Raudhah Rahmatillah Nailati lulus TK 2001. Ustadz Rahmat Kurnia sempat galau mencari SD bagi putri sulungnya karena kondisi SD di Bogor saat itu tidak ideal; murid kelas 1–3 selesai sekolah jam 10 pagi, sementara orang tua sibuk bekerja. Pulang sekolah anak-anak tidak ada yang mendampingi.
Rekan-rekan Ustadz Rahmat, sesama pendakwah, memiliki keresahan serupa. Sebagai pemenang, mereka mencari solusi, bukan berkutat di masalah. Maka, pada 2001 mereka mendirikan SDIT Insantama.
Kini Insantama memiliki cabang di 23 kota di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Maluku. Ustadz Muhamad Ismail Yusanto, Ustadz Rahmat Kurnia, dan pendiri lainnya menanamkan semangat, dedikasi, integritas, dan keunggulan.
Daur Pertama:
Making Better, Making Different
Ustadz Muhamad Ismail Yusanto, Ketua Yayasan Insantama Cendekia (YIC), bersama Ustadz Rahmat Kurnia, Direktur Pendidikan SIT Insantama, adalah pendidik berdedikasi yang merintis SIT Insantama hingga unggul dalam akademik dan pendidikan karakter islami.
Insantama memiliki keterampilan untuk bertumbuh, dengan kemampuan melompat (leap) yang membuat lembaga ini tumbuh semakin berkarakter (grow with character). Leap yang terencana dan berkualitas dibentuk melalui latihan terus menerus, terkait perubahan, kecepatan, kekuatan, kelenturan, dan kegesitan.

Menurut Rhenald Kasali dalam LEAP Menuju Inovasi Berkelanjutan (2024), empat fase leap: Run up, Take off, Flight, dan Landing. Run up adalah langkah awal membangun kekuatan dan menemukan momentum tepat.
Insantama pada daur pertama (2001–2012) fokus menghasilkan kinerja gemilang (making better) dan menciptakan budaya sekolah unggul dengan faktor pembeda (making different). Inovasi bertahap bercorak imajinatif, dengan terobosan baru (breaking through). Pertumbuhan melejit dari sekolah menyewa gedung hingga memiliki gedung megah, menjadi kebanggaan Bogor dan nasional, dengan cabang menyebar seantero Indonesia. SIT Insantama menjadi unik dan berbeda, menghadirkan solusi radikal (radical solution) bagi masalah kelangkaan sekolah bagi umat Islam.
Daur Kedua:
Pendidikan Bermakna Mengabdi Tujuan Mulia
Pada Mei 2025, Insantama berusia 24 tahun, memiliki empat unit: SDIT (2001), SMPIT (2007), SMAIT, dan IBS (2010). Keempat unit senantiasa memperbarui kurikulum, dengan internalisasi nilai Islam. Unit SDIT fokus membaca dan menulis Al-Qur’an, doa dan dzikir, hafalan Al-Qur’an minimal juz 30, dan fikih shalat. SMPIT menguatkan fikih qurban, umrah, dan haji. SMAIT dan IBS fokus pada fikih munakahat.
Guru Insantama diformat melalui mentoring guru senior dan pelatihan Direktorat SDM YIC. Pendidikan menghindari sekulerisme, berbasis syariah. Semua materi diajarkan dengan nilai Islam agar murid memahami ilmu sesuai prinsip Islam. Konsep pendidikan tiga pilar: membentuk manusia berkepribadian Islam, menguasai tsaqafah Islam, dan menguasai ilmu kehidupan. Insantama menjadi lembaga pendidikan dasar dan menengah yang terbimbing visi dan nilai-nilai Islam.
Daur Ketiga:
Sentra Persemaian Benih Kepemimpinan Islami
Pengurus YIC, direksi, guru, karyawan, murid, dan orang tua terbukti menjadi Super Team dan Wonder Team, membangun brand Insantama. Mengutip Rhenald Kasali (Delivered, 2025), mereka berhasil mewujudkan SIT Insantama yang unik, khas, dan masyhur. Saat merayakan HUT ke-24 pada 25 Mei 2025, tema “Tak Henti Mengembangkan Diri dan Berprestasi” menekankan relevansi menghadapi era AI. Pemangku tanggung jawab dan pemangku kepentingan harus menghindari jebakan sukses daur pertama dan kedua, agar daur ketiga (flight) lestari.
Sejarah menunjukkan pola 80 tahunan. Tahun 2025 fase bad time: manusia hidup nyaman menjadi lemah, ekonomi runtuh, lahir generasi pejuang. Setelah Perang Dunia II lahir baby boomers, dilanjutkan generasi X dan milenial. Era digital membuat Gen Z dan Alpha hidup nyaman. Namun menghadapi tantangan fisik AI (2030–2040). AI lebih pintar, cepat, dan tidak capek, sehingga manusia harus siap menghadapi dominasi pekerjaan robot.
Insantama menghadapi tantangan ini dengan metode tallaqiyan fikriyan (TF), lima metode pengembangan materi (5i), dan quantum teaching (QT). Murid diajarkan naik level yang tak bisa dilawan AI: kreatif (out of the box), inovatif (thinking new box), dan problem solving (next box).
Namun, mengingat generasi Alpha merupakan generasi yang didominasi teknologi tatap layar dan kurang memiliki kepedulian terhadap sesama akibat jarang berinterakti tatap muka, mesti lebih diasah lagi kecakapan lunak berempatinya. Guna mengasah kecakapan lunak berempati program pembinaan SMPIT “Bedah Desa” sebaiknya diganti dengan live-in sosial di panti asuhan-panti asuhan disabilitas yang dikelola lembaga-lembaga filantrofis Islam. Program ini lebih powerful dalam membentuk karakter Islam yang terpuji—caring pada usia dini. Ketimbang immersion program di desa yang lebih terasa berlibur di rumah paman.

Program LDK 3 Taklukkan Cianjur juga sebaiknya diganti dengan pembelajaran luar ruang di Kampus Outward Bound Indonesia (OBI) Jatiluhur, Purwakarta. Kampus OBI sejak dekade 90-an berjaya menggembleng siswa, mahasiswa, dan profesional mengasah kemandirian, pengambilan keputusan, kerja sama tim, dan survival. Transformasi yang ditawarkan OBI bisa menjadi pendukung program pembinaan karakter Islam Insantama.
Akhir kata, ilmu adalah cahaya. Guru yang berbagi dan murid yang menuntut ilmu bersama-sama menjadi cahaya. Semboyan Ustadz Rahmat Kurnia menjadi motivasi memasuki daur ketiga Insantama. SIT Insantama 12 tahun ke depan merupakan sentra persemaian benih kepemimpinan Islam di Indonesia.[]







