Suasana diskusi kelompok terasa hangat di kelas 4D. Beberapa siswa saling bertukar pendapat, ada yang mencatat dengan serius, ada pula yang mengusulkan ide sambil tersenyum. Tidak ada yang mendominasi, tidak ada yang terdiam terlalu lama. Semua terlibat.
Di kelas 2C, empat siswa duduk dalam satu “meja koloni”. Kepala mereka saling mendekat, suara pelan terdengar berdiskusi, sesekali tawa kecil pecah ketika jawaban yang dicari akhirnya ditemukan. Mereka tidak hanya menyelesaikan tugas. Mereka sedang belajar bekerja sama.
Di SDIT Insantama, momen-momen seperti ini bukan kebetulan. Namun tumbuh dari desain pembelajaran yang disiapkan secara sadar melalui pendekatan Integrated Multiple Intelligences (IMI). Walhasil, belajar bukan sekadar memahami materi, tetapi membangun kebersamaan yang menguatkan kecerdasan interpersonal.
SDIT Insantama memandang kecerdasan interpersonal sebagai potensi yang perlu dirawat dan dikembangkan secara sistematis. Karena itu, pembelajaran kooperatif bukan sekadar variasi metode, melainkan bagian dari strategi pembinaan karakter yang terencana.
Di kelas, pembelajaran kooperatif menjadi kebiasaan. Siswa dibiasakan bekerja dalam kelompok kecil, menyelesaikan proyek, lalu mempresentasikan hasilnya bersama. Dari proses itu, mereka belajar mendengar, menyampaikan gagasan dengan santun, dan mengambil keputusan melalui musyawarah.
Guru Kelas 4D Marsambas menjelaskan, “Dalam kegiatan belajar, siswa sering dilibatkan dalam kerja kelompok. Hal ini melatih mereka membina hubungan, bekerja sama, dan berkomunikasi dengan teman.”
Di kelas 2C, Widodo menghadirkan konsep “meja koloni” yang memungkinkan 2–4 siswa duduk bersama dalam satu meja. “Meja koloni ini memudahkan interaksi dan kerja kelompok. Siswa bisa saling membantu jika ada kesulitan,” ungkapnya.

Pembiasaan adab harian juga menjadi latihan konkret kecerdasan interpersonal. Mengucap salam, meminta izin, berterima kasih, hingga meminta maaf dilakukan dalam keseharian. Anak belajar bahwa interaksi sosial adalah bagian dari akhlak dan ibadah.
Penguatan itu berlanjut di luar kelas. Melalui program bakti sosial, kunjungan, dan proyek kolaboratif, siswa belajar empati secara nyata. Guru Kelas 5B Raden Eti Siti Maryam menceritakan program Sasuku (Sumbang Susu dan Buku) yang digagas kelasnya.
Selama satu bulan, siswa mengumpulkan susu, buku, dan infak untuk anak yatim, lalu mengunjungi yayasan yatim piatu. “Kami ingin materi menyayangi anak yatim tidak berhenti di kelas, tetapi hadir dalam kehidupan nyata,” tuturnya.
Program kepemimpinan seperti amir kelas dan kepanitiaan acara sekolah juga melatih siswa berkomunikasi, menyatukan visi, dan menyelesaikan perbedaan secara dewasa. Mereka belajar memimpin sekaligus dipimpin.[] Nono Hartono







