Insantama, Pendidikan Terpadu

-

Insantama mendefinisikan dirinya sebagai Sekolah Islam Terpadu (SIT).  Dari namanya saja terggambar jelas bahwa landasan, proses, dan tujuan pendidikan yang dijalankan oleh Insantama berbasis Islam.  Sejak awal, orang tua perlu menyadari bahwa menyekolahkan anak di Insantama berarti memberikan sarana dan lingkungan Islam bagi anaknya.

Insantama memiliki cara pandang khas terkait dengan makna terpadu. Ada tiga hal keterpaduan yang dipadukan dalam proses pendidikan.

Pertama, keterpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Setiap siswa ditempa aspek pengetahuannya (kognitif) sehingga mereka memiliki pemahaman tentang apa yang dipelajarinya.

Namun, tidak sebatas itu.  Siswa juga dididik agar pengetahuannya tidak sebatas ‘ilmu saja’ melainkan harus menjadi sikap dalam menjalani kehidupannya (afektif).  Hal ini tercermin dalam cara berpikir dan cara mensikapi persoalan yang dihadapinya.  Berikutnya, sikap itu dicerminkan dalam praktek dan perilaku sehari-hari (psikomotorik).

Kedua, keterpaduan dalam materi pendidikan. Insantama memadukan antara pendidikan kepribadian Islam, keilmuan keislaman (tsaqafah islamiyah), dan ilmu kehidupan.

Kepribadian Islam merupakan tujuan diselenggarakannya pendidikan berbasis akidah Islam.  Untuk itu penanaman pola pikir islami (‘aqliyah islamiyah) dan pola jiwa islami (nafsiyah islamiyah) mendapat perhatian dalam berbagai tahapan dan proses pendidikan.

Pola pikir islami didekati dengan membiasakan proses berpikir sejak dini dan penanaman tsaqafah Islam seperti cara membaca al-Qur’an secara baik, benar, dan indah melalui metoda Qiraati, pendidikan agama Islam (PAI), bahasa Arab, bina syakhsiyah islamiyah (BSI), hafalan ayat dan hadits, dsb.

Sementara, pola jiwa islami dihunjamkan dengan proses pembiasaan taat seperti shalat berjama’ah, shalat dhuha, membiasakan bacaan al-Qur’an, shaum, sedekah, kebiasaan berbagi, dzikir, dsb.

Pada sisi lain, Insantama juga memberikan ilmu kehidupan sebagai bekal bagi para siswa untuk dapat menjalani hidupnya pada masa kini dan dewasa kelak.  Ilmu kehidupan berupa pembelajaran sains dan teknologi dengan pendekatan quantum teaching and learning.

Ketiga, keterpaduan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.  Keterpaduan antara pelaku pendidikan ini dicerminkan dengan adanya komunikasi dan sinergi yang harmonis antara pihak sekolah (guru, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dsb) dengan pihak orang tua.

Salah satu bentuknya adalah peran serta yang bagus dari pihak orang tua dalam acara-acara sekolah seperti hadir dalam parenting program, memenuhi undangan rapat orang tua dengan sekolah, hadir saat konsultasi dan pembagian raport, lancar dalam pembiayaan, dsb.

Begitu juga, dengan masyarakat.  Salah satu program yang biasa dilakukan adalah tarhib Ramadhan dengan membagikan kurma kepada masyarakat sekitar, penyembelihan hewan kurban bersama masyarakat sekitar, tidak diperkenankannya berjualan di sekitar lokasi sekolah, dsb.

Itulah makna keterpaduan dalam pandangan Insantama. Keterpaduan tadi ditujukan agar siswa memiliki arah: hidup mulia, mati bahagia.  Paradigma untuk mewujudkan keberhasilan dalam keterpaduan tersebut adalah iman, ilmu, dan amal (IIA).[]