Tangis haru pecah di penghujung malam ketika ananda kelas 1 SDIT Insantama Bogor mempersembahkan lagu dan surat cinta untuk orang tua. Dengan suara polos dan tulus, mereka melantunkan doa untuk ayah dan ibu, lalu menyerahkan sepucuk surat sederhana yang ditulis sehari sebelumnya. Momen yang membuat semalam bersama ini benar-benar jadi kenangan bermakna bagi ananda dan orang tua.
Salah satu isi surat mereka berbunyi:
“Assalamualaikum, Umi, Abi… doakan ana ya jadi anak yang shalih, agar ana bisa jadi anak yang mandiri dan membuat bangga Umi dan Abi. Ana sayang Umi dan Abi.”
Air mata menetes, pelukan hangat menguatkan, dan senyum bahagia memenuhi ruangan. Momen ini menjadi puncak paling berkesan dari Malam Bina Iman dan Takwa (mabit) pertama mereka, Sabtu, 31 Januari 2026 di Lapangan Tengah.
Mabit ini benar-benar pengalaman berharga bagi ananda. Inilah langkah awal mereka belajar mandiri, berani mencoba, bertanggung jawab, serta bekerja sama dalam suasana yang seru dan penuh makna. Bahkan sejak sehari sebelumnya, antusiasme sudah terlihat saat mereka mempersiapkan perlengkapan mabit dengan semangat.
Sejak kegiatan dimulai, keceriaan langsung terpancar dari wajah-wajah polos yang penuh energi. Melalui rangkaian outbound kemandirian, ananda diajak belajar dengan cara yang menyenangkan. Mereka berlatih melipat baju dan mencuci piring sendiri sebagai pembiasaan tanggung jawab sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satunya tercermin dalam dialog Alnaira dengan gurunya. Dengan penuh semangat siswa kelas 1 C tersebut bertanya, “Ibu, habis ini kita mau ke mana lagi?”
Bu Guru Hasna menjawab, “Setelah ini kita akan games mencuci piring.”
Alnaira pun spontan berkata, “Wah, ana udah bisa kok, Bu!”
Tak hanya cuci piring. Tantangan demi tantangan disambut antusias seluruh siswa. Tawa riang terdengar saat ananda mencoba menangkap belut dan ayam, melatih keberanian dan ketangkasan.
Namun, Ayra sempat ragu. “Ibu, ana nggak bisa tangkap belut… takut,” ujar siswa kelas 1 B tersebut.
Bu Guru Hasna menenangkan, “Ayo coba pegang, Nak! Enggak apa-apa.”
Akhirnya, Ayra dan teman-temannya tertawa geli karena baru pertama kali memegang belut.
Kekompakan semakin terasah saat mereka menyusun menara gelas dan bermain bola besar, yang menuntut kerja sama dan komunikasi antar teman. Meski aktivitas padat, wajah mereka justru penuh semangat dan kegembiraan.
Suasana semakin hidup dengan yel-yel mabit:
Siapa anak shalih ikut mabit? Ana!
Siapa anak berani ikut mabit? Ana!
Mabit di Insantama, seru dan menyenangkan
Menjadi hebat makin shalih
Mabit Insantama: Mandiri! Seru! Menyenangkan!
Allahu Akbar!
Malam berlalu penuh cerita hingga pagi menyapa. Kehangatan semakin terasa saat ananda bermain kembang api dan menerbangkan lampion, seolah melepas harapan dan doa ke langit.[] Siti Nurhasna Fauziyah







