Sorak tawa dan decak kagum mengisi aula SDIT Insantama pada Jumat, 6 Februari 2026. Para siswa Klub Bahasa terlihat bersemangat mengikuti Talkshow Insantama Peduli, mencatat setiap materi dengan cermat, dan menyimak cerita pengalaman langsung dari tim relawan. Bagi mereka, talkshow ini lebih dari sekadar kegiatan; ini adalah momen untuk merasakan dan memahami kepedulian secara nyata.
Sejak 08.00 WIB, siswa duduk rapi bersama guru PAK. Suasana hangat tercipta ketika Pak Widodo membuka sesi sebagai moderator, mengajak siswa untuk aktif menanyakan pertanyaan dengan pendekatan 5W+1H. Dengan cara ini, siswa tidak hanya mencatat, tetapi benar-benar mencerna makna kepedulian yang sedang dibahas.
Narasumber Ketua Insantama Peduli SIT Insantama Arie Susanto, M.Pd. menjelaskan, program Insantama Peduli lahir dari visi sekolah: unggul secara akademik sekaligus peduli pada sesama.
Pak Arie, begitu siswa memanggilnya, berbagi pengalaman turun langsung ke lokasi bencana gempa Cianjur, menghadapi gempa susulan, dan merasakan tantangan dalam menyalurkan bantuan. “Kecepatan tanggap itu penting, tapi keberanian, kesabaran, dan keteguhan hati lebih menentukan keberhasilan misi kemanusiaan,” ujarnya.
Kegiatan Insantama Peduli tidak berhenti di bencana lokal. Tim juga menyalurkan bantuan untuk Palestina, mengadakan donor darah, santunan yatim, sunatan massal, hingga wakaf ambulans. Semua ini dilakukan sebagai wujud aksi nyata, bukan sekadar program formalitas. Pak Arie menekankan bahwa kepedulian harus dimulai dari hal sederhana, seperti menjaga kebersihan, kerapian diri, dan lingkungan, agar karakter peduli menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Usai sesi talkshow, guru PAK memandu siswa melakukan evaluasi catatan dan refleksi pribadi. Dari aula sederhana itu, tumbuh karakter empati yang menyala-nyala, kesiapsiagaan yang dipahami, dan kesadaran untuk selalu peduli sebagai nilai-nilai yang terus hidup dalam setiap insan Insantama.[] Nono Hartono







