Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan doa-doa mengalun rapi dari barisan siswa yang berdiri dengan tertib di teras dan di lapangan. Suasana tersebut menghadirkan ketenangan yang sulit digambarkan, seolah pagi diawali dengan “sarapan” yang menyejukkan jiwa. Para guru Qiraati tampak sigap mengawali kegiatan. Suatu saat di lapangan, sementara yang lain sedang menyisir kelas untuk memastikan seluruh siswa ikut serta.
Bu Rusimiati dan Bu Lia Erika menjadi garda terdepan dalam pengawasan. Dengan suara khasnya, Bu Rusi mengajak siswa, “Silahkan ke bawah, ikuti klasikal dulu,” ujarnya, Selasa (12/5/2026). Pengawalan yang konsisten ini menjadi bagian dari ikhtiar agar target pembelajaran tercapai secara optimal. Waktunya hanya 15 menit, mulai dari 07.00-07.15.
Penanggung jawab KBM Qiraati, Bu Ratu Dewi, menjelaskan mekanisme kegiatan tersebut. “Drill klasikal 15 menit dimulai setiap pagi hari Selasa sampai Kamis. Ananda menghafal materi penunjang yaitu surat pendek, doa harian, dan doa seputar salat secara bersama-sama sebelum KBM Qiraati dimulai agar ananda lebih lancar menghafal materi lanjutannya,” jelasnya.
Pentingnya pengulangan hafalan bukan tanpa dasar. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa hafalan Al-Qur’an lebih cepat lepas dibandingkan unta yang tidak terikat. Artinya, tanpa murajaah yang rutin, hafalan akan mudah hilang. Dalam perspektif pendidikan, teori pengulangan (repetition) juga menegaskan, informasi yang sering diulang akan lebih kuat tersimpan dalam ingatan jangka panjang.
Manfaat kegiatan ini dirasakan langsung oleh siswa. Ahma, siswa kelas 3B, mengungkapkan, “Ana jadi ingat terus hafalannya, yang lupa jadi ingat lagi walau kaki ana pegel,” katanya sambil tersenyum ceria.[] Siti Sobiah








