“Senang… tapi sedih.”
Kalimat itu terucap pelan dari Siswa Kelas 6D Alma saat ditanya tentang Hari Kreativitas Siswa (HKS) tahun ini. Senang karena lombanya semakin seru. Sedih karena tahun depan tak lagi bisa berpartisipasi lagi karena melangkah ke jenjang pendidikan berikutnya.
Bagi Alma dan siswa kelas 6 SDIT Insantama Bogor lainnya, kegiatan yang berlangsung pada 3-4 Februari 2026 merupakan HKS terakhir yang mengukirkan kenangan indah.
Alma juga mengaku, tidak sekadar ikutan tetapi juga selalu menyiapkan segala sesuatunya terkait lomba yang akan diikuti dalam ajang HKS.
“Ana selalu menyiapkan apa yang diperintah oleh guru, berlatih sesuai lomba yang ana ikuti. Salah satunya lomba MC dan olahraga. Ana paling suka lomba olahraga,” tuturnya dengan mata berbinar.
Saat ditanya apakah sejak kelas 1 selalu meraih juara, Alma menjawab rendah hati,
“Alhamdulillah, tapi ana tidak terlalu ingat lomba apa saja yang ana menangkan. Yang ana ingat lomba menggambar dan mewarnai, MC, tarik tambang, dan kendo.”
Tak kalah mengesankan, Ghaniyya (6B) juga berbagi cerita. “Hal yang perlu dipersiapkan itu kostum,” ujarnya singkat penuh makna. Karena baginya, setiap detail adalah bagian dari kesungguhan.
Tentang prestasi, ia menjawab dengan syukur, “Alhamdulillah iya, ana pernah juara di lomba tahfiz, hulahoop, MC, panahan, tarik tambang, pildacil, dan nasyid.”
Namun HKS bukan hanya soal piala atau gelar juara. Sejak jauh hari sebelum perlombaan dimulai, wajah-wajah penuh semangat sudah terlihat di setiap sudut sekolah. Anak-anak berlatih, mencoba, jatuh, lalu bangkit kembali. Dari ruang-ruang kelas yang sederhana itulah lahir keberanian untuk tampil dan tanggung jawab untuk menyelesaikan amanah.
Meski digelar dalam lingkup sederhana, antar kelas, dan dalam satu sekolah, HKS tahun ini membuktikan satu hal penting: semangat belajar dan berkarya tidak pernah ditentukan oleh besar kecilnya acara. Justru dari kesederhanaan itulah tumbuh perjuangan dan kenangan yang akan terus hidup dalam ingatan.
Ada pula harapan yang mereka titipkan untuk para guru: lomba reporter atau pembaca berita, cooking, hingga melukis. Sebuah tanda bahwa imajinasi mereka terus berkembang, dan HKS menjadi ruang aman untuk bermimpi.
Apresiasi tulus pun mereka sampaikan. “Keren sih HKS. Tapi lebih keren bapak ibu guru yang selalu memikirkan keseruan untuk siswa. Effort-nya luar biasa, selalu sabar, kreatif, setiap tahun ada saja idenya, dan selalu mengapresiasi serta menginspirasi siswa.”
HKS bukan sekadar agenda tahunan. Namun juga sebagai jejak kenangan dan pelajaran kehidupan. Dan bagi Alma dan siswa kelas 6 lainnya, di HKS terakhir itulah kenangan indah benar-benar terukir.[] Siti Nurhasna Fauziyah







