“Yang paling utama justru orang tuanya dulu yang harus diperbaiki.”
Demikian kesan yang disampaikan Ajat Sudrajat setelah mengikuti Parentama di SDIT Insantama Bogor. Bersama istrinya, Alia, ia mengikuti kegiatan tersebut sebagai orang tua dari Mika Abdurrohim Assatu Putra.
Pandangan serupa mengemuka dalam kegiatan Parenting Insantama (Parentama) yang diikuti para orang tua siswa baru SDIT Insantama di Auditorium SDIT Insantama Bogor pada Sabtu (23/5/2026). Melalui berbagai materi yang disampaikan, para peserta diajak memahami peran orang tua dan sekolah dalam proses pendidikan anak.
Sejak sesi pertama dimulai, para peserta diajak memahami bahwa pendidikan bukan sekadar urusan nilai akademik. Pendidikan adalah proses menyiapkan anak agar mampu menjalankan tujuan penciptaannya sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi.
Pesan itulah yang disampaikan Ketua Yayasan Insantama Cendekia (YIC) Ustadz Muhammad Ismail Yusanto. Dalam materi Keinsantamaan, ia menjelaskan bahwa pendidikan terbaik adalah pendidikan yang mampu mengantarkan manusia pada visi penciptaannya: menjadi Abdullah yang taat kepada Allah SWT dan Khalifatullah yang membawa kemaslahatan bagi kehidupan.
Materi tersebut menempatkan nilai keimanan dan pembentukan karakter sebagai bagian penting dalam proses pendidikan anak.
Pada sesi berikutnya, Direktur Pendidikan Sekolah Islam Terpadu (SIT) Insantama Dr. Muhammad Rahmat Kurnia mengajak para peserta melihat kembali peran keluarga dalam pendidikan anak.
Ia mengingatkan, sekolah tidak dapat berjalan sendiri. Rumah adalah madrasah pertama, dan orang tua adalah pendidik utama yang membentuk suasana tumbuh kembang anak setiap hari.
“Keluarga yang dipenuhi rasa mawaddah dan rahmah akan merasakan sakinah dalam rumahnya. Ketenteraman atas dasar keimanan inilah yang menciptakan suasana terbaik bagi pendidikan keluarga,” jelasnya.
Melalui materi tersebut, para peserta diajak memahami pentingnya keteladanan, perhatian, dan kasih sayang dalam proses pendidikan anak.
Perhatian terhadap peran orang tua dalam pendidikan anak juga tercermin dalam tanggapan para peserta. Alia dan Ajat Sudrajat mengaku memperoleh banyak pelajaran dari kegiatan tersebut.
“Banyak sekali yang bisa dipetik, terutama tentang keluarga dan bagaimana membentuk anak menjadi Muslim yang seutuhnya,” ujar Alia.
Bagi Ajat, ada satu hal yang paling membekas.
“Yang paling utama justru orang tuanya dulu yang harus diperbaiki. Inilah yang membedakan parenting di Insantama dengan sekolah lain. Cara pandang kita sebagai orang tua benar-benar diubah,” tuturnya.
Kesan serupa disampaikan oleh M. Rizal Taufikurohman dan Yoesi Ika Fiandarti, orang tua dari Thariq Tahfidzi Taqqyurahman. Menurut mereka, kekhasan Insantama terletak pada kemampuannya mengintegrasikan pendidikan pengetahuan, karakter, pola pikir, dan pola sikap dalam satu kesatuan yang utuh.
“Potensi anak-anak tidak semuanya sama. Dan Insantama memberikan ruang bagi mereka untuk tumbuh,” tambah Yoesi.
Pada sesi berikutnya, Direktur Kesiswaan dan Penjaminan Mutu SIT Insantama Muhammad Karebet Widjadjakusuma mengajak para orang tua menumbuhkan mimpi besar dalam diri anak-anak mereka. Sebab dari mimpi besar lahir energi besar untuk berkarya, memberi manfaat, dan menghadirkan perubahan.[] Eva Priyawati








