Seekor lele melompat liar dari genggaman mungil yang masuk ke dalam galon yang dimodifikasi jadi kolam mini itu. Air muncrat, seragam basah, dan tawa pun pecah bersamaan. Tak ada yang menyangka, dari galon bekas yang biasa dibuang, justru lahir jeritan geli, keberanian kecil, dan pelajaran besar.
Suasana riuh itu pecah pada Jumat, 17 Oktober 2025, di halaman SDIT Insantama, saat siswa kelas 2 mengikuti ekspresi Farming yang berbeda dari biasanya: beternak lele di galon bekas.
Usai menunaikan shalat Dhuha dua rakaat, anak-anak berkumpul mengelilingi galon-galon modif tersebut. Wajah mereka memancarkan rasa penasaran. Hari itu mereka tidak menanam sayuran seperti biasanya. Mereka belajar merawat makhluk hidup secara langsung. Menyentuh, memindahkan, dan bertanggung jawab atasnya.
Sebelum praktik dimulai, guru menjelaskan alasan memilih lele. Ikan ini mudah dirawat, cepat tumbuh, dan kaya gizi; mengandung protein hewani, omega-3, vitamin B12, serta zat besi yang penting bagi pertumbuhan dan kecerdasan.
Galon-galon bekas dilubangi di beberapa sisi agar sirkulasi udara terjaga. Air diisi secukupnya. Bibit lele dimasukkan perlahan. Saat tiba waktunya menangkap dan memindahkan lele dengan tangan kosong, suasana kembali riuh.
“Aaaw… geli, Bu!”
“Pegang yang kuat!”
Ada yang ragu-ragu, ada yang terlalu bersemangat hingga air terciprat ke mana-mana. Namun guru terus mengingatkan, “Pelan-pelan… pegangnya lembut. Itu makhluk hidup.”
Di situlah pelajaran bermakna mulai dipetik. Anak-anak belajar bahwa keberanian tidak identik dengan kasar, dan semangat tidak berarti sembarangan. Tangan kecil yang semula takut mulai terbiasa. Mereka belajar bertanggung jawab atas makhluk yang kini berada dalam perawatan mereka.
Di akhir kegiatan, setiap siswa membawa pulang dua ekor lele dalam kantong plastik kecil. Tugas mereka belum selesai. Di rumah, mereka harus mengamati pertumbuhannya. Mulai dari bagaimana lele makan, seberapa cepat membesar, dan bagaimana merawatnya hingga siap dikonsumsi. Proses itu menuntut ketelatenan dan konsistensi.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari gerakan zero waste di sekolah. Galon bekas yang nyaris terbuang berubah fungsi menjadi kolam produktif. Dari sesuatu yang sederhana, tercipta ruang belajar yang nyata dan membumi.
Dari galon sederhana itu, bukan hanya lele yang tumbuh. Anak-anak pun memetik pelajaran bermakna tentang tanggung jawab, kepedulian, ketelatenan, bahkan benih kewirausahaan. Mungkin hari ini mereka hanya tertawa karena geli. Namun pengalaman kecil itu sebenarnya sedang membentuk karakter yang kelak akan mereka bawa sepanjang hidup.
Karena terkadang, pelajaran bermakna tidak datang dari buku yang tebal, melainkan dari keberanian kecil untuk memegang lele pertama kalinya dan tidak melepaskannya sebelum tugas selesai.[] Siti Sobiah







