Apa yang ingin dicari?
Yuk, Daftarkan Ananda di SIT Insantama
Daftarkan putra-putri Ayah Bunda di SDIT-SMPIT-SMAIT Insantama, Sekolah Para Juara dan Calon Pemimpin. Hadir di 24 kota di Indonesia.
Daftar SPMB

Rindu Baitullah Membuncah di Manasik Haji ke-VII SDIT Insantama

“Labbaiik Allahumma labbaiik…” Lantunan talbiyah menggema sejak pagi, memenuhi sudut-sudut SDIT Insantama yang hari itu berubah menjadi miniatur Kota Makkah. Suasana haru begitu terasa. Beberapa siswa tampak meneteskan air mata, menyimpan rindu dan harapan agar suatu hari dipanggil Allah menuju Baitullah.

Suasana penuh kekhusyukan tersebut menjadi penanda dimulainya Manasik Haji ke-VII SDIT Insantama yang diselenggarakan pada Sabtu, 29 November 2025. Kegiatan ini diikuti oleh 155 siswa kelas V dan VI serta para guru PAK, sebagai bagian dari pembelajaran praktik ibadah haji bagi peserta didik.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Pak Agus Suleman. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa manasik haji bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sarana mengenalkan ibadah haji sebagai rukun Islam kelima.

“Haji adalah ibadah fisik. Kalian pasti merasakan capek, tetapi pahalanya luar biasa. Jadikan manasik ini sebagai wasilah untuk memantaskan diri agar suatu hari Allah memanggil kita ke Baitullah,” tuturnya. Doa tersebut diamini seluruh peserta, seiring langit cerah yang seolah mengangkat harapan: Ya Allah, panggil kami ke Baitullah.

Manasik haji ini menjadi praktik nyata materi PAI kelas V sekaligus pemenuhan nilai SKU. Tidak hanya mempelajari teori, siswa diajak merasakan langsung rangkaian ibadah haji yang selama ini mereka kenal melalui buku.

Dengan kreativitas para guru Insantama, lingkungan sekolah disulap menyerupai kota suci. Lapangan parkir menjadi miqat makani, tempat siswa melafalkan niat haji. Perjalanan dilanjutkan ke aula sebagai miqat zamani, dengan talbiyah yang terus dikumandangkan. Rombongan kemudian bergerak menuju lapangan tengah sebagai Mina, lalu ke ISCI yang disulap menjadi Padang Arafah, lengkap dengan panas terik yang menghadirkan suasana Arafah sesungguhnya.

Plaza SD difungsikan sebagai Muzdalifah, sementara lapangan SMP menjadi Masjidil Haram dengan Ka’bah mini. Antusiasme peserta semakin terlihat saat prosesi lempar jumrah di lapangan kelas 2.

“Seru banget pas lempar jumrah!” ujar Zahira, siswi kelas V, dengan mata berbinar.

Rangkaian manasik ditutup dengan sa’i di skybridge yang berperan sebagai Shafa–Marwah, kemudian diakhiri dengan tahallul sebagai simbol selesainya ibadah.

Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan penuh kekhusyukan. Lebih dari sekadar pembelajaran, manasik haji ini menanamkan harapan besar di hati para siswa agar kelak mereka benar-benar menjadi tamu Allah di Tanah Suci. Semoga Allah meridhai setiap langkah dan niat baik mereka.[] Siti Sobiah

Baca lainnya

Rindu Baitullah Membuncah di Manasik Haji ke-VII SDIT Insantama

“Labbaiik Allahumma labbaiik…” Lantunan talbiyah menggema sejak pagi, memenuhi sudut-sudut SDIT Insantama yang hari itu berubah menjadi miniatur Kota Makkah. Suasana haru begitu terasa. Beberapa…