Lantunan ayat suci Al-Qur’an bergema sejak pagi di Masjid Pendidikan Insantama (MPI), Sabtu (30/5/2026). Satu per satu siswa maju ke hadapan para penguji, memperdengarkan hafalan yang telah mereka jaga selama berbulan-bulan. Di antara wajah-wajah yang tampak tegang, tersimpan tekad untuk menunaikan ikhtiar terbaik dalam menjaga Kalam Ilahi.
Suasana itu mengiringi pelaksanaan Sidang Tahfizh (Sidtah) periode keempat Tahun Ajaran 2025/2026 yang diikuti 212 siswa Sekolah Islam Terpadu (SIT) Insantama. Bagi para peserta, Sidtah bukan sekadar ujian hafalan, melainkan bagian dari proses menjaga, menguatkan, dan menambah hafalan Al-Qur’an.
Acara dibuka oleh Penanggung Jawab Tahfizh SIT Insantama Ahmad Fuad. Dalam sambutannya, ia mengucapkan selamat kepada seluruh peserta yang telah sampai pada tahap ini.
“Sidang Tahfizh ini adalah titik awal untuk lebih menjaga hafalan dan menambah hafalan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, kedekatan para siswa dengan Al-Qur’an merupakan kemuliaan yang patut disyukuri.
Direktur Pelaksana SIT Insantama Muhammad Adhi Maretnas Harapan, turut memberikan motivasi kepada para peserta.
Ia mengingatkan janji Allah dalam QS al-Qamar ayat 17 bahwa Al-Qur’an telah dimudahkan untuk dipelajari dan dihafalkan. Kemudahan itu juga tampak melalui hadirnya para ustadz dan ustadzah yang membimbing sekaligus mengoreksi bacaan para siswa.
Selama sidang berlangsung, para peserta tidak hanya dinilai dari banyaknya hafalan, tetapi juga kualitas bacaannya. Aspek fashahah, tartil, dan ketepatan tajwid menjadi perhatian utama para penguji.
Ahmad Fuad menjelaskan, SIT Insantama mengadopsi bacaan Hadr Mujawwad, yaitu bacaan hadr dengan tempo cepat tetapi tetap menjaga kaidah tajwid.
Menurutnya, kualitas bacaan harus terus dijaga karena kesalahan huruf ataupun harakat dapat mengubah makna ayat.
Bagi sebagian siswa, tantangan terbesar justru datang dari rasa gugup. Hal itu juga pernah dirasakan Al Fatih Segara Anak Huda, Ketua OSIS SMPIT Insantama yang akrab disapa Segara.
Ia mengaku membaca basmalah menjadi salah satu cara untuk menenangkan diri sebelum memulai sidang. Setelah tiga kali mengikuti Sidang Tahfizh, Segara berpesan kepada teman-temannya agar memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.
“Kalau bagiannya tinggal sedikit lagi, lebih baik dikejar. Jangan banyak ngobrol saat KBM Tahfizh. Sidtah diadakan empat kali dalam satu tahun ajaran, jadi manfaatkan kesempatan itu,” tuturnya.
Kesan istimewa juga dirasakan Muhammad Hafidz Taamir Yasin. Pada Sidtah kali ini, ia berkesempatan mengikuti sidang bersama adiknya, Muhammad Qeis Alfahri Yasin. Keduanya terbiasa saling menyimak hafalan sehingga dapat saling mengoreksi dan menguatkan hafalan masing-masing.
Semangat yang sama tampak pada peserta termuda, Unaisah Nusaibah dari kelas 3F. Meski baru pertama kali mengikuti Sidang Tahfizh juz 30, Una mengaku tidak merasa gugup karena didampingi teman-temannya, yakni Nina (3F), Mya (3B), Anin (3B), Acha (3C), dan Kinanah (3A). Mereka kompak mengikuti Sidtah untuk pertama kalinya.
“Sidtah itu gampang, kok,” ujar mereka serempak.[] Eva Priyawati








