Aroma bawang putih, daun seledri, dan kuah kaldu menguar ke udara sejak pagi, membuat siapa pun yang lewat otomatis menelan ludah, Jumat pagi (8/5/2026) di lapangan SDIT Insantama. Pasalnya, pagi itu lokasi tempat siswa biasa main bola menjelma menjadi dapur besar bakso kuah.
Memasak bakso kuah ramai-ramai tersebut sebagai bagian dari kegiatan Ekspresi Memasak Ke-2. Dan seperti biasa, anak-anak datang bukan hanya membawa alat tulis dan tumbler, tapi juga membawa modal utama seorang koki pemula dengan semangat penuh.
Di lingkaran-lingkaran kelompok praktik, siswa berjajar mengelilingi daging sapi giling yang sudah dicampur tepung tapioka, telur, hingga bumbu dapur berjajar rapi seperti pasukan yang siap perang. Para siswa berdiri mengelilingi baskom adonan dengan ekspresi serius, seolah sedang meracik resep rahasia ‘Krabby Patty Tuan Crab’.
Namun teori dan praktik memang sering tidak akurat. Ada yang terlalu bersemangat mengaduk sampai adonannya mental ke mana-mana. Ada yang sibuk memenuhi kuah setiap tiga menit dengan alasan quality control. Bahkan ada yang baru pertama kali tahu kalau membuat bakso ternyata tidak terus menekan tombol checkout di aplikasi makanan online.
Tragedi Bakso Bentuk Alien
“Bu, bakso yang ana bikin enggak jelas bentuknya, kayak kepala alien,” ucap Ahna sambil nyengir.
Ini adalah bagian paling dramatis tentu saja saat sesi membentuk bakso. Di sini semangat anak-anak diuji. Karena ternyata membulatkan adonan bakso itu jauh lebih sulit daripada membulatkan tekad untuk bangun shalat Tahajjud.
Ada bakso yang bentuknya lonjong seperti telur dinosaurus, ada yang gepeng menyerupai batu sungai, bahkan ada yang ukurannya sebesar bola tenis karena tangan sang pembuat terlalu optimis. Namun mereka tetap semangat mengantre untuk mencetak bakso di sekitar panci.
Guru pendamping berkeliling sambil menahan senyum melihat hasil karya yang bentuknya lebih cocok dipamerkan di pelajaran seni rupa daripada dimasukkan ke kuah bakso.
“Tangan dibulatkan, dipencet perlahan,” ujar salah satu guru dengan sabar, sementara seorang siswa tetap menghasilkan bakso yang bentuknya mirip asteroid. Namun justru di situlah serunya. Karena dunia memasak bukan tentang kesempurnaan bentuk, melainkan keberanian mencoba dan tahan mental ketika bakso buatan sendiri lebih mirip bola penyok.
Dan ketika bakso matang mulai mengapung di permukaan panci, suasana langsung berubah drastis. Anak-anak menampilkan seolah-olah baru memenangkan kompetisi Master Chef Junior tingkat Asia Tenggara.
Akhirnya bakso pun dinikmati bersama. “MasyaAllah enak banget Bu baksonya, ngalahin bakso langganan ana di rumah”, kata Nabila.
“Bener, bener, Bu, baksonya lembut, enak banget,” timpal Aleena.
Di balik kuah hangat dan bakso kenyal itu, ada pelajaran sederhana yang sedang dimasak bersama. Anak-anak belajar bekerja sama, belajar sabar menunggu adonan bakso matang, belajar bahwa gagal membentuk bakso bukan akhir dunia, dan belajar bahwa makanan paling nikmat sering lahir dari proses yang lama dan penuh perjuangan.[] Siti Sobiah







