Gelembung, lava warna-warni, dan sorak gembira memenuhi lapangan depan kelas saat para siswa kelas 6 SDIT Insantama melihat miniatur gunung meletus yang mereka buat sendiri. Masing-masing kelompok menuangkan larutan cuka ke puncak gunung yang telah diisi baking soda dan pewarna merah. Reaksi kimia yang menakjubkan ini membuat anak-anak bersorak, takjub, dan penuh antusiasme. Mereka terlihat senang, terpesona, dan penasaran dengan hasil eksperimen yang nyata dan aman.
Ternyata, perjalanan menuju momen puncak ini penuh tantangan. Para siswa belajar membuat playdough dari bahan sederhana seperti tepung terigu, air, dan pewarna. Dengan penuh semangat, mereka mencampur bahan, mengaduk adonan, dan menakar komposisi yang tepat. Membuat adonan yang pas ternyata membutuhkan ketelitian, kerja keras, dan kekompakan, sekaligus mengasah motorik kasar mereka.
Kegiatan ini berlangsung pada Jumat, 24 Oktober 2025, di kelas Ekspresi Saintis. Tantangan selanjutnya adalah membentuk gunung, menghiasnya, dan menambahkan elemen kreatif seperti dinosaurus, mobil, pepohonan, dan bebatuan kecil agar gunung tampak nyata. Setiap kelompok kemudian tampil di depan juri, Sri Mellia Marinda, untuk mempresentasikan karya mereka, menjelaskan bahan, proses pembuatan, dan mekanisme gunung meletus.
Selain keseruan, anak-anak belajar konsep reaksi asam dan basa, melatih kesabaran, fokus, serta mengembangkan keterampilan berpikir ilmiah. Kegiatan ini membuktikan bahwa belajar sains bisa seru, kreatif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Inspirasi kegiatan ini datang dari sosok ilmuwan Muslim, Al-Biruni, yang banyak meneliti tentang bumi dan fenomena alam. Semangat ilmiahnya berpadu dengan keimanan, menjadikan penelitiannya bermanfaat bagi peradaban. Seperti Al-Biruni, para siswa diharapkan tumbuh menjadi ilmuwan muda yang tekun, rasa ingin tahunya tinggi, dan selalu melihat kebesaran Allah dalam setiap penemuan.
Mengutip firman Allah dalam surah an-Naba’ ayat 7:
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak?”
Melalui eksperimen Gunung Mini, Ilmu Besar, anak-anak belajar bukan hanya tentang sains, tetapi juga tentang keagungan ciptaan Allah.[] Ade Willy Surtinih







