“Sejak awal saya tidak terlalu memperhatikan berapa kenaikan ujrah (gaji) itu, selama itu adalah hasil keringat saya mengajar, insyaallah saya terima dengan rasa syukur. Alhamdulillah cukup untuk menghidupi dari awal saya sendiri (bujangan) hingga saya berkeluarga sampai punya anak sembilan. Dan Alhamdulillah, ketujuh anak saya masuk di Insantama…”
Itulah ungkapan Triana, salah satu guru SMPIT Insantama, yang diwawancarai Kabar Insantama tepat selepas bertugas sebagai guru pendamping LMT-4, Archeariez Foremost in Pare, Jumat (30/1/2026).
Tentu merupakan tempat yang nyaman jika ada sekolah swasta yang bisa membuat para guru dan stafnya betah bekerja. Terlebih, tidak banyak sekolah swasta yang mampu memberikan gaji besar bagi para karyawannya.
Di Indonesia, gaji guru sekolah swasta (bukan sekolah internasional) sebagian besar masih berada di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) atau Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK). Padahal tugas guru sangat mulia: mencerdaskan dan mendidik anak bangsa dengan iman, ilmu, dan akhlak. Bahkan sering kali upah guru masih kalah dibandingkan karyawan perusahaan tambang, meskipun guru tersebut telah lama mengajar.
Karena itu banyak sekolah mengalami turnover tinggi, yakni pergantian keluar-masuk guru atau staf. Penyebabnya bisa karena manajemen yang kurang baik, budaya kerja yang tidak sehat, atau ketidakpuasan pegawai terhadap gaji.
Namun jika kita mendapati lembaga pendidikan yang tidak mampu memberi gaji besar tetapi turnover-nya rendah, maka lembaga itu pasti memiliki sesuatu yang lain yang mengikat para pegawainya tetap betah mengabdi dan berkarya.
Seperti pondok pesantren salafiah. Para alumninya diminta mengabdi di almamaternya, baik sebagai pengajar maupun membantu tugas kiai. Gaji mereka kecil, bahkan ada yang tidak digaji, hanya diberi fasilitas makan. Namun mereka tetap setia hingga kiai membolehkannya berkiprah di luar pesantren.
Apa yang mengikat mereka? Jawabnya adalah ikatan guru-santri, ikatan nasab ilmu, serta harapan memperoleh berkah dari sang guru.
Senada dengan itu adalah kisah seorang muslimah shalihah, putri seorang CEO, yang menerima mahar sederhana dari pria pegawai biasa: seperangkat alat shalat dan cincin emas 2,5 gram. Apa arti mahar sekecil itu bagi orang berada? Tidak lain karena ia mengharap keberkahan sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya pernikahan yang paling besar keberkahannya adalah yang paling mudah maharnya” (HR Ahmad).
Dari hubungan penuh pengertian itu tumbuhlah sakinah wa rahmah (ketentraman dan kasih sayang). Semua berawal dari keyakinan akan janji Rasulullah.
Rupanya kata berkah (barakah) ini memiliki energi besar bagi seseorang. Membuat seseorang bertahan di suatu tempat yang dirasakan sebagai jalan keberkahan. Sebagaimana Triana yang mengabdi sejak tahun 2004.
Berkah bukanlah sekadar bertambahnya materi. Para ulama mendefinisikannya sebagai ziyadatul khair, bertambahnya nilai kebaikan. Meski sedikit, tapi cukup dan manfaatnya banyak. Berkah juga berarti segala hal yang menambah ketaatan seorang hamba kepada Allah.
Suasana keberkahan ini tumbuh di lingkungan Insantama. Setidaknya ada dua keberkahan yang dirasakan guru dan staf: material dan immaterial.
Keberkahan Material
Berdasarkan yang penulis amati dan rasakan, keberkahan secara material setidaknya ada lima. Pertama, mendapatkan gaji yang tidak pernah terlambat. Sejak penulis bergabung dengan Insantama (2003), tak pernah sekalipun terlambat menerima gaji. Selalu tepat setiap akhir bulan.
Kedua, adanya diskon biaya pendidikan bagi anak-anak guru dan staf. Anak pertama gratis 100% (SPP dan IP), anak kedua 75%, anak ketiga hingga kelima 50%. Bahkan sering masih ada permohonan ulang agar biaya lebih ringan.
Ketiga, kemudahan mendapatkan pinjaman sekolah (kasbon) untuk kebutuhan keluarga: tambahan dapur, pembelian gadget, kendaraan, renovasi rumah, biaya kuliah anak, hingga kebutuhan pernikahan.
“Alhamdulillah, semenjak bekerja di sini saya bisa bantu keluarga dan beli motor baru,” ungkap Nining, salah satu muadibah Islamic Boarding School (IBS) Insantama Bogor.
Keempat, fasilitasi tempat akad nikah dan walimah di aula atau auditorium sekolah, bahkan bisa memesan hidangan dari dapur sekolah.
Kelima, semua guru dan staf mendapatkan beras setiap bulan dari seorang wali murid dermawan. Prosesnya tidak tiba-tiba: Allah menggerakkan hamba-Nya untuk bersedekah hampir 4 ton beras tiap bulan sejak November 2022. Masyaallah.
Tak hanya internal, keberadaan Insantama juga dirasakan warga sekitar. Banyak warga bekerja sebagai satpam, OB, dapur sekolah, bahkan guru. Warga juga dapat menitipkan hasil produksi rumah tangga di kantin atau menjadi pemasok dapur dan bingkisan Ramadhan. Program sosial sekolah (school social responsibility/SSR) turut menjadi keberkahan bagi masyarakat sekitar.
Keberkahan Immaterial
Di antara keberkahan immaterial adalah Insantama menjadi tempat bertemunya jodoh. Banyak guru, pegawai, bahkan alumni menemukan pasangan hidupnya di sini.
Selain itu, para pegawai mendapatkan keberkahan ilmu. Kajian tsaqafah hampir tak pernah sepi, baik dari pimpinan yayasan maupun tim RnD yang dianggap sebagai orang tua bagi pegawai. Pelatihan kependidikan, manajerial, dan parenting juga melengkapi kebutuhan intelektual.
“Bisa berkumpul dengan orang-orang baik dan jujur, ikut kajian halqah… masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan,” ungkap Elda, staf OB yang aktif mengunggah pesan-pesan motivasi di akun sosmednya.
Para orang tua siswa pun mudah mengakses kajian rutin yang difasilitasi pengurus Forum Orang Tua Siswa (Fosis). Anak dan orang tua sama-sama terus ‘bersekolah’, sejalan dengan visi-misi Insantama.
Keberkahan juga hadir dalam bertambahnya keterampilan, seperti berenang dan menulis. Penulis sendiri merasakan peningkatan itu selama bersama Insantama.
Yang tidak kalah penting adalah lingkungan kerja yang saling mengingatkan dalam kebaikan, sebagaimana pesan surat al-‘Ashr: beriman, beramal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran.
Terakhir, keberkahan berupa keleluasaan berdakwah. Seperti Triana yang merasakan kepuasan mendapatkan tsaqafah dari para aktivis dakwah di yayasan.
Hasna, guru SDIT Insantama Bogor menegaskan, “Salah satu keberkahan besar adalah bisa bekerja di lingkungan islami, support (dukung) dakwah… pulang-pergi bareng suami, anak terjaga. Itu mungkin tidak didapat di tempat lain.”
Semoga keberkahan itu senantiasa diridhai Allah SWT. Karena segala hal yang diridhai-Nya akan langgeng.[]







