Puluhan siswa SDIT Insantama pagi itu duduk dengan buku terbuka di tangan, Selasa, 3 Maret 2026 di SIT Insantama Bogor. Namun yang mereka cari bukan sekadar jawaban. Di antara baris-baris kalimat tentang Al-Aqsha dan Palestina, mereka berhenti, berpikir, lalu menulis dengan serius. Di kelas, di aula, hingga selasar sekolah, aktivitas membaca berubah menjadi ruang lahirnya empati. Tenang. Namun sarat makna.
Pemandangan itu menjadi momen hari kedua Kepompong Ramadhan 1447 H yang istimewa. Dengan tema Wujudkan Generasi Ansharullah: Tumbuh dengan Iman, Peduli Al-Aqsha, seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6 terlibat aktif, menjadikan setiap sudut sekolah sebagai ruang belajar yang hidup dan bermakna.
Kegiatan ini dipandu oleh para guru di bawah koordinasi Ketua Panitia Kepompong Ramadhan Ricky Aditya, serta penanggung jawab Semarak Literasi Nurul Maulida. Menurut Ricky, literasi Ramadhan bukan sekadar aktivitas membaca, tetapi upaya menanamkan fondasi intelektual bagi lahirnya generasi Ansharullah, generasi yang kuat iman dan ilmunya, serta mampu memperjuangkan nilai keadilan dan kemanusiaan secara cerdas, damai, dan produktif.
Sementara itu, Nurul Maulida menjelaskan, tema Masjid Al-Aqsha dipilih untuk menumbuhkan keimanan sekaligus kepedulian siswa. Melalui kisah perjuangan rakyat Palestina, siswa diajak memahami bahwa ilmu tidak boleh berhenti pada pemahaman, tetapi harus melahirkan empati dan mendorong tindakan nyata.
Kegiatan diawali dengan biah shalihah di kelas. Lantunan tilawah Al-Qur’an, pelaksanaan shalat Dhuha, serta materi Bina Syakhshiyyah Islamiyyah tentang kemuliaan Masjid Al-Aqsha menghadirkan suasana spiritual yang kuat sejak pagi. Siswa juga diajak memahami hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim tentang tiga masjid utama yang dianjurkan untuk diziarahi: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha.
Memasuki sesi literasi, suasana semakin dinamis. Siswa membaca buku islami yang mereka bawa dari rumah. Lalu menuangkan pemahaman mereka ke dalam berbagai karya kreatif yang sarat makna.
Siswa kelas 1 hingga 4 menempelkan ringkasan bacaan pada “pohon literasi” yang perlahan dipenuhi daun-daun ilmu. Kelas 1 dan 2 menulis surat untuk Palestina dengan bahasa sederhana dan penuh ketulusan. Kelas 3 menyusun fishbone literasi, kelas 4 membuat majalah dinding, kelas 5 mengekspresikan kecintaan melalui kaligrafi, dan kelas 6 membuat diorama Kubah Shakhrah di kompleks Al-Quds dengan detail yang mengagumkan.
Setiap karya yang dihasilkan bukan sekadar tugas, melainkan cerminan dari proses berpikir dan rasa peduli yang tumbuh. Dari membaca, mereka belajar memahami. Dari memahami, mereka belajar merasakan. Dan dari merasakan, mereka mulai bergerak.
Semarak Literasi Ramadhan ini menjadi proses pembentukan karakter, menanamkan iman, menumbuhkan empati, dan menguatkan kepedulian terhadap sesama, khususnya terhadap kemuliaan Al-Aqsha.
Dari ruang-ruang kelas Insantama, harapan itu disemai. Bahwa dari buku-buku yang mereka baca hari ini, akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli dan berani mengambil peran.
Karena dari buku, lahir kesadaran. Dari kesadaran, tumbuh kepedulian. Dan dari kepedulian, terwujud aksi nyata, langkah kecil menuju lahirnya generasi pembela Al-Aqsha.[] Nono Hartono







