Yuk, Daftarkan Ananda di SIT Insantama
Daftarkan putra-putri Ayah Bunda di SDIT-SMPIT-SMAIT Insantama, Sekolah Para Juara dan Calon Pemimpin. Hadir di 24 kota di Indonesia.
Daftar SPMB

Ketika Tulisan Tak Hanya Dibaca, tapi Juga Dirasakan

Suasana Aula Muhammad Naufal Syauqi SIT Insantama Bogor pagi itu, Sabtu (2/5/2026), terasa berbeda. Para guru reporter Newsletter Kabar Insantama (NKI) yang biasanya sibuk menulis laporan kegiatan, kini duduk bersama membahas satu hal yang sama: bagaimana membuat tulisan yang bukan hanya informatif, tetapi juga hidup dan terasa dekat di hati pembaca.

Di hari yang bertepatan dengan Hari Pendidikan, Workshop Reporter NKI bertajuk Bukan Reportase Biasa, Tapi Kisah Penuh Rasa digelar sebagai ruang belajar bersama untuk memperkuat kualitas reportase. Fokusnya bukan sekadar teknik merangkai kalimat, melainkan bagaimana sebuah tulisan mampu menghadirkan suasana, emosi, dan makna dari sebuah peristiwa.

Workshop tersebut menghadirkan Joko Prasetyo selaku Redaktur Pelaksana NKI. Dalam penyampaiannya, sosok yang akrab disapa Om Joy tersebut mengajak peserta memahami reportase yang baik bukan hanya menyampaikan apa yang terjadi, tetapi juga membantu pembaca merasakan kejadian itu. Di situlah letak pentingnya “rasa” dalam tulisan.

Misalnya, ketika Bapak-Ibu Guru hendak menyampaikan pesan kepada pembaca bahwa SIT Insantama adalah sekolah yang religius, tunjukkanlah fakta ataupun peristiwa yang menggambarkan suasana tersebut. Sebab prinsip utama dari feature news (FN/rekonstruksi kejadian yang dikemas dalam bentuk cerita) adalah menunjukkan fakta dan membiarkan pembaca menyimpulkan rasanya sendiri.

“Maka, kita menghindari kalimat-kalimat klaim seperti: ‘Sekolah ini sangat religius’, ‘Lingkungannya hangat dan mendukung’, ‘Siswa-siswanya inspiratif’,” jelas Om Joy.

Kalimat-kalimat klaim seperti itu, lanjutnya, justru mematikan rasa karena pembaca tidak diajak menemukan, melainkan dipaksa menerima.

Sebaliknya, peserta diarahkan untuk menghadirkan kejadian kecil dan detail konkret agar pembaca dapat menyimpulkan sendiri suasananya.

Contohnya: “Begitu waktu shalat masuk, siswa segera mengantre wudhu. Kemudian, mereka pun masuk masjid untuk shalat berjamaah.”

“Detail seperti ini lebih kuat daripada penjelasan panjang tentang nilai religius,” tambahnya.

Materi yang disampaikan mengalir ringan tetapi berbobot. Diselingi tanya jawab yang hangat, peserta diajak aktif berdiskusi tanpa merasa digurui. Sesekali candaan spontan membuat aula dipenuhi tawa. Ketika Bu Eva berkata, “Alhamdulillah, daging semua yang disampaikan,” Om Joy langsung menimpali sambil tertawa, “Wah, itu mah klaim, hahaha….”

Antusiasme peserta pun terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Bu Rani mengungkapkan harapannya untuk mendapat bimbingan dalam menulis reportase. “Saya baru jadi [kru NKI] Ustadz, mohon bimbingannya memberi trik dan tips menulis reportase,” ujarnya.

Sementara Bu Siti mengaku mulai mengevaluasi tulisannya sendiri selama materi berlangsung. “Saya membandingkan tulisan yang sudah saya buat dengan poin-poin yang harus ada dalam reportase, jadi punya panduan menulis reportase yang benar,” tuturnya.

MasyaAllah, begitu banyak pelajaran yang dipetik dari workshop ini. Hari Pendidikan bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi juga momentum untuk terus belajar dan upgrade diri. Sebab sejatinya, guru bukan hanya pengajar, melainkan pembelajar sepanjang hayat.

Teruslah menulis, menginspirasi, dan menebar makna. Karena ada tulisan yang hanya dibaca, tetapi ada pula tulisan yang mampu meninggalkan rasa di hati pembacanya.[] Siti Sobiah

Baca lainnya

Ketika Tulisan Tak Hanya Dibaca, tapi Juga Dirasakan

Suasana Aula Muhammad Naufal Syauqi SIT Insantama Bogor pagi itu, Sabtu (2/5/2026), terasa berbeda. Para guru reporter Newsletter Kabar Insantama (NKI) yang biasanya sibuk menulis…