Kamis malam merupakan waktu yang ditunggu-tunggu santri IBS (Islamic Boarding School) Insantama, sebab ini adalah jadwal kajiannya ust. MR. Kurnia. Materi yang diberikan merupakan materi-materi penggugah jiwa yang sangat memotivasi. Seperti biasa, agenda ini selalu dimulai dengan marawis yang menggemakan lagu-lagu pilihan yang semakin menambah kecintaan kita pada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Pada kesempatan kali ini beliau membawakan materi dengan judul, “Al-Qur’an Pegangan Hidup.” Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa pegangan itu merupakan sesuatu yang penting, terlebih pegangan hidup. Pegangan hidup harus berasal dari Dzat Yang Maha Benar, yaitu Allah Swt. Dan pegangan hidup itu adalah Al-quran. Di dalam QS. al-fathir : 29-30 dijelaskan bahwa membaca Al-quran itu merupakan perdagangan yang tiada pernah merugi, pahala yang besar dan karunia serta rahmat dari Allah Swt.

Para santri juga dipahamkan akan pentingnya Al-quran sebagai Al Huda, petunjuk. Yang akan menyelamatkan manusia dari jeratan zaman yang jauh dari Allah Swt pada saat ini, yang tengah berupaya menyesatkan generasi muslim. Selain itu juga dijelaskan urgensi Al-quran sebagai obat dan rahmat yang akan menentramkan jiwa, membawa ketenangan dan menghilangkan segala keresahan. Hal ini juga telah dibuktikan secara ilmiah dengan membacakan ayat-ayat Al-quran, maka reaksi kristal dan molekulnya menjadi kristal dan molekul yang terbaik.

Maka dari itu, perlu bagi kita untuk memperbaiki Interaksi dengan al-quran sebagai ibadah, penentram jiwa dan yang akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi sahabatnya (HR. Muslim). Sahabat merupakan teman yang selalu ada dalam suka dan duka, selalu dekat serta saling menolong dalam kebaikan. Sahabat Al-quran berarti orang yang dekat dengan Al-quran dalam setiap kondisi dan membacanya disetiap kesempatan.

Beliau menegaskan bahwa, ketika ingin mendapat syafaat dengan Alquran, maka kita harus senantiasa berinteraksi dengan Al-quran. Berinteraksi dengan Al-quran, bisa kita biasakan dengan membacanya selama 10 menit dalam 120 menit, atau 10 menit setiap selesai shalat. Tentu hal ini akan memudahkan para santri untuk meraih cita-citanya sebagai hafidz dan hafidzah.

Dipenghujung acara, beliau meminta kepada beberapa santri untuk memberikan kesimpulan tentang apa apa yang telah beliau jelaskan. Para santri menyambut dan menyimak dengan penuh antusias. Semua sepakat bahwa kita harus lebih meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an.

Semoga para santri dapat meraih cita-cita mulia sebagai penjaga Al-quran, yang akan semakin mendekatkan kepada keridaan Allah Swt. Sehingga kesuksesan dunia akhirat dapat mereka raih, tak hanya mampu memberi kebanggaan pada orang tuanya dari segi akademik saja di dunia. Tapi di akhirat kelak juga memberikan mahkota kebanggaan kepada kedua orang tua nya sebab telah sukses sebagai penjaga Al-quran . Dan itulah wujud cinta seorang anak terhadap orang tua nya, yaitu keshalihannya.

Wallahu a’lam bishawab

Report: Mila Sari, S. Th. I