Hari ketiga Pekan Ta’aruf 2 SDIT Insantama Bogor menjadi penutup yang sarat makna. Rabu, 14 Januari 2026, suasana sekolah terasa hangat dan penuh keteladanan. Sejak pagi, para guru menyambut siswa kelas 1 hingga kelas 6 dengan senyum, sapaan santun, dan bahasa yang lembut—sebuah pelajaran awal tentang bagaimana berkata dengan adab sebelum siswa kembali menapaki pembelajaran semester genap.
Nilai tersebut kemudian diperkuat melalui rangkaian shalat Dhuha dan kegiatan Bina Syakhsiyyah Islamiyyah di kelas masing-masing. Dengan mengusung tema besar Berbuat dan berkata sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, para siswa diajak menyadari pentingnya menjaga lisan, tulisan, dan sikap, baik di dunia nyata maupun di ruang digital. Adab berbicara, berpakaian, dan bersikap ditanamkan sebagai bagian dari akhlak seorang Muslim.
Puncak kegiatan hari ketiga diwujudkan dalam Pentas Seni Islami Insantama. Secara terpisah antara ikhwan dan akhwat, para siswa menampilkan beragam karya yang mencerminkan pemahaman mereka tentang adab dan akhlak. Aula sekolah dan ruang makan lantai dua berubah menjadi ruang belajar hidup, tempat nilai-nilai yang diajarkan di kelas diterjemahkan menjadi karya, ekspresi, dan pesan kebaikan.
Beragam penampilan ditampilkan dengan penuh penghayatan. Kelas 1 mengingatkan pentingnya adab lisan melalui lagu Empat Kata Ajaib, kelas 2 menyampaikan surat terbuka tentang adab kepada guru, kelas 3 melantunkan nasyid dengan pesan keteladanan. Sementara itu, kelas tinggi menghadirkan drama, nasyid perjuangan, kultum, hingga tari Saman yang sarat nilai kebersamaan dan akhlak mulia.
Amelia Susanti, penanggung jawab kegiatan hari ketiga, menyampaikan bahwa pentas seni menjadi sarana agar siswa tidak hanya memahami adab secara teori, tetapi mampu menjiwainya. Harapan serupa disampaikan Ketua Panitia Pekan Ta’aruf Bambang Haryanto yang menegaskan pentingnya istiqamah menerapkan adab dalam keseharian sebagai bekal membentuk karakter generasi Ansharullah.
Dengan berakhirnya Pekan Ta’aruf 2 ini, SDIT Insantama berharap nilai berkata dengan adab dan berkarya dengan akhlak terus hidup dalam diri siswa. Bukan hanya selama kegiatan berlangsung, tetapi menjadi karakter yang melekat dalam proses belajar, di rumah, di sekolah, dan di mana pun mereka berada. Insyaallah.[] Nono Hartono







