Para siswa kelas 3 SDIT Insantama langsung girang begitu tiba di Pesantren an-Nur Pamijahan. Mereka berlarian ke halaman masjid, menatap pohon-pohon rindang, dan tak sabar ingin merasakan suasana santri sesungguhnya. 163 anak ikut mabit ini bukan sekadar untuk menginap, tetapi untuk belajar hidup sederhana, dekat Al-Qur’an, dan berdisiplin. Kegiatan ini berlangsung pada 19–20 November 2025.
Suasana makin hangat saat lantunan nasyid gubahan Pak Ibnu menggema di pelataran masjid. “Kami ingin dekat dengan Al-Qur’an. Kami ingin taat, menjauhi maksiat. Kami ingin jadi anak yang shalih, seperti kakak-kakak santri di sini.” Lantunan sederhana itu langsung membuat hati anak-anak bergetar dan semangat belajar.
Sambutan Hangat Pesantren MeWah
Penerimaan oleh KH Mumuh Muhyidin sangat hangat dan bersahaja. “Selamat datang di pesantren MeWah [Mepet Sawah], anak-anak shalih-shalihah,” ujarnya sambil tersenyum.
Para siswa pun berkenalan dengan kiai, ibu nyai, serta para santri, sambil menyesuaikan diri dengan suasana pesantren. Begitu adzan berkumandang, anak-anak ikhwan berduyun-duyun menuju masjid memakai sarung, koko, dan kopiah. Seketika vibes santri terasa nyata!
Shalat berjamaah kemudian diikuti murajaah Al-Qur’an surah an-Naba yang dipimpin kakak-kakak santri. Setelah shalat, halaman masjid dipenuhi suara lantunan Al-Qur’an. Kedekatan para santri dengan kalamullah benar-benar menyentuh hati siswa Insantama.
Belajar Upaya Langit dan Upaya Bumi
Salah satu pengalaman paling seru datang dari Pak Marsambas, yang mengajarkan tiga doa penting saat tiba di lokasi mabit: memohon perlindungan dari gangguan makhluk lain; memohon kesehatan; dan memohon agar hujan tidak turun tepat di lokasi kegiatan.
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, dan janganlah hujan di atas kami.” Karena Bogor sedang diguyur hujan hampir tiap hari, doa ini terasa sangat nyata.
Ajaibnya, langit yang awalnya gelap menahan hujannya, “Masyaallah, doa orang-orang shalih makbul,” ucap seorang guru takjub.
Selain doa, anak-anak juga belajar manajemen risiko. Contohnya: lokasi dekat sungai diawasi ekstra; jalan pematang sawah yang licin dilalui berkelompok dengan pendamping; dan area gelap di malam hari diberi penerangan tambahan dan larangan keluar sendiri.
“Manajemen risiko penting agar belajar tetap aman,” jelas Pak Ayung, KPMU. Orang tua pun tenang karena anak-anak dijaga dengan maksimal.
Pentas Seni
Malam hari, bagian paling meriah dimulai: pentas seni siswa dan santri, dikemas cantik oleh Bu Ida. Ada pildacil, nasyid, marawis, pantun, hingga puisi.
“Mabit kali ini paling ceria. Ini membuktikan pesantren adalah tempat belajar yang mengasyikkan, bukan ditakuti,” kata Pak Yusuf saat membuka acara.
Suasana malam itu penuh tawa, kekaguman, dan interaksi hangat. Anak-anak belajar bahwa kebaikan bisa muncul dari seni, musik, dan kebersamaan, bukan hanya dari serius-serius saja.
Sinergi yang Menghadirkan Keberkahan
Mabit ini berjalan aman, ceria, dan penuh keberkahan berkat sinergi: manajemen sekolah yang sigap, arahan teknis dari Pak Agus sangat membantu; para guru/PAK yang mendampingi siswa sepenuh hati; dan panitia yang bekerja solid sejak persiapan hingga penutupan.
Mabit sehari memang singkat, tetapi nilai yang ditanamkan bisa menetap panjang: hidup sederhana, dekat Al-Qur’an, disiplin ibadah, dan menjadi anak shalih-shalihah. Itulah ruh pendidikan Insantama.[] Siti Sobiah







