Belajar berniaga dengan amanah dan berkah di Insantama Market Day.
Lapangan SDIT Insantama berubah menjadi pasar kecil yang ramai dan penuh warna. Suara tawa, seruan pembeli, dan panggilan penjual terdengar bersahut-sahutan di antara deretan stan makanan, minuman, dan alat tulis. Bukan sekadar bazar, inilah Insantama Market Day (IMD) — kegiatan yang mengajarkan siswa cara berdagang sambil meneladani akhlak Rasulullah SAW.
Digelar pada Selasa, 16 September 2025, acara ini mengusung tema Berniaga ala Rasulullah, Raih Hidup Lebih Berkah. Melalui kegiatan ini, para siswa belajar bahwa berdagang bukan hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga tentang kejujuran, amanah, dan tanggung jawab.
Menurut Bapak Setyanto, Penanggung Jawab IMD, kegiatan ini menjadi media pembelajaran karakter dan spiritual yang menyenangkan.
“Setiap transaksi mengajarkan nilai-nilai Islam. Anak-anak belajar bahwa kejujuran dan amanah adalah kunci keberkahan dalam berdagang,” jelasnya.
Menurutnya, IMD bertujuan menanamkan prinsip jual beli sesuai syariat, di antaranya memahami konsep halal-haram, adab berdagang, serta membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Belajar Amanah
Kemeriahan sudah terasa sejak pagi. Bapak Herman Suherman, S.Pd., M.Pd., Pengawas Pembina Gugus VI SD, yang hadir dalam acara ini, menilai IMD sebagai bentuk pembelajaran kokurikuler yang berharga.
“IMD tidak hanya melatih kemampuan berwirausaha, tetapi juga literasi keuangan dan pembentukan karakter. Anak-anak belajar langsung nilai kejujuran dalam praktiknya,” tuturnya.
Acara dibuka dengan penyambutan khas Sunda oleh dua siswa kelas 5 yang berperan sebagai Ki Lengser. Pertunjukan kabaret jajanan Sunda kemudian menghibur penonton sambil menyisipkan pesan moral tentang kejujuran dalam berdagang.
“Kami ingin menampilkan nilai budaya lokal sekaligus menanamkan pesan keislaman,” ujar Ibu Riyanti, penanggung jawab acara.

Bapak Herman Suherman, S. Pd., M.Pd., Pengawas Pembina Gugus VI SD memberikan sambutan saat IMD
Qadhi Hisbah
Ciri khas IMD terletak pada hadirnya Qadhi Hisbah, petugas pengawas pasar yang memastikan keadilan dalam transaksi.
“Qadhi bertugas menegur jika ada kecurangan, memastikan barang yang dijual halal dan thayyib, serta membantu menyelesaikan masalah antara penjual dan pembeli,” jelas Bapak Ari Susanto, salah satu Qadhi.
Setelah dibuka secara resmi oleh Kepala Sekolah SDIT Insantama, Bapak Adi Fadjar Nugroho, stan-stan yang dibagi menjadi zona ikhwan (laki-laki) dan akhwat (perempuan) langsung dipenuhi pembeli. Beragam produk seperti makanan ringan, minuman segar, dan mainan laris manis diserbu pelanggan cilik.
Voucher Amanah
Hari itu terasa istimewa bagi para siswa karena mereka diperbolehkan membawa uang saku—sesuatu yang biasanya dilarang di hari biasa. Namun transaksi dilakukan menggunakan voucher senilai Rp8.000,00 yang disediakan panitia.
“Voucher ini bukan sekadar alat tukar, tapi juga sarana latihan amanah. Anak-anak belajar bahwa setiap nilai memiliki tanggung jawab untuk dijaga,” kata Bapak Setyanto.
Antusiasme terlihat di wajah para peserta.
“Enggak sabar pingin cepat IMD!” seru Arfan Hanif Fathul Islam Chaniago, siswa kelas 5, sambil bersemangat menghitung voucher yang akan ia gunakan. Setelah berbelanja mainan, ia masih sempat menyisihkan sebagian uangnya untuk sedekah.
Selain berjualan dan berbelanja, para siswa juga menikmati wahana permainan seperti memanah, memancing ikan, dan melempar gelang. Keceriaan memenuhi seluruh area, menandakan bahwa belajar bisa sangat menyenangkan jika dikemas dengan cara yang kreatif.
Mencontoh Rasulullah
Menutup kegiatan, para guru mengingatkan kembali bahwa berdagang adalah salah satu jalan menuju keberkahan bila dilakukan dengan jujur dan amanah, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Melalui IMD, para siswa belajar bahwa nilai-nilai keislaman bisa tumbuh dari hal-hal sederhana — dari jual beli kecil hingga sikap besar yang membentuk kepribadian.
Dari jualan, mereka belajar keteladanan. Dari transaksi kecil, tumbuh semangat untuk menjadi pribadi yang besar — jujur, tangguh, dan penuh berkah.[] Wiyanto







