Sebelum matahari meninggi, 886 siswa SDIT Insantama dan 126 panitia yang terdiri dari guru dan staf SIT Insantama mulai memenuhi lapangan di depan Gedung 3, Rabu (20/8/2025). Mereka tampak bersemangat untuk mengikuti pembukaan Hari Kreativitas Siswa (HKS) yang biasanya menampilkan hal menarik berupa tampilan dan hasil kreativitas guru.
Riuh tawa dan tepuk tangan mengiringi acara pembukaan yang berlangsung di luar dugaan. Para guru laki-laki tampil memerankan peragaan tradisi Pacu Jalur secara jenaka, lengkap dengan kostum anak pacu dan tukang concang (pendayung). Mereka memasuki lapangan dengan menaiki replika perahu, menciptakan suasana meriah dan penuh gelak tawa.
Tak ketinggalan dengan gerak tangan dan tubuh laksana di atas air. Adegan ini mengundang antusiasme siswa-siswi hingga serentak berdiri untuk bisa lebih jelas melihat tampilan guru-guru mereka. Tak sekadar peragaan yang lagi viral, pacu jalur diambil karena warisan leluhur yang mengandung filosofi, simbol dan identitas negeri yang hampir tergerus zaman.
Berbagai lomba yang disertakan di HKS ini, termasuk permainan tradisional yang sudah jarang dimainkan anak-anak karena tergerus permainan digital. Mulai lomba bentengan, balap karung, egrang batok, pukul kaleng, balap ban mobil hingga lomba tarik tambang.
Menariknya, beberapa bahan lomba yang digunakan merupakan daur ulang dari barang bekas, seperti lomba pukul kaleng yang menggunakan kaleng-kaleng dari bekas biskuit, lomba balap ban mobil yang menggunakan ban-ban mobil bekas. Hingga bisa meminimalisir jumlah sampah dan mengurangi beban bumi dari sampah bertumpuk.
Para siswa juga terlihat sangat menikmati setiap lomba yang jarang mereka temui, karena digeser oleh permainan digital.
“Seru, Bu! Ibu bisa enggak main bentengan?” tanya seorang anak, ketika selesai lomba yang dipilihnya. Mungkin mereka berpikir permainan ini hanya ada di masa sekarang, belum ada di masa guru-gurunya masih seusia mereka.
“Menurut saya, HKS acara yang sangat positif. Banyak manfaat yang bisa diraih, antara lain membangun kekompakan antar kelas. Saling mengenal dan memotivasi lintas angkatan, karena melibatkan siswa antar angkatan,” ungkap Indi Rahayu, ibunya Muhammad Alfatih Taqiyuddin kelas 1E.
HKS melatih mental para siswa agar tangguh dalam kondisi apa pun. Mereka dilatih untuk mampu bersosialisasi, bekerja sama dan menerima hasil dari usaha mereka. Slogan HKS: Menang Bersyukur, Kalah Bersabar, sudah tersimpan dalam benak mereka.
“Ana belum juara, tapi sedang merintis untuk jadi juara,” jawab Marchelo Sugiharto, siswa kelas 6D, yang berlapang dada dengan hasil lomba yang diikuti. Membuktikan mereka berhasil mengalahkan rasa kecewa dengan bersabar. Karena untuk itulah tujuan lomba dibuat, menyiapkan mereka menjadi juara sejati sesuai dengan slogan SDIT Insantama: Sekolah Para Juara.
HKS juga mengajarkan para siswa untuk senantiasa berjuang menggapai hasil terbaik, tidak mudah menyerah menghadapi setiap kesulitan dan tantangan.
“Ana menang, Bu,” ungkap Adela Aura Putri Prawira yang mengikuti lomba tarik tambang. Wajahnya tampak memerah karena mengerahkan seluruh energi yang dimilikinya untuk menarik tambang bersama timnya.
Ucapan, “Alhamdulillah, ya Allah…” terlontar spontan ketika tambang yang ditarik timnya berhasil melewati garis batas yang ditentukan. Mereka paham, butuh upaya yang besar dalam lomba ini, tak sekedar kekuatan fisik namun dibutuhkan koordinasi dan kerja sama tim yang solid untuk mencapai kemenangan.[] Beti Nurbaeti








