Yuk, Daftarkan Ananda di SIT Insantama
Daftarkan putra-putri Ayah Bunda di SDIT-SMPIT-SMAIT Insantama, Sekolah Para Juara dan Calon Pemimpin. Hadir di 24 kota di Indonesia.
Daftar SPMB

Mencari Ismail dalam Diri Kita

Di sebuah lembah yang gersang dan sunyi, seorang ibu muda berdiri bersama bayinya yang masih menyusu. Tidak ada air, tidak ada kehidupan, tidak ada kepastian. Kecuali satu: perintah Allah yang dijalankan tanpa ragu oleh Nabi Ibrahim.

Berkali-kali Siti Hajar bertanya, “Apakah ini perintah Allah?”
Hingga ketika kepastian itu datang, ia hanya menjawab tenang: jika ini dari Allah, maka Dia tidak akan menyia-nyiakan mereka.

Dari keteguhan itulah sejarah Dzulhijjah dimulai. Tentang iman yang tidak bersandar pada keadaan, tetapi pada ketaatan.

Puncak Cinta yang Diuji

Bertahun-tahun kemudian, ketika Ismail yang lama dinanti akhirnya hadir, datang pula ujian yang jauh lebih berat: perintah untuk menyembelihnya.

Namun yang paling menggetarkan bukan perintah itu, melainkan jawaban sang anak. Dengan tenang ia berkata, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah. Engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Di titik itu, hubungan ayah dan anak tidak lagi berdiri di atas rasa kepemilikan, tetapi sepenuhnya tunduk pada satu otoritas: perintah Allah.

Kisah ini kembali dihadirkan dalam khutbah Jum’at di Masjid Pendidikan Insantama (MPI), 6 Dzulhijjah 1447 H, 22 Mei 2026, oleh Ketua Yayasan Insantama Cendekia (YIC) Ustadz Muhammad Ismail Yusanto, yang kemudian mengajukan satu pertanyaan yang mengguncang kesadaran: “Apa Ismail kita?”

Apa yang Paling Kita Cintai

Ismail, jelasnya dalam khutbah, bukan sekadar nama. Ia adalah simbol dari apa pun yang paling dicintai manusia yang bisa berubah menjadi penghalang ketaatan.

Bisa harta, jabatan, keluarga, kenyamanan, bahkan ideologi yang tidak bersumber dari wahyu. Ketika semua itu lebih ditaati daripada perintah Allah, di situlah “Ismail” itu berada.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa sebagian manusia menjadikan selain Allah sebagai tandingan yang dicintai seperti mencintai Allah (QS. Al-Baqarah: 165). Di titik itulah ujian ketaatan menjadi nyata.

Jawaban Ibrahim

“Nabi Ibrahim telah menjawabnya jauh sebelum pertanyaan itu kita ajukan hari ini,” terangnya.

Setelah puluhan tahun menanti, justru di puncak cintanya, ia diperintahkan untuk melepaskan.

Dan ia tidak menunda. Tidak mencari alasan. Tidak ragu.

Sebab bagi Ibrahim, ketaatan tidak menunggu keadaan menjadi mudah. Ia berhenti pada satu keyakinan: Allah tidak mungkin menzalimi hamba-Nya.

Ujian yang Selalu Dekat

Hidup manusia, demikian khutbah itu menegaskan, selalu berada dalam tarik-menarik antara ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada selain-Nya. Dan ujian itu sering hadir justru dari hal yang paling dekat dengan diri kita sendiri.

Maka Idul Adha, haji, dan jejak pengorbanan Ibrahim bukan sekadar ritual tahunan. Namun undangan untuk jujur: apa yang sebenarnya kita cintai, dan sejauh mana kita siap melepaskannya ketika Allah memanggil.

Sebab “Ismail” tidak selalu tampak sebagai sesuatu yang buruk. Ia justru sering hadir sebagai sesuatu yang paling kita sayangi.

Dan di situlah ujian itu benar-benar dimulai.[] Maseko

Baca lainnya

Mencari Ismail dalam Diri Kita

Di sebuah lembah yang gersang dan sunyi, seorang ibu muda berdiri bersama bayinya yang masih menyusu. Tidak ada air, tidak ada kehidupan, tidak ada kepastian.…