Apa yang ingin dicari?
Yuk, Daftarkan Ananda di SIT Insantama
Daftarkan putra-putri Ayah Bunda di SDIT-SMPIT-SMAIT Insantama, Sekolah Para Juara dan Calon Pemimpin. Hadir di 24 kota di Indonesia.
Daftar SPMB

Melintasi Waktu di Kota Tua

Saat siswa Kelas 4 SDIT Insantama menjelma menjadi penjelajah sejarah.

“Seru banget!!!” teriak puluhan siswa kelas IV SDIT Insantama hampir bersamaan. Suara riang itu menggema di antara deretan bangunan tua nan bersejarah di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Mereka seolah benar-benar melintasi waktu, menyusuri jejak masa lalu sambil belajar tentang jati diri bangsa. Pada Selasa, 14 Oktober 2025, mereka menanggalkan sejenak suasana kelas untuk sebuah misi istimewa: menyelami sejarah dan menempa diri menjadi para juara serta pemimpin Ansharullah.

Kegiatan bertema “Menyelami Sejarah, Menempa Diri Menjadi Para Juara dan Pemimpin Ansharullah” ini dirancang sebagai pembelajaran langsung di luar sekolah yang memadukan wawasan akademik dan pembentukan karakter.

Menurut Bu Nevtika Herni, penanggung jawab kegiatan, program ini mengajak siswa belajar melalui pengalaman nyata.

“Anak-anak tidak hanya mendengar cerita sejarah, tapi melihat dan merasakannya langsung di tempat bersejarah,” jelasnya.

Ia menambahkan, kunjungan ini juga mengintegrasikan berbagai mata pelajaran. “Mereka belajar menghargai keberagaman budaya (Pendidikan Pancasila), memahami sejarah ekonomi maritim (IPAS), meneladani kerja keras para tokoh (PAIBP), mengamati arsitektur (SBdP), dan menuliskannya kembali dalam laporan pengamatan (Bahasa Indonesia),” paparnya.

Dermaga Pertama: Mengarungi Kejayaan Bahari

Perjalanan menembus waktu itu dimulai pagi buta. Rombongan siswa bertolak dari sekolah menuju Museum Bahari, tempat yang menyimpan kisah kejayaan maritim Nusantara. Setelah doa bersama yang dipimpin Pak Sambas, petualangan pun resmi dimulai.

Siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang dipandu oleh petugas museum. Begitu memasuki ruangan, mata mereka langsung berbinar melihat koleksi kapal dan perahu tradisional dari berbagai daerah di Nusantara.

“Layar yang berbentuk kotak itu khas Indonesia,” jelas Kak Eka, pemandu museum. “Sedangkan bagian ujung kapal dibuat runcing untuk memecah ombak,” tambahnya sambil menunjukkan perahu Kora-Kora asal Maluku.

Oh, buat motong begitu! seru Awais, salah seorang siswa, penuh rasa ingin tahu.

Koleksi kapal zaman VOC, kompas tua, hingga jangkar raksasa menambah kekaguman mereka. Museum ini benar-benar menjadi gerbang pertama perjalanan waktu mereka menuju masa kejayaan bahari Indonesia.

Pemandu memberikan penjelasan kepada siswa

Dermaga Kedua: Rahasia di Balik Uang Kertas

Setelah menunaikan shalat Dhuha, rombongan melanjutkan perjalanan ke Museum Bank Indonesia (BI). Bangunan megah bergaya kolonial itu seolah membawa mereka ke masa ekonomi Hindia Belanda.

Dipandu oleh Kak Nia, para siswa menjelajahi sejarah uang Indonesia dan belajar mengenali tanda-tanda keaslian uang.

“Siapa yang menandatangani uang ini?” tanya Kak Nia sambil menunjukkan lembar Rp5.000. “Yang menandatangani adalah Menteri Keuangan dan Gubernur BI,” jawabnya disambut antusias siswa.

Momen paling menarik adalah ketika mereka diajak mengecek uang dengan cara “Dilihat, Diraba, dan Diterawang.”

“Eh iya, ada gambarnya!” seru beberapa siswa kagum saat senter Kak Nia menembus uang kertas dan memperlihatkan hologram tersembunyi.

Dari sini, mereka belajar bahwa uang bukan sekadar alat tukar, tetapi juga penanda sejarah dan perjalanan bangsa.

Siswi mengamati Sejarah mata uang di Indonesia

Dermaga Terakhir: Jejak Kolonial di Fatahillah

Usai shalat Zuhur, perjalanan dilanjutkan ke Museum Fatahillah. Teriknya matahari tak menyurutkan semangat mereka menapaki jalanan Kota Tua yang ramai wisatawan.

“Bangunan ini berdiri antara tahun 1707 hingga 1712, dengan arsitektur mirip Istana Dam di Amsterdam,” terang Kak Salsa, pemandu museum.

Siswa menyusuri ruang-ruang pameran berisi mebel besar peninggalan kolonial, prasasti Sunda Kelapa, serta potret para gubernur jenderal. Namun bagian yang paling membekas adalah penjara bawah tanah, ruang sempit dan pengap tempat para tawanan dahulu dikurung.

“Dulu para tahanan diikat dengan bola besi berat yang disebut canon ball,” jelas Kak Salsa sambil menunjuk ke arah sel gelap di bawah bangunan utama.

Ukuran sel yang rendah memaksa pengunjung menunduk. Beberapa siswa spontan berkomentar, “Pengap sekali…” — seolah benar-benar merasakan penderitaan masa lalu. Di sinilah mereka memahami makna perjuangan dan keteguhan.

Penutup Manis Sang Penjelajah Cilik

Sore menjelang ketika kegiatan berakhir. Di pelataran ikonik Museum Fatahillah, anak-anak menikmati waktu bebas: ada yang menyewa sepeda ontel warna-warni, ada pula yang membeli jajanan khas Jakarta sambil tertawa gembira.

Hari itu, para penjelajah cilik dari SDIT Insantama menutup perjalanannya dengan wajah penuh puas. Mereka tidak hanya membawa laporan tugas, tetapi juga pengalaman berharga tentang sejarah.

Mereka telah benar-benar melintasi waktu — dari lembar sejarah ke dalam hati mereka sendiri, menapaki langkah kecil menuju masa depan yang lebih berilmu, berakhlak, dan berjiwa pemimpin.[] Wiyanto

Baca lainnya

Melintasi Waktu di Kota Tua

Saat siswa Kelas 4 SDIT Insantama menjelma menjadi penjelajah sejarah. “Seru banget!!!” teriak puluhan siswa kelas IV SDIT Insantama hampir bersamaan. Suara riang itu menggema…