Apa yang ingin dicari?
Yuk, Daftarkan Ananda di SIT Insantama
Daftarkan putra-putri Ayah Bunda di SDIT-SMPIT-SMAIT Insantama, Sekolah Para Juara dan Calon Pemimpin. Hadir di 24 kota di Indonesia.
Daftar SPMB

Berani Meluncur, Ceria Bersyukur

“Seru, Bu… tapi aku takut sampai hampir mau BAK. Aku merem aja!”

Teriakan Jibril sesaat setelah meluncur dari flying fox memecah tawa teman-temannya. Wajahnya masih tegang, napasnya terengah, tetapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Rasa takut yang tadi menggantung di ketinggian, kini berubah menjadi bangga dan syukur. Ia berhasil menaklukkan dirinya sendiri.

Itulah salah satu momen paling berkesan dalam kegiatan Visiting Kelas 3 ke Rivera Outbound & Edutainment, Senin, 9 Februari 2026. Keberanian Jibril bukan muncul tiba-tiba. Namun tumbuh perlahan, sejak langkah pertama mereka meninggalkan sekolah pagi itu.

Sejak pagi, sorak yel-yel sudah menggema di koridor SDIT Insantama. Rintik hujan sempat turun. Namun tak mengurangi semangat siswa. Dengan basmalah dan doa agar Allah memudahkan kegiatan, rombongan berangkat penuh antusias.

Setibanya di Rivera, siswa disambut hangat oleh para pemandu. Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala SDIT Insantama Adi Fadjar Nugroho, M.Pd., yang mengingatkan pentingnya menjaga alam sebagai ciptaan Allah SWT.

“Kita datang ke sini untuk belajar dari alam ciptaan Allah. Maka jagalah lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan,” pesannya.

Pesan itu benar-benar diwujudkan. Selama kegiatan, setiap siswa bertanggung jawab atas sampahnya masing-masing. Tidak terlihat tumpukan sampah berserakan. Kepedulian sederhana itu selaras dengan tema visiting, “Aku dan Lingkungan Sekitarku.”

Petualangan dimulai bersama Kak Aulia melalui gim hijau-hitam yang membangun kekompakan. Tawa pecah saat instruksi berubah-ubah dan siswa harus sigap mengikuti aba-aba. Suasana semakin hangat ketika sesi melukis gerabah dimulai. Saat ditanya siapa yang suka melukis, anak-anak serempak menjawab, “Anaaaa!” Gerabah-gerabah polos pun berubah menjadi karya penuh warna dan imajinasi.

Keseruan berlanjut ke berbagai wahana: kano, pacu jalur, ninja warrior, memanah, kursi sultan, hingga flying fox yang menantang adrenalin. Di setiap tantangan, anak-anak belajar satu hal penting: keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi tetap melangkah meski ada rasa takut.

Saat hujan kembali turun, beberapa wahana harus dihentikan demi keamanan. Namun keceriaan tidak ikut berhenti. Guru-guru sigap menghadirkan permainan alternatif seperti menyusun gelas menjadi menara tinggi dan permainan denah yang melatih kerja sama. Keterbatasan justru menjadi ruang kreativitas.

Siswa juga mengunjungi area bertema “Negeri Belanda” dan berswafoto di depan kincir angin. Setelah seluruh rangkaian wahana selesai, mereka menikmati makan siang bersama penuh cerita dan tawa, lalu melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah dengan tertib dan khusyuk.

Setibanya kembali di sekolah, semangat belum juga surut. Beberapa siswa masih antusias menyempurnakan lukisan gerabah mereka. Hari itu terasa terlalu sayang untuk segera diakhiri.

Visiting Kelas 3 bukan sekadar kegiatan rekreasi. Di sana, siswa belajar disiplin saat mengantre, berani mencoba hal baru, bekerja sama, menjaga lingkungan, dan mensyukuri nikmat Allah SWT.

Karena pada akhirnya, keberanian untuk meluncur adalah awal dari rasa syukur yang tumbuh di hati.[] Siti Sobiah

 

Baca lainnya

Berani Meluncur, Ceria Bersyukur

“Seru, Bu… tapi aku takut sampai hampir mau BAK. Aku merem aja!” Teriakan Jibril sesaat setelah meluncur dari flying fox memecah tawa teman-temannya. Wajahnya masih…