Yuk, Daftarkan Ananda di SIT Insantama
Daftarkan putra-putri Ayah Bunda di SDIT-SMPIT-SMAIT Insantama, Sekolah Para Juara dan Calon Pemimpin. Hadir di 24 kota di Indonesia.
Daftar SPMB

Belajar Seru dari Sang Penghasil Madu

Suara riuh penuh rasa penasaran mewarnai suasana di Peternakan Madu Pak Lebah, Jumat (22/5/2026). Sebanyak 45 peserta Dokter Cilik (Dokcil) SDIT Insantama tampak sibuk mencari keberadaan lebah di antara sarang-sarang yang tersusun rapi. Sesekali terdengar teriakan kecil saat beberapa siswa mulai menyadari mereka benar-benar berada di tengah aktivitas budidaya lebah.

Kegiatan outing yang merupakan pertemuan ke-9 dalam program Dokcil ini menghadirkan pengalaman belajar langsung di luar kelas. Menurut penanggung jawab kegiatan Ida Marlina, outing kali ini bertujuan mengenalkan manfaat madu bagi kesehatan sekaligus menambah wawasan siswa tentang budidaya lebah.

“Pertemuan ke-9 Dokcil ini tentang mengenal manfaat madu untuk kesehatan dan menambah wawasan tentang budidaya lebah serta memberikan pengalaman belajar langsung di luar kelas,” jelasnya.

Kekhawatiran sebagian siswa mulai muncul saat mendengar kata lebah. Namun suasana berubah setelah mereka mengenakan beekeeping veil, topi pelindung berjaring yang melindungi wajah dari sengatan. Rasa takut perlahan berganti menjadi rasa ingin tahu.

Para peserta kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok ikhwan dibimbing Eureka yang akrab disapa Pak Reka, pemilik Peternakan Madu Pak Lebah, sedangkan kelompok akhwat didampingi oleh Kak Zaky.

Di dalam area peternakan, siswa mulai mengenal lebah trigona, salah satu jenis lebah penghasil madu yang tidak memiliki sengat.

“Lebah trigona adalah lebah penghasil madu yang tidak menyengat, jadi tidak berbahaya,” jelas Kak Zaky.

Meski tidak menyengat, lebah trigona tetap dapat menggigit sebagai bentuk pertahanan diri. Hal itu sempat dirasakan Kayyisa, siswi kelas 4B.

“Lebah trigonanya gigit bawah mataku, rasanya kayak digigit semut,” katanya sambil tersenyum sambil mengusap matanya.

Lebah trigona berukuran kecil, sekitar 3–5 milimeter, dan hidup dalam koloni yang terdiri dari ratu, pekerja, dan pejantan. Mereka hidup dari nektar bunga, serbuk sari, serta resin atau getah tanaman yang juga digunakan untuk membangun sarang.

Selain trigona, para siswa juga diperkenalkan dengan lebah Apis mellifera yang banyak dibudidayakan sebagai penghasil madu, serta Apis cerana yang umum ditemukan di wilayah Asia dan mampu hidup lebih alami di lingkungan tropis.

Selain itu, Kak Zaky menjelaskan, kualitas madu sangat dipengaruhi oleh sumber pakan lebah.

“Madu yang berkualitas didapat dari makanan lebah yang berasal dari getah kapuk randu dan sari bunga kaliandra,” jelasnya.

Tidak hanya belajar tentang lebah, para siswa juga mendapatkan pengetahuan tentang manfaat madu bagi kesehatan. Madu mengandung antioksidan, vitamin, mineral, serta senyawa antibakteri. Sejak dahulu, madu dikenal dapat membantu menjaga daya tahan tubuh, meredakan batuk, mempercepat penyembuhan luka, serta menjadi sumber energi alami.

Puncak kegiatan terjadi saat para siswa diajak menyaksikan proses pemerasan madu trigona langsung dari sarangnya. Dengan penuh antusias, mereka melihat madu diteteskan dan dikumpulkan untuk pertama kalinya.

“Rasanya asam manis,” kata Kayyisa setelah mencicipi madu yang baru diperas.

Di sela kegiatan, suasana pecah oleh tawa ketika Zora dari kelas 4A melontarkan pertanyaan polos, “Lebah takut nggak sama tawon?” Pertanyaan spontan itu membuat suasana peternakan menjadi hangat dan cair.

Outing ini tidak hanya menjadi wisata edukasi, tetapi juga pengalaman belajar yang melekat di ingatan siswa.

Seneng banget bisa peras madu langsung dari sarangnya, pencet sarang madu ke saringan, terus nampung madunya,” cerita Kayyisa antusias.[] Siti Sobiah

Baca lainnya

Belajar Seru dari Sang Penghasil Madu

Suara riuh penuh rasa penasaran mewarnai suasana di Peternakan Madu Pak Lebah, Jumat (22/5/2026). Sebanyak 45 peserta Dokter Cilik (Dokcil) SDIT Insantama tampak sibuk mencari…