Setelah sebagan besar santri IBS sudah kembali ke asrama, ba’da sholat maghrib di hari ini (17/06) para santri kembali bisa mendengarkan tausiyah Ust. Muhib. Pada tausiyahnya yang pertama di bulan syawal ini, beliau menyampikan beberapa pesan menggugah.

“Anak-anak, hakikat waktu itu cepat…” kata Ust. Muhib, mengawali tausiyahnya di malam ini. Beliau kemudian bercerita tentang para santrinya yang datang silih berganti, tak terasa saat ini, ada yang sudah selesai kuliah bahkan ada yang sudah menikah dan punya anak. “sekarang wajah mereka itu sudah seperti pak Muhib” seloroh Ust.Muhib, yang membuat para santri tertawa.

“Pak Muhib saja serasa masih umur 23, padahal itu 20 tahun lalu loh…eh..tak terasa anak Pak Muhib saat ini sudah ada yang mau kuliah, bentar lagi punya mantu…” lanjut Ust. Muhib. “Cieee….” Seru para santri secara serentak. Ust. Muhib kemudian mengutip salah satu hadist,
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ.
“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga zaman berdekatan” (HR. Tirmidzi)

“Waktu pasca Rasulullah itu berjalan cepat. Fatakuun as- sanatu ka asy-syahri (setahun bagaikan sebulan), wa yakuun asy-syahru kal jum’ah (sebulan bagaikan sepekan), wa takuun al-jum’ah kal yaumi (sepekan bagaikan sehari), wa yakuun al-yaumu ka as-saa’ah (sehari bagaikan sejam), wa takuuna as-saa’atu kah tirooqi as-sa’afah (sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma).” Terang Ust.Muhib.

Ust. Muhib memahami “yataqoorob az-zaman” (berdekatannya zaman) itu secara hakiki, yang bermakna singkat atau cepatnya nya waktu yang dapat dirasakan oleh indra. Hal ini sesuai dengan hadist:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ.
“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga satu tahun bagaikan satu bulan.”

“jadi, jika kita saat ini merasakan waktu begitu cepatnya berlalu, hal tersebut memang karena hari kiamat itu semakin dekat” jelas Ust.Muhib.

Lantas, kapankah kiamat itu datang? Tidak ada satu pun makhluk yang Allah kasih tahu, termasuk Nabi Muhammad sendiri.

“Rasulullah pun pernah ditanya oleh para sahabat tentang datangnya hari kiamat. Beliau hanya menjawab, apa yang sudah kamu persiapkan untuk menghadapinya.?” Jelas Ust.Muhib.

Hari kiamat yang semakin dekat ini hendaknya mendorong setiap manusia untuk mempersiapkan diri mereka masing-masing. “Setiap umur yang bertambah, maka di sana ada hak untuk diisi dengan amal sholih” kata ust. Muhib.

Ust. Muhib kemudian menjelaskan, bahwa ketika masa berlalu demikian cepat, karena hari kiamat semakin mendekat, maka hendaknya kita menjalani kehidupan di dunia ini sebagaimana seseorang yang sedang dalam perjalanan. Sebagaimana hadits Nabi: “kun fid dunya ka annaka gharibun au ‘abiri sabil” (HR. Bukhori) (Hiduplah di dunia seperti orang asing atau yang sedang dalam perjalanan panjang).

Oleh sebab itulah, kata ust. Muhib, “orang yang pengen hidup panjang itu tidak realistis..” beliau kemudian memberikan ilustrasi, “coba lihat orang yang usianya 80 tahun, bagaimana bentuknya..?, nah, kalo yang usianya 80 tahun saja, sudah sedemikian rupa bentuknya, bagaimana halnya dengan orang yang usianya, 100 tahun, 200 tahun bahkan 1000 tahun..? “ tanya Ust. Muhib dihadapan para santri.

Beliau kemudian membacakan ayat:
وَلَتَجِدَنَّهُمۡ أَحۡرَصَ ٱلنَّاسِ عَلَىٰ حَيَوٰةٖ وَمِنَ ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمۡ لَوۡ يُعَمَّرُ أَلۡفَ سَنَةٖ وَمَا هُوَ بِمُزَحۡزِحِهِۦ مِنَ ٱلۡعَذَابِ أَن يُعَمَّرَۗ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِمَا يَعۡمَلُونَ
“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka (orang-orang kafir Yahudi), manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan” (QS. al-Baqarah [2] : 96).

“Orang kafir berharap bisa hidup 1000 tahun. Karena tujuan mereka dunia” jelas Ust. Muhib.

Padahal kata Ust. Muhib, Allah telah menyediakan kenikmatan yang luar biasa istimewa kepada orang yang beriman, sebagaimana dijelaskan dalam hadist dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda:
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
Allah SWT berfirman, ‘Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang sholih, kenikmatan yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya, dan belum pernah pula terbetik dalam kalbu manusia’.”

“Kalo Allah sudah menyediakan pahala yg istimewa, maka kita harus mengabdikan diri kita dengan amal yang istimewa pula” kata ust. Muhib

Ust. Muhib kemudian mengajak para santri untuk berpikir, “ nak, kalo pak Muhib bilang, bapak sudah menyiapkan makanan yang enak-enak di ruangan sana…apakah antum akan nunggu lama-lama?, tentunya Antum pengen sesegera mungkin menikmati makanan itu kan? ”

Inilah yang dicontohkan para sahabat, ketika perang berkecamuk. Ada sahabat, sambil makan kurma beliau bertanya kepada Rasul perihal tempatnya kelak jika beliau terbunuh di medan perang. Ketika sahabat tadi dijanjikan Rasul bahwa tempatnya itu di surga, beliau langsung terjun ke medan perang tanpa menunggu lama-lama, bahkan sekedar menghabiskan kurma yang ada di genggamannya.

Terakhir, Ust. Muhib menjelaskan tentang syawal, yang artinya “tarqiyyah”, bulan untuk meningkatkan amal. Menurut ust. Muhib, tuntutan “laalakum tattaqqun” masih melekat pada diri kita, sekalipun bulan Ramadhan sudah meninggalkan kita semua. Pembuktian ‘la’allakum tattaquun’ dimulai di bulan syawal ini. “Dan ciri amalan kita diterima, adalah semakin bertambahnya amal sholih kita” Pungkas ust. Muhib.
( Kur)