim Sejati. Menurut Abdurrahman selaku penanggung jawab ISM 2026, seluruh rangkaian latihan dirancang bukan sekadar menghasilkan penampilan yang menarik, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter.
“ISM kali ini mengangkat tema Tempa Diri Menjadi Muslim Sejati. Melalui proses latihan, disiplin, dan kerja sama, anak-anak belajar membentuk karakter seorang Muslim yang tangguh,” jelasnya.
Kesungguhan itu pun terlihat di atas panggung dan mendapat apresiasi dari para orang tua. Bunda Taqiya, orang tua siswa kelas 3D, mengungkapkan kesannya, “Oke banget, tampilannya mantap, kompak, lebih tertata dan rapi.”
Hal senada disampaikan Bunda Dayan dari kelas 3E. “Rapi, kompak, antusias. Kreatif para guru pembimbingnya. Anaknya nurut semua,” tuturnya.
Di balik penampilan yang memukau, tersimpan kisah perjuangan yang tidak ringan. Ruhi dan Mishall, siswa kelas 3 yang memainkan perkusi menggunakan galon, mengaku sempat merasakan tangan pegal selama latihan.
“Awalnya sakit tangan ana, Bu, tapi lama-lama tidak sakit,” ujar keduanya.
Cerita lain datang dari Inara, siswi kelas 3F yang memainkan ember sebagai alat musik perkusi.
“Stik kayu ana sempat patah, Bu,” katanya sambil tersenyum.
Candaan pun mewarnai cerita mereka. Farah dari kelas 3E langsung menimpali, “Ana dong, enggak ada yang patah stiknya,” ucapnya disambut tawa teman-temannya.
Perjuangan serupa dirasakan para siswa yang bertugas sebagai penyanyi. Sami’, siswa kelas 4F, mengaku suaranya sempat serak karena latihan yang intensif.
“Ikhwan menuntut suaranya lebih kencang,” katanya.
Rayyan dari kelas 2D juga mengalami hal yang sama.
“Suara ana kayak mau habis, Bu, kalau habis latihan nyanyi.”
Semua rasa lelah itu akhirnya terbayar ketika penampilan mereka menuai apresiasi dari para hadirin.
“Mantap, keren pokoknya tampilan anak-anak,” ungkap Ibunda Retno, R&D Yayasan Insantama Cendekia.
Apresiasi singkat namun penuh makna juga datang dari Ibu Dedeh Wahidah.
“Mantap,” ujarnya sambil tersenyum.
Tak hanya siswa yang merasakan ketegangan. Para guru pun mengaku ikut berdebar menyaksikan anak-anak tampil.
“Masyaallah walhamdulillah, sudah sukses tampilannya. Tadi kita sebagai guru juga deg-degan melihat anak-anak tampil,” ungkap Bu Tria. Hal itu diamini Bu Amelia.
Kesungguhan dalam setiap proses itulah yang akhirnya melahirkan persembahan terbaik di panggung ISM 2026.[] Siti Sobiah









