Tangan-tangan muda itu bergerak cepat memilah sampah: botol plastik ke satu kantong, sisa makanan ke kantong lain, residu dipisahkan tersendiri. Di tengah ramainya kawasan Lapangan Sempur, Kota Bogor, mereka tidak sekadar memungut sampah. Mereka sedang menunjukkan, kepedulian harus dibuktikan dengan tindakan.
Aksi itu menjadi bagian dari rangkaian Pra–Smart Teen Competition (Pra Smention) XV/2026 yang digelar OSIS SMAIT Insantama Bogor pada Sabtu, 24 Januari 2026. Mengusung tema Road to Smention: Waste Management in Action, kegiatan ini mendorong generasi muda untuk tidak hanya peduli, tetapi benar-benar bergerak dalam pengelolaan sampah, khususnya sampah anorganik.
Pra Smention tahun ini terdiri atas dua rangkaian utama: workshop edukatif di Auditorium SIT Insantama Bogor dan aksi bersih lingkungan di Lapangan Sempur. Pesertanya beragam, mulai dari jenjang SD hingga SMA sederajat. Hadir di antaranya perwakilan dari SDIT Insantama, SMPIT Insantama, MAN 2 Kota Bogor, SMAN 2 Cibinong, SMAIT Insan Kamil, hingga SMA PGRI 1 Kota Bogor.
Rangkaian workshop dibuka interaktif oleh MC Pedro dan Faqih, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ardan dan Obiet. Dalam sambutannya, Kepala SMAIT Insantama yang diwakili Rezkiana Rahmayanti menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga lingkungan sejak dini.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya pemimpin masa depan yang peduli terhadap pengelolaan sampah di rumah, sekolah, dan masyarakat,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Pelaksana Smention 2026 Hadi Khoirul Umam menyampaikan, bahwa Pra Smention menjadi wadah bagi pemuda untuk belajar menjadi pribadi yang solutif dalam menghadapi persoalan lingkungan.
Sesi talkshow menjadi inti kegiatan workshop. Aktivis lingkungan Sharmila Ilyas, yang dimoderatori Cicih, mengajak peserta memulai perubahan dari kebiasaan sederhana: mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah, dan mengolahnya menjadi barang bernilai guna.
Sharmila membagikan pengalamannya mengolah sampah organik menjadi kompos serta mendaur ulang sampah anorganik seperti plastik dan kardus menjadi kerajinan kreatif.
Ia menekankan, kesadaran lingkungan harus ditanamkan sejak dini agar tidak muncul hanya saat bencana datang, tetapi menjadi kebiasaan harian.
Usai talkshow, peserta mengikuti sesi praktik pembuatan karya dari bahan anorganik selama 90 menit. Mereka dibagi dalam kelompok lintas jenjang usia untuk berkolaborasi menghasilkan karya kreatif. Hasilnya beragam: miniatur pesawat dari kardus, kotak penyimpanan dari kardus dan kain bekas, robot dari tutup botol dan kemasan makanan, hingga dispenser dari bahan bekas.
Karya-karya tersebut rencananya akan dipamerkan pada puncak Smart Teen Competition (Smention) yang akan digelar pada 3–4 Februari 2026.
Sementara itu, di Lapangan Sempur, sebanyak 40 siswa SMAIT Insantama terjun langsung dalam aksi Bogor Bersih. Bekerja sama dengan komunitas Rantai Kebaikan dan Forum Nasional Sosial Masyarakat (Fornassosmas), mereka membersihkan area publik sambil memilah sampah sesuai jenisnya. Aksi ini menjadi wujud nyata bahwa edukasi harus berjalan seiring praktik.
Pra Smention 2026 membuktikan satu hal: kepedulian tidak cukup hanya dibicarakan di ruang seminar. Ia harus diwujudkan di lapangan.
Dari auditorium ke ruang terbuka kota, dari workshop ke aksi nyata, generasi muda Insantama menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar slogan. Mereka bergerak. Dan dari gerakan itulah perubahan dimulai.[] Tia Miftahul Khoiriyah







