“Banyak orang pintar, tetapi hanya sedikit yang ilmunya menjadi cahaya hidup.”
Kalimat yang disampaikan Direktur Pendidikan SIT Insantama Dr. Muhammad Rahmat Kurnia menggema di Aula Naufal Syauqi SDIT Insantama. Suasana hening. Para guru yang mengikuti hari kedua Rapat Kerja (Raker), Selasa, 6 Januari 2026, tampak menyimak dengan saksama. Bagi Ustadz Rahmat, begitu sapaan akrab Direktur Pendidikan, kecerdasan saja tidak cukup. Ilmu harus menjadi cahaya dan cahaya itu hanya menyala jika dilandasi iman, tsaqafah Islam, dan adab.
Sejak awal pembekalan, ia menekankan satu benang merah: kebahagiaan dalam ketaatan. “Taat itu harus bahagia, mengajar itu harus bahagia, jadi guru itu harus bahagia karena kita sedang menebar ilmu, ilmu itu cahaya,” tuturnya penuh semangat.
Kebahagiaan yang dimaksud bukanlah euforia sesaat, melainkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Bahagia karena sadar sedang mengemban amanah besar sebagai penebar ilmu dan penanam paradigma yang benar.
Paradigma ilmu, menurutnya, sangat menentukan arah hidup. Jika keliru memahaminya, maka ilmu bisa kehilangan orientasi dan tujuan.
Ia menegaskan, ilmu agama memiliki posisi sentral dalam mengarahkan seluruh cabang ilmu lainnya. Pandangan ini selaras dengan pernyataan Presiden Ke-3 RI, Prof. BJ Habibie, yang pernah menyampaikan bahwa meski Allah memberinya kemampuan di bidang teknologi hingga mampu membuat pesawat terbang, ilmu agama tetap lebih bermanfaat bagi umat dan menjadi pilihan utama jika harus memilih.
Pesan itu mempertegas, kemajuan sains dan teknologi harus berpijak pada keimanan agar benar-benar memberi maslahat.
Dalam konteks inilah, Insantama memadukan tiga pilar pendidikan: pembentukan syakhshiyyah islamiyyah (kepribadian Islam), penguatan tsaqafah Islam, serta penguasaan ilmu kehidupan dan sains teknologi (saintek). Fondasi ini diarahkan untuk melahirkan generasi berilmu yang beriman, beradab, dan siap berkontribusi bagi umat.
Tak hanya itu, Ustadz Rahmat juga mengingatkan pentingnya menanamkan misi keumatan kepada peserta didik. Ilmu tidak boleh berhenti pada capaian pribadi. Harus menjadi bekal untuk membela nilai-nilai Islam, memberi solusi, dan membangun peradaban. Siswa diharapkan tumbuh sebagai bagian dari solusi umat, bukan sekadar penikmat hasil pendidikan.
Pembekalan hari kedua Raker ditutup dengan refleksi yang menguatkan komitmen bersama: menjadi guru yang bahagia dalam ketaatan, istiqamah dalam pengabdian, dan terus menebar cahaya ilmu bagi generasi Ansharullah.[] Siti Sobiah







