Al Quran, Harta yang Paling Berharga

-

Ringkasan Khutbah Jum’at

K.H. Rohmat S Labib

27 Sya’ban 1445H/8 Maret 2024

 

Alhamdulillah kita sudah berada di penghujung bulan Sya’ban.  Hari Ahad esok kita berada di 29 Sya’ban.  Maka pada sore hari tatkala matahari terbenam, umat Islam diperintahkan untuk melakukan ru’yatul hilal.

Jika pada petang itu hilal terlihat maka malam itu telah masuk buan Ramadhan dan sejak Senin pagi kita memulai berpuasa.  Namun  jika tidak ada yang melihat hilal di satu negeri atau negeri yang lain maka Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari, dan puasa dimulai pada hari Selasa.

Dan yang terpenting dari hal itu adalah bagaimana kita bisa bertemu Ramadhan yang penuh kemuliaan itu dengan melaksanakan berbagai ketaatan kepada Allah SWT.  Ada banyak keutamaan Ramadhan yang perlu kita perhatikan.

Disebutkan dalam Surat Al Baqarah ayat 185

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.

Secara khusus dan jelas Allah menyatakan Bulan Ramadhan dalam firman-Nya, menyatakan salah satu nama bulan dari 12 bulan lainnya.  Maka ini jelas merupakan kemuliaan bagi bulan Ramadhan.

Kemudian dinyatakan juga bahwa di Ramadhan ini Allah turunkan Al Quran yang merupakan petunjuk ‘linnas’ bagi manusia, tidak hanya muslim, tapi seluruh manusia, siapapun itu.

Dan sebenarnya apakah yang paling berharga bagi manusia?  Tak lain sebenarnya adalah tatkala ia mendapatkan petunjuk.  Petunjuk inilah harta yag sangat berharga.

Coba bayangkan jika kita sedang dalam keadaan tersesat. Apakah ada kenikmatan bagi orang yang tersesat?

Jika setiap yang lahir itu mereka pasti akan mengalami kematian. Dan sebelum mati , orang akan menjalani hidup namun hidupnya tersesat, maka sungguh menderita keadaan seperti ini.  Dia pasti tidak jelas mau ngapain hidup ini.  Maka berfoya-foyalah dia, bebaslah kehidupannya… Dan masalahnya jika mati itu adalah justru bukan akhir kehidupan, melainkan awal kehidupan yang kekal di dimensi alam akhirat… maka  sungguh celaka keadaan orang yang hidupnya tidak jelas, yang tersesat, yang tidak mendapatkan petunjuk ini!

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.

 

Tentu saja orang-orang seperti ini tidak akan memikirkan Akhirat karena baginya hidup itu di dunia dan selesai sampai sini.  Maka cita-citanya adalah sebatas apa yang ia dapatkan di dunia.  Sebatas jabatan, harta, dan kenikmatan semu yang semuanya akan sirna.

Sedangkan alam Akhirat adalah abadi, ‘kholidina fiha abadaa..’, entah sampai kapan.

Kalau tersesat di dunia dan masih kesempatan kembali, maka masihlah mendapatkan keselamatan.  Tapi, jika sedang tersesat kemudian mati, maka  tak lagi bisa memperbaiki, tak bisa kembali. Dan inilah petaka.

Maka harta yang paling berharha itu sebenarnya adalah Al Quran, karena ia merupakan sebentar-benarnya petunjuk yang mampu menyelamatkan manusia.  Siapapun mereka yang berpegang teguh tehadapnya.

Al Quran diturunkan kepada manusia terbaik, yaitu Nabi Muhammad SAW.  Dan beliaulah ‘imamul anbiya’ (imamnya para Nabi).  Al quran diturunkan melalui Sayyidul Malaikat (Jibril).  Al Quran diturunkan di malam yang lebih baik dari 1.000 bulan, yaitu Lailatul Qodr di bulan paling Mulia, yaitu Ramadhan.

Maka betapa tidak dahsyatnya Al Quran ini?

Untuk itu, di waktu menjelang masuknya Ramadhan ini, kita bersama agar mengingatkan diri kita terhadap bulan yang diturunkannya mu’jizat teristimewa itu agar kita bisa selalu bersemangat membacanya Al Quran, mengkajinya, dan memperjuangkannya untuk teraplikasi di kehidupan dunia ini.

Selain itu, bagi hadirnya Ramadhan maka kita perlu menyambutnya dengan penuh keimanan.  Ibadah puasa adalah spesial bagi hamba karena Allah sendiri yang akan membalas pahala hamba menjalankannya.  Puasa berbeda dengan ibadah lain.  Ibadah lain bisa dibalas dengan 10 kali lipat, bisa juga hingga 700 kali lipat, tapi puasa… cukup dan hanya Allah sendiri yang akan memberikan pahalanya, yang bisa jadi tak bisa ternominalkan dengan angka.

Maka bersemangatlah mengisi Ramadhan dengan segala kemuliaannya. [EAC]