Siapa sangka, malam yang semula dibayangkan sebagian siswa sebagai sesuatu yang “seram” karena bermalam tanpa orang tua, justru berubah menjadi pengalaman yang menyenangkan dan penuh kenangan. Kesan itu tergambar dari wajah-wajah ceria para siswa yang tak henti bercerita keesokan harinya.
“Mabit seru karena ana jadi punya kakak kelas,” ujar Aisyah dari kelas 1 dengan wajah sumringah.
“Seru tuker kadonya, nyalain lampion,” sambung Yumna dari kelas 2C.
“Dapet kadonya imut, terus nyalain kembang api,” tambah Mikata dari kelas 3A.
“Senang mabitnya karena bu gurunya baik dan sabar,” tutur Risha dari kelas 3B.
Testimoni sederhana itu seakan menepis semua bayangan “menyeramkan” tentang bermalam di sekolah. Yang tersisa justru tawa, kehangatan, dan cerita yang ingin terus diulang.
Kegiatan Mabit yang digawangi oleh Bu Riyanti ini memang dirancang bukan sekadar menginap, tetapi menghadirkan pengalaman yang menyenangkan sekaligus membangun. Sejak awal kegiatan, suasana sudah terasa cair. Tawa anak-anak, sapaan antar teman lintas kelas, hingga canda ringan perlahan menghapus rasa canggung.
Suasana semakin hidup ketika lagu gubahan Pak Ibnu Hakim dinyanyikan bersama. Liriknya sederhana, namun mampu menyatukan suasana:
Shalatullah salamullah
Ala thaha rasulillah
Ikut mabit bersama-sama
Adik kakak kelas bahagia
Mari jaga amal dan takwa
Hidup taat sampai ke surga
Mabit seru di Insantama
Amal shalih tetap terjaga
Mari kita raih pahala
Hidup taat penuh bahagia
Nyanyian itu membuat malam terasa hangat. Jauh dari kesan “seram” yang sempat terbayang sebelumnya.
Dalam pembukaan kegiatan di Auditorium SIT Insantama, Senin (9/3/2026), Pak Ibnu Hakim sempat bertanya, “Sama tidak dengan mabit sebelumnya?”
“Beda dong! Sekarang barengan kelas 1, 2, 3 dan pas puasa,” jawab para siswa kompak.
Kebersamaan lintas kelas itulah yang membuat suasana semakin akrab. Yang kecil merasa punya teman dan kakak baru, sementara yang lebih besar belajar berbagi dan mengayomi.
Tak hanya menghadirkan keceriaan, kegiatan ini juga sarat pembelajaran. Siswa berlatih menyampaikan kultum secara bergantian untuk melatih keberanian berbicara di depan umum.
Saat malam semakin larut, suasana perlahan berubah lebih tenang. Pada sepertiga malam, para siswa bangun untuk melaksanakan qiyamul lail berjamaah. Dalam heningnya malam, mereka belajar mendekat kepada Allah. Sebuah pengalaman ruhiah yang mungkin tak terlupakan.
Di sisi lain, kemandirian juga tumbuh. Anak-anak belajar mandi sendiri, merapikan tempat tidur, hingga tidur tanpa didampingi orang tua. Hal-hal sederhana yang sebelumnya terasa berat, perlahan menjadi biasa.
Dan ketika pagi tiba, perasaan itu berubah sepenuhnya.
Malam yang disangka seram, ternyata menyenangkan. Bahkan, meninggalkan jejak yang membuat mereka ingin mengulanginya kembali, sebuah malam yang bukan hanya penuh tawa, tetapi juga sarat makna, kebersamaan, dan pembelajaran hidup.[] Siti Sobiah







