Ramadhan kian mendekat, dan suasana Masjid Pendidikan Insantama (MPI) lantai 2 pada Ahad malam, 1 Februari 2026, terasa hangat. Selepas shalat Maghrib, para santri IBS Insantama memenuhi ruangan dengan wajah serius dan penuh antusias. Yaumul muhasabah malam itu bukan sekadar evaluasi pekanan, melainkan bekal penting menyambut bulan suci yang tinggal menghitung hari.
Agenda kali ini memang tampil berbeda. Jika biasanya berfokus pada evaluasi, malam itu para santri mendapatkan tambahan kajian nafsiyah dan tsaqafah yang memperkaya wawasan. Bahkan sebelum kajian dimulai, mereka telah menerima salinan kitab yang akan dibahas, sehingga dapat mengikuti materi dengan lebih siap dan terarah.
Pemateri malam itu adalah Ustadz Chairul Annas, atau yang akrab disapa Gus Choi, selaku Mudir Islamic Boarding School (IBS) Insantama. Ia mengangkat tema yang sangat relevan: “Kewajiban Puasa Ramadhan.”
Dalam pembukaannya, Gus Choi menegaskan, puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam. “Agama Islam dibangun atas lima hal, yaitu syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan,” jelasnya.

Ia juga menerangkan, datangnya Ramadhan diketahui dengan melihat hilal, serta siapa saja yang diwajibkan berpuasa dan siapa yang mendapatkan keringanan.
Penjelasan tersebut menjadi pengingat penting menjelang datangnya bulan suci. Materi tidak hanya membahas hukum, tetapi juga menanamkan makna kedisiplinan dan kesiapan ruhiah dalam menjalankan ibadah shaum.
Perbedaan format muhasabah malam itu turut dirasakan para santri. Diarra Fawnia Kalyca dari kelas X-3 menilai agenda tersebut lebih berwarna dibanding biasanya.
“Agendanya bagus, karena berbeda dari Yaumul muhasabah biasanya. Biasanya kita evaluasi mingguan, tapi dua minggu belakangan ini diajarkan bahasa Arab dan itu sangat bermanfaat. Kita coba-coba baca juga meski tidak ditunjuk. Ditambah lagi materi hari ini terkait shaum, kita bentar lagi shaum dan itu berguna banget buat panduan Ramadhan,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Nurulafiqah Dahlan dari kelas X-4. Menurutnya, materi malam itu menambah pemahaman tentang puasa sekaligus memperluas pengetahuan bahasa Arab. “Materinya menambah pemahaman kita tentang puasa, menambah ilmu baru tentang sesuatu yang belum kita ketahui. Menyadarkan kita tentang makna kedisiplinan,” ujarnya.
Muzayna Latifatul Azizah Laitupa dari kelas X-3 pun memberikan tanggapan positif. “Agendanya menarik, materinya juga menarik, karena kan dekat puasa jadi cocok banget,” tuturnya setelah kegiatan usai.
Yaumul muhasabah malam itu tidak sekadar menjadi forum evaluasi, tetapi juga ruang persiapan ruhiah menyambut Ramadhan. Dengan bekal pemahaman tentang kewajiban puasa dan hikmahnya, para santri meninggalkan MPI dengan kesiapan yang lebih matang. Bukan hanya secara ilmu, tetapi juga secara kesadaran dan komitmen.[] Mila Sari







