Apa yang ingin dicari?
Yuk, Daftarkan Ananda di SIT Insantama
Daftarkan putra-putri Ayah Bunda di SDIT-SMPIT-SMAIT Insantama, Sekolah Para Juara dan Calon Pemimpin. Hadir di 24 kota di Indonesia.
Daftar SPMB

Dari Murajaah ke Sidang Berkah, Langkah Kecil Menuju Jannah

Lantunan ayat-ayat suci terdengar saling bersahutan di Masjid Pendidikan Insantama (MPI) pada 28 Februari 2026. Di sudut-sudut masjid, siswa-siswi SIT Insantama tampak duduk berkelompok, saling menyimak, saling menyambung ayat, dan menguatkan hafalan. Wajah-wajah mereka tegang dan penuh harap. Inilah momen yang telah lama mereka persiapkan: Sidang Tahfizh.

Hari ke-11 Ramadhan itu menjadi saksi perjuangan mereka. Bukan sekadar ujian, tetapi langkah penting dalam perjalanan panjang menuju kecintaan sejati terhadap Al-Qur’an. Murajaah yang selama ini dilakukan berulang-ulang kini terasa bermakna, mengantarkan mereka pada sebuah sidang yang penuh berkah.

Sidang Tahfizh periode ke-3 tahun ajaran 2025/2026 terasa begitu istimewa. Dilaksanakan di bulan Ramadhan, bulan diturunkannya Al-Qur’an, menjadikan setiap ayat yang dilantunkan bernilai berlipat ganda. Semangat para peserta pun semakin menyala. Bukan hanya untuk lulus, tetapi untuk meraih keberkahan.

Sebanyak 137 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri dari 32 siswa SDIT, 61 siswa SMPIT, dan 44 siswa boarding SMAIT. Namun di balik angksa-angka itu, tersimpan kisah perjuangan yang tidak sederhana. Ada kedisiplinan, ada rasa malas yang dilawan, ada air mata yang mungkin tak terlihat. Semua demi menjaga hafalan Al-Qur’an tetap hidup dalam hati.

Dalam sambutannya, Al-Hafizh Ustadz Fuad selaku PJ Tahfidz menyampaikan rasa bangga melihat para siswa saling menyimak dan menyambung ayat. Sebuah pemandangan yang bukan hanya indah di dunia, tetapi juga dibayangkan akan terulang di surga dalam majelis-majelis Al-Qur’an. Masyaallah.

Hal senada disampaikan Direktur Pelaksana (Dirlak) Sekolah Islam Terpadu (SIT) Insantama Bogor Muhammad Adhi Maretnas Harapan. Menurutnya, mengikuti Sidang Tahfizh di bulan Ramadhan adalah rezeki sekaligus takdir yang luar biasa.

“Yakinlah, Allah akan memudahkan,” ujarnya memberi semangat.

Ia juga mengingatkan, menjadi penghafal Al-Qur’an bukan sekadar tentang kemampuan, melainkan tentang taufik dan hidayah dari Allah.

“Jangan melihat sulitnya, tapi lihat keberkahannya. Bahkan perjuangan kalian saja sudah bernilai luar biasa,” tambahnya.

Di antara para peserta, terselip kisah-kisah inspiratif yang menguatkan makna perjuangan itu.

Azka al-Rayyan Ishaq, siswa kelas 8C, misalnya. Sejak SD ia telah menghafal 5 juz. Namun alih-alih mengejar penambahan hafalan, ia justru memilih mengulang dari juz 30 demi memperkuat kemutqinannya. Baginya, memahami dan menjaga kualitas hafalan jauh lebih penting daripada sekadar menambah jumlah.

Berbeda lagi dengan Azmi Fathinah Khairunnisa dari kelas 8F. Bagi Azmi, Sidang Tahfizh adalah tentang membahagiakan orang tua. Dorongan dan doa mereka menjadi sumber kekuatannya. Ia pun menyimpan harapan besar: meraih syafaat Rasulullah di akhirat kelak.

Sementara itu, Aqeela Hasyah Faiqihah dari kelas 5D menjalani pengalaman pertamanya dengan penuh semangat. Meski sempat merasa pusing menghadapi soal sambung ayat, ia tidak menyerah. Justru di situlah ia belajar bahwa perjuangan menghafal Al-Qur’an membutuhkan kesungguhan dan keberanian.

Hari itu, di bulan yang penuh berkah, di tempat yang penuh berkah, dan dalam majelis yang penuh berkah, langkah-langkah kecil itu benar-benar terasa bermakna. Dari murajaah yang sederhana, menuju sidang yang penuh harap, hingga cita-cita besar menjadi Ahlul Qur’an dan Ahlul Jannah.

Karena bagi mereka, bersama Al-Qur’an bukan sekadar perjalanan ilmu tetapi perjalanan menuju surga.[] Eva Priyawati

Baca lainnya

Dari Murajaah ke Sidang Berkah, Langkah Kecil Menuju Jannah

Lantunan ayat-ayat suci terdengar saling bersahutan di Masjid Pendidikan Insantama (MPI) pada 28 Februari 2026. Di sudut-sudut masjid, siswa-siswi SIT Insantama tampak duduk berkelompok, saling…