Pembelajaran menjadi lebih berarti ketika guru tidak berhenti pada mengajar, tetapi melangkah lebih jauh: meneliti, merefleksi, dan memperbaiki. Semangat inilah yang terasa di SDIT Insantama, saat para guru meneguhkan diri sebagai peneliti di kelasnya sendiri.
Kesadaran itu menemukan momentumnya pada Sabtu pagi, 31 Januari 2026. Aula Muhammad Naufal Syauqi tidak sekadar menjadi ruang pertemuan, melainkan menjelma menjadi ruang muhasabah ilmiah. Sejak pukul 08.00 hingga 11.30 WIB, para guru larut dalam Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), sebuah ikhtiar bersama untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas dan bermakna.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru kelas 1–6 serta guru mata pelajaran Bahasa Sunda, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab. Dipimpin langsung oleh Kepala SDIT Insantama Adi Fadjar Nugroho bersama Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Agus Sulaeman. Pelatihan ini menghadirkan narasumber Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kota Bogor Herman Suherman. Sedangkan penulis, sebagai moderatornya.
Dalam arahannya, Kepala Sekolah menegaskan bahwa PTK bukan sekadar tuntutan administratif. Namun sekaligus jalan bagi guru untuk memahami persoalan nyata di kelas, lalu menghadirkan solusi yang tepat dan terukur. Dari sinilah pembelajaran yang lebih berarti dapat lahir.
Memasuki sesi materi, Pak Herman mengajak peserta memahami konsep dasar PTK sebagai penelitian reflektif yang dilakukan di kelas sendiri. Ia memperkenalkan model Kemmis dan McTaggart dengan siklus perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi, sebuah proses berulang yang mendorong guru untuk terus belajar dari praktik nyata.
Namun pelatihan ini tidak berhenti pada tataran teori. Para guru langsung diajak menyusun kerangka PTK. Aula pun berubah menjadi ruang diskusi yang hidup. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir, menunjukkan semangat meneliti mulai tumbuh, dari sekadar pemahaman menjadi tekad untuk melakukan.
Di penghujung sesi, Pak Herman menyampaikan pesan yang menggugah: PTK pada akhirnya kembali pada kemauan dan niat guru. Sebagai wujud kepedulian terhadap kualitas pembelajaran sekaligus karakter siswa yang dibina setiap hari.
Pesan itu diperkuat oleh rangkuman moderator yang lugas dan inspiratif. PTK disebutnya sebagai alat reflektif ilmiah, solusi berbasis data, sekaligus bentuk profesionalisme guru.
“Guru yang hebat bukanlah yang kelasnya selalu sempurna, tetapi yang berani mengakui kekurangan dan memperbaikinya,” ungkap moderator. Kalimat itu disambut tepuk tangan panjang, seolah menjadi deklarasi komitmen bersama.
Semangat tersebut semakin menggelora saat Bapak Agus Sulaeman memberikan tantangan konkret berupa lomba PTK antar guru. Sekolah berkomitmen memberikan penghargaan bagi karya terbaik, sebagai bentuk apresiasi atas budaya ilmiah yang sedang ditumbuhkan. Ajakan ini disambut penuh antusias, bahkan dengan takbir yang menggema.
Kesan mendalam juga dirasakan para peserta. Ibu Sri Mellia Marinda menyebut pelatihan ini sebagai titik balik dalam memahami dinamika kelas. Baginya, inovasi tidak harus dimulai dari hal besar, tetapi dari kepekaan melihat persoalan sehari-hari. Senada dengan itu, Bapak Marsambas menilai kegiatan ini sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem akademik yang reflektif, kritis, dan berkelanjutan.
Dari Aula Naufal pagi itu, sebuah pesan kuat mengalir. Guru Insantama tidak hanya mengajar, tetapi meneliti; tidak hanya menyampaikan materi, tetapi memperbaiki diri;
tidak hanya membimbing siswa, tetapi juga bertumbuh bersama mereka.[] Nono Hartono







