Pernyataan Vince Lombardi (pelatih legendaris sepak bola profesional Amerika) “Winners never quit, and quitters never win [Orang yang menang tidak pernah menyerah, dan orang yang menyerah tidak akan pernah menang]” terasa tepat menggambarkan sosok Nono Hartono, kepala sekolah pertama SDIT dan SMPIT Insantama. Sejak berdiri tahun 2001 hingga kini memasuki usia ke-24, Insantama telah berjalan seiring dengan masa pengabdiannya.
Awal Bergabung
Lahir di Lamongan, 15 Januari 1972, Pak Nono semula bercita-cita menjadi insinyur pertanian. Ia menempuh pendidikan di Jurusan Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian IPB sejak 1991. Namun arah hidupnya berubah saat pada Agustus 1996 ia memilih menjadi guru di Pesantren Al Umm, Ciawi, Bogor. Keputusan yang awalnya bermula dari “keisengan” itu justru menumbuhkan kecintaan mendalam pada dunia pendidikan.
Ia menemukan kepuasan saat berinteraksi dengan murid-muridnya. Tak hanya mengajar pelajaran eksak seperti matematika dan IPA, Pak Nono juga menjadi tempat curhat para siswa yang sedang mencari jati diri. Totalitasnya membuat ia dipercaya memimpin SMP dan SMA Islam Al Umm sekaligus.
Di puncak amanah itu datang tawaran dari sahabat kuliahnya, Karebet Widjajakusuma (salah seorang pendiri Yayasan Insantama Cendekia), untuk memimpin SDIT Insantama di bawah Yayasan Insantama Cendekia. Konsep Sekolah Islam Terpadu dan full day school saat itu masih terbilang baru dan menantang. Meski sempat ragu, pada Juni 2001 Pak Nono akhirnya memutuskan bergabung.

Mulai Memimpin
Pak Nono memulai memimpin SDIT Insantama di tahun pertama dengan 19 siswa kelas 1, dua guru dan satu office boy (OB). Benar, sejak berdiri sekolah ini berkomitmen untuk menyediakan 2 sosok guru dalam satu kelas. Bapak dan ibu harus selalu ada dalam belajar keseharian. Yang masing-masing berposisi sebagai ayah dan bunda di sekolah.
Jika ada guru yang tidak masuk maka ia pun harus menggantikannya. Dan jika si akang OB tidak masuk, Pak Nono pun harus juga mem-back up untuk menyiapkan kelas agar kegiatan pembelajaran berlangsung nyaman.
Sedangkan ia pun juga harus melaksanakan tugas sebagai pelaksana ketata-usahaan dan mengatur penyediaan camilan dan makan siang bagi anak-anak didiknya. Tak jarang, Pak Nono harus berlarian ke sana kemari jika katering sedang bermasalah.
Kesungguhan sang kepala sekolah dan penjagaan guru kelas terhadap murid generasi awal, membawa berkah di tahun kedua Insantama dengan mendapatkan dua rombongan belajar (rombel), 54 siswa.
Pendekatan pembinaan menitikberatkan pada pembentukan karakter islami: adab, ibadah, kemandirian, kedisiplinan, dan kepribadian unggul. Hubungan baik yang ia bangun dengan sekolah sekitar dan Dinas Pendidikan membuatnya dipercaya sebagai pemandu dan koordinator tim Pengembang Kurikulum Bahasa Inggris Dinas Pendidikan Dasar Kota Bogor.
Saat awal menjadi kepala sekolah gaji yang diterima Pak Nono (Rp 750.000 per bulan) jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan gaji lulusan S1 alumni IPB yang bekerja di berbagai perusahaan dan instansi. Namun spirit memberikan yang terbaik yang ia bisa, dengan kesungguhan maksimal menjadi salah satu jalan hadirnya keridhaan Allah kepada dirinya dan sekolah yang ia pimpin. Sebagaimana moto hidup yang selama ini ia pegang: Senantiasa berupaya mencari ridha Allah SWT.
Menemukan Pasangan Hidup
Hingga SDIT Insantama terus melangkah sampai memasuki tahun ke-6, dengan lebih 300 siswa dan 12 rombelnya, Pak Nono juga menemukan pasangan hidupnya. Atas dorongan dan bantuan (baca: makcomblang) salah seorang guru akhwat (Bu Rani), ia menikahi Erissa Yulindawati, alumni Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) yang sebelumnya melaksanakan program pengabdian atau magang mahasiswa di Insantama.
Memang benar kata pepatah “kau akan mendapatkan apa yang kau cari”. Di saat sang pemuda hanya mencari keridhaan Allah, maka Allah pun membalas dengan kebaikan dan keberkahan hidup. Dan dari Rahim Bu Eca, panggilan Erissa Yulindawati, lahirlah empat anak yang shalih dan shalihah.
Melanjutkan Kepemimpinan
Pada tahun 2007, Pak Nono meluluskan 29 siswa SD sebagai angkatan pertama. Separuh alumninya yang didorong kuat oleh para ortu siswa melanjutkan pendidikannya ke SMPIT Insantama. Saat itu siswa pertama SMP mencapai 21 anak.
Pak Nono pun mendapatkan amanah dari YIC untuk terus melanjutkan kepemimpinannya di jenjang SMP. Sedangkan di saat yang sama secara de jure tetap harus memimpin jenjang SD selama satu tahun.
Dua peran dalam satu waktu tentu tidaklah mudah. Terlebih di tahun pertama SMPIT, dinas pendidikan mengeluarkan surat bahwa SDIT Insantama harus mengikuti program akreditasi sekolah.
Beberapa malam Pak Nono harus bergadang hingga menjelang pagi saat menyupervisi ribuan dokumen yang dibuat oleh para guru SD selama beberapa pekan selama persiapan akreditasi SD. Dan dengan izin Allah SDIT Insantama mendapat nilai A pada akreditasi pertamanya.
Dan selama 7 tahun Pak Nono memimpin SMPIT Insantama, juga berhasil mengantarkan sekolah kepada akreditasi pertamanya dengan nilai A.
Bersama guru pionir, Pak Nono menggagas berbagai program pembinaan seperti Pekan Ta’aruf, LDK, LKMM, Permata, dan Pesantren Wisuda yang terus berlanjut hingga kini.
Saat ini, lulusan Magister Pendidikan MIPA Universitas Indraprasta PGRI Jakarta tersebut mengabdi sebagai anggota Lembaga Penjaminan Mutu SIT Insantama. Ia tetap aktif mendampingi sekolah, melaksanakan audit, pelatihan, serta mengajar siswa kelas VI.

Penggerak Literasi
Pak Nono juga merupakan salah satu guru penggerak literasi, ia dan beberapa guru selalu setia mengawal ekspresi siswa yang bernama Klub Bahasa. Dan melalui klub ini, siswa SDIT Insantama telah menghasilkan beberapa buah buku: Kisah Berhikmah di Sekolah dan Dari Pena Kami, Kisah dan Inspirasi.
Demikian juga menjadi kompor di tengah-tengah guru untuk berkarya menuliskan buku, sehingga terbitlah Aksara Penuh Makna di Jendela Kelas Kita, antologi cerpen dan puisi para guru di SDIT Insantama.
Hadir di sekolah selalu di awal pagi… berkantor dengan rekan lamanya dan murid-muridnya yang kini menjadi rekan sekerja, seperti Kak Imad, alumni SD-SMA angkatan 1 dan Kak Fadhil, alumni SD-SMA angkatan 2.
Keluar dari Insantama?
Saat ditanya oleh NKI (20/11/2025), apakah selama bekerja di Insantama pernahkah Pak Nono berpikir untuk keluar dari Insantama dan ingin berkiprah di tempat lain, Pak Nono menjawab: “Sejauh ini, dari awal hingga sekarang, belum ada keinginan untuk keluar atau pindah kerja.”
Sosok kalem dan tenang ini begitu menikmati menjadi bagian dari sekolah ini, di mana pun posisi yang ia dapatkan. Ada satu hal yang membuat Pak Nono betah di Insantama, yaitu lingkungan kerja yang kondusif untuk selalu taat kepada Allah SWT.
Ditambah dengan dukungan keluarga yang 100%, fasilitas pendidikan kepada anak-anaknya yang bersekolah di Insantama, makin memantapkan Pak Nono di sini hingga titik akhir ia bisa memberikan manfaat untuk pendidikan generasi.
“Sepertinya ya, ingin tetap menjadi bagian dari Insantama hingga tenaga dan pikiran sudah tidak mampu lagi,” jawabannya penuh keteguhan.[] Maseko







