Auditorium SIT Insantama dipenuhi dengan suasana haru dan kebahagiaan saat terselenggara Khotmul Qur’an XVII, Sabtu, 16 Agustus 2025. Sebanyak 61 siswa berhasil menuntaskan bacaan Al-Qur’an dengan standar Qiraati yang fasih dan tartil, menandai pencapaian yang membanggakan bagi seluruh keluarga besar SIT Insantama.
Acara dibuka dengan lantunan ayat-ayat suci yang mengalun dari lisan polos anak-anak. Suasana menjadi haru ketika para orang tua tidak dapat menahan air mata haru. Anak-anak yang dahulu belajar mengeja huruf demi huruf kini mampu melantunkan Kalamullah dengan penuh kelancaran dan keindahan. Hati yang tergetar, bibir yang tersenyum, dan dada yang dipenuhi rasa syukur menjadi gambaran betapa besar perjuangan yang telah mereka tempuh.
Keberhasilan anak-anak dalam menghafal dan membaca Al-Qur’an bukan hanya prestasi duniawi, tapi juga bekal berharga untuk akhirat. Lisan mereka yang fasih membaca Al-Qur’an kelak akan menjadi cahaya di alam kubur, penolong di hari kiamat, bahkan menjadi syafaat bagi kedua orang tuanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari kiamat, cahayanya lebih indah daripada cahaya matahari” (HR Abu Dawud).
Dalam sambutan yang penuh makna, Manajer Qiraati Bapak Asra mengingatkan, perjuangan sesungguhnya tidak berhenti setelah Khotmul Qur’an. “Banyak yang tidak bisa mempertahankan bacaan Al-Qur’an karena tidak melakukan murajaah,” ujarnya. Pesan ini menjadi peringatan bagi semua bahwa mempertahankan keindahan bacaan dan ketepatan tajwid adalah tantangan besar yang harus terus diupayakan.
Momen haru semakin terasa ketika seorang ayah menyampaikan pengalamannya dengan penuh haru, “Saya sering diluruskan bacaan Al-Qur’an oleh anak saya.” Sementara itu, seorang bunda dengan tulus mengucapkan terima kasih kepada para guru, “Kami bangga anak-anak bisa ikut Khotmul Qur’an. Semoga langkah ini menjadi awal yang baik untuk mereka terus membersamai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.”
Acara ditutup dengan pelukan hangat, senyum bahagia, dan doa yang dipanjatkan bersama. Keyakinan tumbuh dalam hati setiap orang tua bahwa anak-anak ini akan tumbuh menjadi generasi shalih dan shalihah, generasi Qur’ani yang menjaga kemuliaan umat.
Khotmul Qur’an bukanlah sebuah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang bersama Kalamullah. Peran orang tua sangat penting untuk terus mendampingi, mengingatkan, dan memberikan teladan. Karena anak-anak bukan hanya pewaris harta, tetapi pewaris iman dan cahaya Al-Qur’an.[] Siti Sobiah







