Enam bulan menjelang wisuda, Naila tiba-tiba didatangi ibunya, Ir. Dedeh Wahidah Achmad, di indekos ketika masih kuliah kedokteran di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Tanpa pesan sebelumnya, tanpa basa-basi panjang. Hanya satu amanah yang membuat jantungnya berdegup: ada seorang laki-laki yang ingin mengkhitbahnya. Yang lebih mengejutkan, namanya tidak langsung disebut.
“Ibu khawatir kalau saya menolak, nanti malah jadi beban pikiran,” kenang Naila sambil tersenyum kepada Newsletter Kabar Insantama beberapa waktu lalu.
Di titik itulah terlihat kedewasaan yang tumbuh dari didikan panjang: ia menerima bukan karena tahu siapa yang datang, tetapi karena keyakinannya bahwa orang tua tak mungkin memilihkan yang buruk untuk anaknya.
Dari momen itulah biduk rumah tangga Naila dan Imad bermula. Bukan kisah romantika biasa, melainkan perjalanan panjang dua insan yang tumbuh dalam nilai, ditempa dalam proses pendidikan, lalu dipertemukan dalam jalan takwa. Semuanya bermula dari satu tempat bernama Insantama.
Naila
dr. Raudhah Rahmatillah Nailati, nama lengkap dan gelar Naila, termasuk siswi yang tercatat sejak lembar awal sejarah Insantama. Bahkan, keberadaannya menjadi salah satu sebab lahirnya SDIT Insantama. Namun kisah ini bukan tentang romantika sejarah semata, melainkan tentang bagaimana pendidikan, keluarga, dan iman membentuk cara seseorang memandang hidup.

Kini, Naila telah tujuh tahun menikah dan dikaruniai dua anak: Rabiah Al Adawiyah Siddiq dan Abdullah Siddiq Al Biruni. Putri pertama dari Direktur Pendidikan SIT Insantama Dr. Ir. Muhammad Rahmat Kurnia, M.Si. ini mengabdikan ilmunya di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) Insantama. Ia memeriksa kesehatan murid, guru, dan staf. Sebuah peran yang terasa seperti kepulangan, bukan sekadar pekerjaan.
Imad
Apt. Muhammad Imadudin Siddiq, S.Farm., nama lengkap dan gelar Imad, juga menempuh dua belas tahun masa sekolahnya di Insantama. Putra pertama dari Eni Retno Mulyani, S.P. dan Ir. Mashudi, M.M. ini tumbuh bersama dinamika sekolah yang terus berkembang.
Masa SD baginya adalah ruang eksplorasi: bermain di alam, belajar dengan gembira, dan merasakan hangatnya relasi guru-murid. Memasuki SMP, suasana menjadi lebih serius. Di SMA, arah hidupnya semakin jelas. Ia menemukan minat pada dunia kepenulisan dan meraih prestasi tingkat nasional hingga internasional.
Sebagai putra dari Direktur Manajemen dan Aset Sekolah Islam Terpadu (SIT) Insantama, Imad memahami, identitas membawa amanah moral. Menjaga dan membesarkan Insantama bukan sekadar melanjutkan institusi, tetapi mewujudkan cita-cita para pendiri agar pendidikan ini menjadi amal jariah lintas generasi.
Kini, Imad aktif di Lembaga Penjaminan Mutu SIT Insantama, tanda bahwa perjalanan sebagai murid telah bertransformasi menjadi pengabdian.
Proses yang Pernah Dipertanyakan
Menariknya, baik Imad maupun Naila pernah berada di titik jenuh. Keduanya sempat ingin merasakan sekolah di luar Insantama. Imad bercita-cita masuk SMA Kimia demi impian bekerja di pertambangan. Naila berharap melanjutkan ke SMA Negeri di Bandung demi peluang masuk Fakultas Kedokteran UGM.
Namun diskusi panjang bersama orang tua, pertimbangan nilai, dan kematangan proses membuat mereka kembali memilih Insantama. Pilihan yang saat itu terasa biasa, tetapi di kemudian hari terbukti penuh hikmah.
Keduanya merasakan dampak nyata pendidikan Insantama: manajemen waktu, keberanian berbicara di depan publik, kepercayaan diri, dan kebiasaan berdiskusi. Naila bahkan menemukan kecintaannya pada biologi berkat metode mengajar guru yang inspiratif, bukti bahwa satu guru dapat mengubah arah hidup muridnya.
Peran Keluarga dan Guru
Dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam perjalanan Naila. Ia terbiasa berdiskusi terbuka dengan orang tua terkait pilihan pendidikan dan kehidupan. Bahkan dalam kondisi sulit, orang tua tidak menekan, melainkan memberi ruang untuk berpikir jernih dan bertanggung jawab.
Sementara bagi Imad, peran guru sangat menentukan. Setiap fase pendidikan di Insantama membentuk fondasi karakter dan intelektual yang kokoh. Guru bukan hanya pengajar, tetapi penuntun arah hidup.
Pesan untuk Adik-Adik Insantama
Bagi Imad, kesabaran adalah kunci. “Nikmati prosesnya. Banyak hikmah yang baru terasa setelah kita melewatinya,” pesannya kepada adik-adik kelas.
Sementara Naila berharap para guru tetap hadir secara ramah, peduli pada individu murid, dan memandang pendidikan sebagai bagian dari dakwah. “Kebiasaan dakwah murid sangat dipengaruhi oleh keteladanan gurunya,” ujarnya lirih tapi tegas.
Pendidikan yang Memanggil Kembali
Kisah Naila dan Imad mengajarkan satu hal penting: pendidikan sejati bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi tentang proses panjang membentuk manusia yang utuh.
Insantama dalam kisah ini bukan sekadar latar tempat. Namun juga rumah yang menumbuhkan, mendewasakan, dan memanggil kembali murid-muridnya untuk mengabdi.
Dan mungkin, di sanalah makna pendidikan menemukan bentuknya yang paling indah: tumbuh dalam takwa, lalu dewasa bersama Insantama.[] Arie Susanto








